0
Dikirim pada 18 Juli 2009 di Ayah, Ibu Inilah Aku..

 Haruskah Aku Bunuh Diri Berkali-kali? (1)

 

Sejenak kuhentikan langkahku. Mengambil nafas, memandang sedikit mendongak ke dinding di seberang bordes tempat aku berdiri. Sebuah papan kecil di sana mengatakan padaku bahwa aku berada di lantai enam setengah. Tidak…. sebenarnya di sana tertulis angka tujuh. Tapi aku perlu naik beberapa anak tangga lagi untuk sampai di lantai tujuh.

Sambil menapak selangkah demi selangkah aku berpikir lagi, apakah tujuh lantai sudah cukup tinggi. Aku tidak pernah olahraga sama sekali. Bahkan hampir tidak pernah jalan kaki kecuali di sekitar rumah, atau dari ruang ke ruang di tempat aku bekerja. Menaiki tangga sejauh ini membuat dadaku panas, kepalaku hampir meledak, dan sendi lututku seakan mau lepas. Tapi aku terus melangkah.

Tujuh.

Aku mencoba mengingat lagi, apa saja yang ada di lantai ini. Ball room dan tempat area parkir. Sempurna. Di lantai delapan ada sebuah diskotik dan arena bowling. Bukan tempat yang tepat.

Aku berbelok ke kanan dan masuk ke area parkir. Sambil berjalan melewati tiga mobil aku melihat ke arah lift. Sebenarnya bisa saja aku naik benda itu dan tidak menyiksa tubuhku. Tapi aku memilih lewat tangga, karena aku tidak ingin bertemu siapa-siapa.

Di balik sebuah kolom aku diam sebentar. Sebuah sedan biru masuk. Si tukang parkir tetap menjalankan tugasnya memandu, meskipun area parkir sedang hampir kosong. Kulirik jam tanganku. Jam 08.17. Mobil-mobil di sini milik para pekerja di gedung ini, kurasa. Parkiran baru akan ramai nanti di atas jam 10, setelah toko-toko di lantai satu sampai lima buka.

Seorang gadis muda keluar dari mobil itu. Hmm… kebanyakan perempuan memang payah soal parking. Tidak heran si tukang parkir tetap membantunya, daripada terjadi apa-apa. Aku menunggu beberapa saat lagi sampai mereka pergi, lalu mengambil langkah ke kiri.

Baru kusadari bahwa aku berada di bagian timur gedung ini. Sinar matahari menyilaukanku ketika aku menyeberangi area parkir luar. Bagian ini adalah pilihan terakhir mereka yang ingin memarkirkan mobil, ketika tempat parkir di dalam gedung sudah habis. Dan tentu saja, sekarang kosong.

Aku memlih berhenti agak ke bagian depan gedung agar tak terlalu silau tepat menghadap matahari. Tetap saja sesaat aku memejamkan mataku. Rasanya ada kembang api memercik-mercik di kepalaku. Aku berpegang pada dinding pengaman setinggi dada. Kedua kakiku masih berdenyut-denyut setelah kupaksa bekerja dengan beban melebihi biasanya. Perlahan, aku memanjat naik dan berdiri di dinding pengaman itu.

Kalau aku tidak salah, dua atau tiga lantai di bawah tempat aku berdiri ini ada sebuah restauran, dengan ‘no smoking area’ berupa teras menghadap ke persimpangan jalan. Kubuka mata dan bisa kulihat jalanan yang tidak terlalu padat lagi. Para pengendara telah menurunkan anak-anak mereka di depan gerbang sekolah mereka. Lalu mereka sendiri kembali pulang, atau telah sampai di tempat mereka bekerja.

Aku pernah berdiri di tempat ini beberapa waktu yang lalu. Cukup lama, mungkin hampir setahun yang lalu. Waktu itu malam hari. Anginnya kencang, seolah kuat menerbangkanku. Dan dingin seolah sanggup menusuk tulangku. Heran, kali ini tidak ada angin sama sekali. Peluhku mulai mengalir karena hangat panas sinar matahari.

 



Dikirim pada 18 Juli 2009 di Ayah, Ibu Inilah Aku..
comments powered by Disqus
Profile

“ Haji/Hajjah eko agus ini masih belum mau dikenal orang, mungkin masih malu. “ More About me

BlogRoll
Tag
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 145.137 kali


connect with ABATASA