0

MENAPAK SARANA : JALAN PARA ANBIYA

MUHAMMAD AL ABDAH

 

            Dalam kesengsaraan dorongan sentimentil, dasyatnya berbagai peristiwa dan bacaan bacaan kosong, kaum muslimin pura-pura lupa atau pura-pura tidak mengerti tentang sunnah perubahan yang telah Allah tetapkan dalam kitabNya dan diberlakukan melalui lisan RasulNya. Bahkan, sebagian sunah tersebut telah dibuktikan oleh menusia melalui pengalaman panjang dengan penuh renungan. Diantara sunah-sunah tersebut adalah bahwa jika ingin berhasil dalam da'wah yang benar harus memiliki kekuatan yang mendukung dan menolongnya. Kekuatan yang berupa tenaga besar yang terhimpun dalam satu tujuan yang tegas dan terbatas, atau yang dalam istilah Ibnu Khaldun harus memiliki ashabiah yang berarti kerapatan barisan, keanggotaan dan dukungan untuk merealisasikan satu tujuan tertentu. Kalimat ashabiah bukanlah kalimat buruk. Jika dahulu, organisasi berasaskan kabilah dan kesukuan, maka di zaman modern, organisasi berasaskan unsur-unsur sosial. Mereka berkumpul di sekeliling para ulama fuqoha yang dengan kefaqihan  dan pemikirannya, mereka memahami sunah perubahan, peristiwa sosial dan pengaruhnya, khususnya ikatan-ikatan yang menyelimuti masa kita ini.

            Inilah kekuatan dan daya yang luput diraih oleh Nabiyullah Luth , saat beliau berkata :

قَالَ لَوْأَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ ءَاوِي إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ

Luth berkata:"Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)". (QS. 11:80)

Maka Rasulullah r bersabda:

رحم الله لوطا كان يأوي  إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ و ما بعث إليه بعده نبيا إلا و هو في ثروة من قومه

" Semoga Allah memberi rahmat kepada Luth yang dahulu berlindung kepada kekuatan yang kuat. Tidak ada satu nabipun setelah beliau kecuali dia ada dalam perlindungan kaumnya".(Shahih Al Jami` Ash Shaghir : 3/176)

            Imam Al Juwaini berkata: " Allah tidak mengutus seorang nabipun untuk umat-umat yang lalu, sampai Dia mendukung dan memperkuatnya dengan sulthan yang memiliki kualitas dan kuantitas. Diantara rasul-rasul itu, terdapat mereka yang menghimpun kenabian, kekuasaan dan ke kuatan seperti Daud, Musa dan Sulaiman Shalawatullah alaihim ajmain" (Ghiyats Al Umam : 182)

            Jika dahulu para nabi didukung oleh (perlindungan dari kaumnya) yaitu kekuatan dan pertahanan, baik kuantitas maupun kualitas, padahal di samping itupun mereka diperkuat oleh mu'jizat dan hal-hal di luar adat. Maka, bagaimana dengan orang-orang selain mereka yang meneriakan perubahan puluhan atau ratusan kali? Mereka hanya megatakan : Kami bertawakal saja kepada Allah.  Tak perlu ragu, seorang muslim wajib memohon pertolongan dari Allah dan bertaqwa hanya kepadaNya, dan Allah sendiri berjanji memenangkan kaum muslimin, akan tetapi wajib baginya meraih sebab-sebab syar'i yang di antaranya adalah menghimpun kekuatan yang akan menjadi penolong dan pendukungnya.

            Sudahkah  ini kita pelajari dengan seksama dan utama? Ataukah slogan (kita hanya bekerja, hasilnya hanya Allah yang tahu) sudah menjadi sesuatu fatamorgana yang lebih kita terima?. Walaupun secara zhohir kita akui kalimat itu adalah kalimat benar yang digunakan bukan pada tempatnya. Perkataan “kita hanya bekerja” wajib untuk diteliti, karena, apakah engkau tahu bahwa amalmu itu benar sesuai dengan sebab-sebabnya? Ya, jika pengerahan maksimal yang benar telah dilakukan, hasilnya kita serahkan kepada Allah. Akan tetapi, jika ia bekerja apa saja dan bagaimana saja, lalu dia mengatakan ( hasilnya kita serahkan kepada Allah ) maka ini termasuk sikap bermalas-malasan. Walaupun sampai-sampai kita istirahatkan jiwa kita dari cacian dan hinaan, dan dari berbagai kritik, serta seandainya kita memenuhi keikhlasanpun dalam beramal ini, semuanya tidak berarti cukup, karena kita diharuskan mengetahui sunatullah dalam perubahan.

 







Profile

“ Haji/Hajjah eko agus ini masih belum mau dikenal orang, mungkin masih malu. “ More About me

BlogRoll
Tag
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 145.126 kali


connect with ABATASA