0


Antara Aku, Ayah, dan Masa Laluku…

Sejak kecil, aku nggak pernah merasa dekat dengan orangtua, terutama ayahku. Aku nggak pernah tahu kesibukan beliau apa saja selain tentunya menjadi seorang perwira menengah di Angkatan Darat. Aku lebih sering bergaul dengan anak-anak sebayaku di luar rumah ketimbang membetahkan diri untuk diam di dalam rumah.
Saat aku duduk di bangku SD, tepatnya di kelas 4 sebuah SD di bilangan Jakarta Pusat, orangtuaku mendadak sering bertengkar. Aku nggak paham. Pikirku saat itu, “Ah, kebiasaan orang dewasaâ€‌. Pertengkaran itu terus berlanjut, bahkan membesar. Hingga aku kelas 6 SD, aku nggak peduli. Sampai di satuآ saat, setelah aku dan ayah jalan-jalan ke Taman Puring (satu kawasan belanja di Jakarta Selatan-red.), ayah mengajakku mampir ke sebuah rumah yangآ aku nggak tahu pemiliknya. Setelah kami masuk, barulah aku tahu siapa pemiliknya. Ayah memperkenalkannya sebagai Tante Mira. Masa bodoh aku saat itu.
Waktu terus berlalu, sementara kecekcokan antara kedua orangtuaku tak ada habisnya. Sedikit-sedikit, aku mulai ingin mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. setelah mengorek informasi dari ibu, kakak-kakak, dan keluarga lainnya, aku baru tahu kalau ayah punya istri simpanan. Ya, Tante Mira! Tak bisa lagi terlukiskan kegeramanku saat itu. Ingin rasanya mendatangi rumah si Tante centil itu dan menghajarnya habis-habisan. Tapi sayang, waktu yang berlalu telah menenggelamkan ingatan itu, jauh ke dasar otakku.
Aku cuma ingat, saat aku main-main dengan kawan SMP (saat itu aku kelas 3 SMP), aku melihat ayah, seorang wanita dan seorang anak perempuan kecil sedang makan di sebuah restoran fastfood di Kelapa Gading. Aku tahan dalam-dalam amarah itu, hingga saat kami berkumpul di rumah, tak terbayang lagi apa yang terjadi saat itu. Kudatangi ayah dengan nada tinggi, menanyakan siapa wanita yang kulihat bersamanya tadi siang, juga anak perempuan kecilnya. Ayah mengelak. Bahkan ayah menciumku dengan sendalnya. Mulai saat itulah aku makin jauh dengan rumah. Hari-hari kuhabiskan di jalanan daerah Pocol-Pasar Senen-Tanah Tinggi, Jakarta Pusat bersama kawan-kawan jalananku.
Hingga saat itu, aku hanya berpikir kalau ayahku itu hobi selingkuh. Tapi ternyata anggapanku salah. Saat aku duduk di kursi SMA, ibu membocorkan rahasia kalau ayah memang hobi mengkoleksi wanita. Bahkan kata ibu, ibu sendiri nggak tahu persis berapa jumlah resmi istri-istrinya, dan berapa jumlah “selirâ€‌nya. Aku nggak begitu percaya hingga aku kroscek ke beberapa orang lainnya, barulah aku percaya. Bahkan kalau aku hitung, “istri-istriâ€‌ ayahku sekitar 9 orang.
Besar di jalan
Sejak kecil, perangaiku memang keras. Itulah yang menjadi bekalku untuk hidup di jalan. Sebenarnya aku nggak all out jadi anak jalanan sampai aku lulus kuliah. Aku masih butuh uang. Jadi, aku masih baik-baikan sama ortu. Sebenarnya aku sekolah pun hanya formalitas saja. Aku sering bolos, mabuk di kelas, berkelahi dengan sesama siswa bakan dengan guru. Termasuk kejahatan-kejahatan cetek yang “biasaâ€‌ dikerjakan anak sekolah sekarang. Dan jujur saja, aku lebih suka menyogok guru-guruku untuk naik kelas ketimbang harus belajar. But after school, aku hampir nggak pernah pulang ke rumah! Hidup di jalan, menikmati gelap, redup, dan cerahnya dunia dan larut di dalamnya.
Hidup di jalan pun nggak membuat aku jadi lebih baik. Jalanan justru membawaku beberapa kali menginap di tahanan polisi. Bahkan dua kali masuk ke LP Cipinang dengan berbagai macam kasus yang berbeda. Dari mulai narkoba, premanisme, hingga pembunuhan.
Waktu aku pertama kali dijebloskan ke penjara Cipinang, ayah masih mau menolongku. Satu kali bahkan ia merelakan kesempatannya untuk naik pangkat demi mengeluarkanku. Tapi sayang, untung tak bisa didapat, malang tak bisa dicegah. Aku kembali ke jalan, dan “berpakaianâ€‌ seperti sebelumnya. Saat itulah orangtuaku mulai acuh denganku. Dan aku pun sama dengan orangtuaku, aku mulai membenci mereka, terutama ayah. Bahkan satu perkataan ayah yang paling membuatku kesal saat itu, “Gue udah ngelahirin lo, gue juga udah masukin lo sekolah ama pengajian biar lo pinter, sekarang gue tinggal nunggu kapan lo nikah dan kapan lo mati. Kalo lo masuk penjara lagi, itu sih masa bodo!â€‌آ آ kesal rasanya saat itu, bahkan hampir saja kutebas leher ayah dengan sebilah clurit. Untung saja ada ibu yang melerai.
Sampai akhirnya aku mendekam dua tahun 8 bulan di Cipinang akibat membunuh seorang preman, ayah nggak pernah menjengukku. Inilah salahsatunya yang membuatku akhirnya nggak peduli pada ayah. Selepas dari LP pun aku nggak langsung menginjakkan kaki ke rumah. Aku ke jalan, terus di jalan, bahkan cari makan di jalan. Kerja apa saja. Dari ngamen, tukang parkir, sampai pernah juga jadi kuli harian percetakan.
Menyingkir dari Jakarta
Dua tahun selepas dari LP, aku mulai bosan tinggal di Ibukota. Aku pun pindah ke sebuah daerah di pinggiran Jakarta (masuk wilayah Kabupaten Bogor, sih). Aku di sana bekerja pada sebuah perusahaan konstruksi pabrik. Biasa, jadi kuli lagi! Tapi aku cuek saja. Nggak peduli kalau aku seorang sarjana teknik sipil. Di tempat baru ini, hobi burukku kayak mabuk, judi, tetap nggak hilang. Hingga satu ketika, aku kehabisan uang. Kondisiku pun super parah. Sakaw abis, ketagihan judi, pokoknya ancur, deh!
Saat itu aku kepikir nyari uang (lagi-lagi) dengan cara yang tidak baik. Aku berniat merampok sebuah toko milik pak haji, tetangga dan bapak kosku sendiri. Pikiranku sudah sangat kacau waktu itu. Dengan nekat, aku pun melancarkan aksiku bertiga bareng kawan-kawan error-ku. Saat itulah Allah menolongku. Saat aksiku berlangsung, kami kepergok polisi dan nggak bisa kabur. Sekali lagi, aku masuk tahanan polisi. Tapi Allah Mahapengasih dan Mahapenyayang. Saat itu, Pak haji, yang jadi korban, nggak mau memperluas masalah. Dia mengerti keadaanku waktu itu, dan memilih menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan.
Peristiwa itu, dan kebaikan hati Pak haji telah membukakan hatiku dan jadi titik tolak perubahan dalam hidupku. Aku pun mulai bertekad untuk tidak mengulangi segala kebejatanku dan aku pun tak akan sudi jika anak-anakku kelak meniru kelakuan bejat bapak dan kakeknya. Pak haji bukan cuma memafkanku. Setelah kejadian itu, beliau justru mempercayakan sebuah usahanya untuk kukelola, dan memberikan tempat tinggal gratis buatku.
Sobat, masa laluku biarlah berlalu. Kini, aku hanya ingin memperbaiki hidupku dengan Islam yang kأffah dan menjadi muslim yang sebenarnya. Aku sekarang mulai lagi berkenalan dengan Islam dengan mengaji. Kuharap, cukup aku saja yang merasakan kelamnya masa lalu itu. [seperti yang diceritakan supri pada munir]

Dikirim pada 10 Agustus 2009 di Ayah, Ibu Inilah Aku..
30 Jul

Calon Istri Seorang Lelaki


Seorang teman pernah mengatakan, kriteria calon isterinya: shalihah, cerdas, kaya dan cantik. Sebuah hadist juga mengemukakan, seorang perempuan dipinang karena kecantikannya, hartanya dan keturunannya. Tapi pinanglah perempuan karena keshalihannya. Itu yang utama. Saya sepakat dengan hadist tersebut. Perempuan yang shalihah, insya Allah cerdas. Ketika seorang perempuan cerdas, harta bisa dicari. Bila harta sudah di tangan, kecantikan bisa dibeli. Pilih satu, dapat tiga.

Namun, bila kita tinjau ulang, pemikiran akan kriteria calon isteri tersebut cenderung egois. Tidak memandang dari banyak sisi. Hanya memandang pernikahan dari segi manfaat untuk diri sendiri. Tidak untuk keluarga, sahabat dan lingkungan sekitar. Padahal menikah adalah penyatuan dua organisasi besar; keluarga, membentuk organisasi baru. Banyak pihak yang bisa terpengaruh dan mempengaruhi pra dan pasca pernikahan.

Jika kita berkaca, mengevaluasi. Melihat, mencari kelebihan dan kekurangan diri. Niscaya kita akan menemukan berbagai fakta; kita juga punya banyak kekurangan. Lalu, pantaskan bersibuk ria dengan segala macam kriteria? Sedang diri sendiri mungkin tak bisa memenuhi segala kriteria impian oleh calon pasangan. Seseorang berharap mendapat perempuan shalihah, namun apakah dia cukup shalih untuk berdampingan dengan perempuan shalihah. Ia ingin perempuan cerdas, tapi apakah ia cukup cerdas untuk mengimbangi kecerdasannya? Ia ingin perempuan berharta, tapi seberapa banyak harta yang dapat dia berikan, untuk ‘membeli’ sang calon dari ayah-bundanya. Dan ketika ia ingin perempuan cantik, apakah ia sendiri cukup gagah, tidak jomplang, saat bersisian dengannya? Tidakkah keinginan si lelaki terlalu berlebih?

Dari kisah cinta para Nabi, sahabat dan para syuhada, ada sejumlah fakta: tangan Allah selalu bermain. Kisah cinta Muhammad-Khadijah, Yusuf-Zulaikha hanyalah sebagian kecil contoh. Keikhlasan menggenapkan separuh agama pasti akan mendapat anugerah luar biasa; seorang isteri penghuni taman surga. Segala hambatan pernikahan hanyut karena ibadah yang khusu, penghambaan yang sangat padaNya. Manusia hanya berusaha, hasilnya terserah pada Yang Kuasa.
Hendaknya seorang lelaki berusaha melihat dari banyak sisi, ketika datang seorang calon isteri padanya. Segala identitas standar bukan pertimbangan utama. Serahkan saja padaNya. Meminta petunjuk lewat shalat istikharah. Apakah perempuan itu orang yang tepat? Apakah si calon pasangan dunia akhirat? Hanya Allah yang tahu,kan?

Lelaki manapun bisa saja berharap: Semoga calon isteri yang datang padaku adalah perempuan shalihah. Bila belum shalihah, haruslah dia mengajak, meningkatkan pemahaman agama, terus memperbaiki diri. Menghiasi rumah tangga dengan amalan wajib dan sunnah. Menggapai sakinah. Semoga perempuan yang datang padaku cerdas. Jika belum cerdas, mestilah dia yang mengajar dan belajar dari pasangannya. Mencari ilmu baru, terutama ilmu rumah tangga. Tentang harta, boleh saja meminta: datangkanlah padaku calon isteri yang berharta. Tetapi ingatlah, harta adalah cobaan, tak banyak orang yang bisa tetap rendah hati, menunduk-nunduk ketika punya harta. Lagipula harta gampang dicari. Soal kecantikan, wajar lelaki normal ingin mendapatkan isteri cantik. Tetapi bukan hanya cantik lahir, batinnya juga harus cantik. Yang menjadi pertanyaan, standar apakah yang akan digunakan untuk menilai seorang perempuan cantik. Standar dunia atau standar surga? Standar dunia menekankan kecantikan maya. Mengandalkan costmetik. Kecantikan abadi, keindahan hingga akhir hayat dan di akhirat kelak, itulah yang seharusnya dicari. Terserah cantik atau tidak kata dunia, yang penting isteri bisa selalu menarik di mata, di hati. Menjadi telaga sejuk, pohon teduh di terik siang. Standar cantik ini sifatnya personal. Orang lain memandang biasa, tapi luar biasa menurut sang suami.

Perempuan manapun yang datang pada seorang lelaki, sudah sepatutnya ia melepas kacamata kekinian. Menggunakan kacamata masa depan dan kacamata banyak orang untuk menilai. Mungkin banyak keindahan calon pasangan yang sengaja disimpan olehNya. Allah ingin mengujinya, apakah dia cukup shaleh, cukup ikhlas, cukup bersabar untuk mendapatkan pasangan sejati.

Pasti ada keraguan saat menimbang. Maka dari itulah perlunya mengetuk nurani sahabat, saudara, kakak, orang tua, mereka yang lebih berpengalaman. Calon suami dapat bertanya, apakah perempuan begini akan begini-begini? Ia bisa minta tepukan tangan di pundak, pelukan, dan untaian mutiara. Agar sang lelaki yakin, mantap. Semoga setelah itu, dia betul-betul siap, menggenapkan separuh agama, mengapai sakinah. Memberatkan bumi dengan generasi yang menjunjung tinggi kalimat La Illa Ha Illallah.

Dikirim pada 30 Juli 2009 di Ayah, Ibu Inilah Aku..

Haruskah Aku Bunuh Diri Berkali-kali? (1)

Sejenak kuhentikan langkahku. Mengambil nafas, memandang sedikit mendongak ke dinding di seberang bordes tempat aku berdiri. Sebuah papan kecil di sana mengatakan padaku bahwa aku berada di lantai enam setengah. Tidak…. sebenarnya di sana tertulis angka tujuh. Tapi aku perlu naik beberapa anak tangga lagi untuk sampai di lantai tujuh.
Sambil menapak selangkah demi selangkah aku berpikir lagi, apakah tujuh lantai sudah cukup tinggi. Aku tidak pernah olahraga sama sekali. Bahkan hampir tidak pernah jalan kaki kecuali di sekitar rumah, atau dari ruang ke ruang di tempat aku bekerja. Menaiki tangga sejauh ini membuat dadaku panas, kepalaku hampir meledak, dan sendi lututku seakan mau lepas. Tapi aku terus melangkah.
Tujuh.
Aku mencoba mengingat lagi, apa saja yang ada di lantai ini. Ball room dan tempat area parkir. Sempurna. Di lantai delapan ada sebuah diskotik dan arena bowling. Bukan tempat yang tepat.
Aku berbelok ke kanan dan masuk ke area parkir. Sambil berjalan melewati tiga mobil aku melihat ke arah lift. Sebenarnya bisa saja aku naik benda itu dan tidak menyiksa tubuhku. Tapi aku memilih lewat tangga, karena aku tidak ingin bertemu siapa-siapa.
Di balik sebuah kolom aku diam sebentar. Sebuah sedan biru masuk. Si tukang parkir tetap menjalankan tugasnya memandu, meskipun area parkir sedang hampir kosong. Kulirik jam tanganku. Jam 08.17. Mobil-mobil di sini milik para pekerja di gedung ini, kurasa. Parkiran baru akan ramai nanti di atas jam 10, setelah toko-toko di lantai satu sampai lima buka.
Seorang gadis muda keluar dari mobil itu. Hmm… kebanyakan perempuan memang payah soal parking. Tidak heran si tukang parkir tetap membantunya, daripada terjadi apa-apa. Aku menunggu beberapa saat lagi sampai mereka pergi, lalu mengambil langkah ke kiri.
Baru kusadari bahwa aku berada di bagian timur gedung ini. Sinar matahari menyilaukanku ketika aku menyeberangi area parkir luar. Bagian ini adalah pilihan terakhir mereka yang ingin memarkirkan mobil, ketika tempat parkir di dalam gedung sudah habis. Dan tentu saja, sekarang kosong.
Aku memlih berhenti agak ke bagian depan gedung agar tak terlalu silau tepat menghadap matahari. Tetap saja sesaat aku memejamkan mataku. Rasanya ada kembang api memercik-mercik di kepalaku. Aku berpegang pada dinding pengaman setinggi dada. Kedua kakiku masih berdenyut-denyut setelah kupaksa bekerja dengan beban melebihi biasanya. Perlahan, aku memanjat naik dan berdiri di dinding pengaman itu.
Kalau aku tidak salah, dua atau tiga lantai di bawah tempat aku berdiri ini ada sebuah restauran, dengan ‘no smoking area’ berupa teras menghadap ke persimpangan jalan. Kubuka mata dan bisa kulihat jalanan yang tidak terlalu padat lagi. Para pengendara telah menurunkan anak-anak mereka di depan gerbang sekolah mereka. Lalu mereka sendiri kembali pulang, atau telah sampai di tempat mereka bekerja.
Aku pernah berdiri di tempat ini beberapa waktu yang lalu. Cukup lama, mungkin hampir setahun yang lalu. Waktu itu malam hari. Anginnya kencang, seolah kuat menerbangkanku. Dan dingin seolah sanggup menusuk tulangku. Heran, kali ini tidak ada angin sama sekali. Peluhku mulai mengalir karena hangat panas sinar matahari.

Dikirim pada 18 Juli 2009 di Ayah, Ibu Inilah Aku..

Ayah, Ibu… Biarkan Ananda Istiqomah

Duhai, betapa indahnya jika kita bisa membahagiakan orang tua kita. Orang tua yang telah membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Orang tua yang telah mendidik dan merawat kita sedari kecil. Orang tua yang telah mengerahkan segala yang mereka punya demi kebahagiaan kita, anak-anaknya. Terima kasihku yang tak terhingga untukmu wahai Ayah Ibu.

Allah berfirman, yang artinya, “Dan Rabbmu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya.” (Qs. Al Israa’ 23)
Alangkah bahagianya seorang anak yang bisa menjalankan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan mendapatkan dukungan dari orangtuanya.
Akan tetapi, bagaimana jika orang tua melarang kita melakukan kebaikan berupa ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya? Keistiqomahan kita, bahkan bagaikan api yang menyulut kemarahan mereka.
Di antara mereka bahkan ada yang menyuruh pada perbuatan yang dilarang Allah? Bagaimanakah seharusnya sikap kita?
Jika teringat kewajiban kita untuk berbakti pada mereka, terlebih teringat besarnya jasa mereka, berat hati ini untuk mengecewakan mereka. Sungguh hati ini tak tega bila sampai ada perbuatan kita yang menjadikan mereka bermuram durja.
Kaidah Birrul Walidain
Saudariku, durhaka atau tidaknya seorang anak tetaplah harus dipandang dari kacamata syariat. Tak semua anak yang melanggar perintah orang tua dikatakan anak durhaka. Karena ketaatan pada orang tua tidak bersifat mutlak. Tidak sebagaimana ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya yang sifatnya mutlak.
Ada beberapa hal yang sering dianggap sebagai kedurhakaan pada orang tua, padahal sebenarnya bukan. Antara lain:
1. Anak menolak perintah orangtua yang melanggar syariat Islam
Pada asalnya, seorang anak wajib taat pada orangtuanya. Akan tetapi jika yang diperintahkan orang tua melanggar syariat, maka anak tidak boleh mentaatinya. Yaitu jika orang tua memerintahkan anak melakukan kesyirikan, bid’ah dan maksiat. Contoh konkritnya: orang tua memerintahkan anak memakai jimat, orang tua menyuruh ngalap berkah pada kyai A, orang tua menyuruh anak berjabat tangan dengan lelaki bukan mahrom, dll. Maka, saat sang anak menolak hal tersebut tidaklah dikatakan durhaka. Bahkan ini termasuk bakti kepada orang tua karena mencegah mereka dari perbuatan haram.
Allah berfirman yang artinya, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Qs. Luqman: 15)
Namun, seorang anak hendaknya tetap menggunakan adab dan perkataan yang baik. Dan terus mempergauli dan mendakwahi mereka dengan baik pula.
2. Anak tidak patuh atas larangan orangtua menjalankan syariat Islam
Tidak disebut durhaka anak yang tidak patuh saat orangtuanya melarang sang anak menjalankan syariat Islam, padahal di saat itu orang tua sedang tak membutuhkannya (misal karena orang tua sedang sakit atau saat keadaan darurat). Contoh konkritnya: melarang anaknya shalat jama’ah, memakai jilbab, berjenggot, menuntut ilmu syar’i, dll.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah wajib mentaati makhluk yang memerintah agar maksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad). Dan di dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan pula bahwasanya ketaatan hanya dilakukan dalam perkara yang baik. Maka janganlah engkau melakukan perkara yang haram dengan alasan ingin berbakti pada orang tuamu. Tidak wajib bagimu taat pada mereka dalam bermaksiat pada Allah.
3. Orang tua yang marah atas keistiqomahan dan nasihat anaknya
Seorang anak wajib menasihati orang tuanya saat mereka melanggar syariat Islam. Apabila orang tua sakit hati dan marah, padahal sang anak telah menggunakan adab yang baik dan perkataan yang lembut, maka hal ini tidak termasuk durhaka pada orang tua.
Saat gundah menyapamu, …
Bagaimana ini, aku telah membuat orang tuaku marah? Padahal bukankah keridhaan Allah bergantung pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan Allah, bergantung pada kemurkaan kedua orang tua (HR. Tirmidzi)?
Saudariku, marahnya orang tua atas keistiqomahan dan nasihat anak, tidaklah termasuk dalam hadits di atas. Hadits di atas tidak berlaku secara mutlak, kita tetap harus melihat kaidah birrul walidain.
Ingatlah saat Nabi Ibrahim menasihati ayahnya, “Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah.” (Qs. Maryam: 44). Orang tua yang menolak kebenaran Islam kemudian mendapat nasihat dari anaknya, kemungkinan besar akan marah. Tapi sang anak tetap tidak dikatakan durhaka.
Saudariku, bila orangtuamu marah atas keistiqomahanmu, maka ingatkan dirimu dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang membuat Allah murka karena ingin memperoleh ridha manusia, maka Allah akan murka padanya dan Allah menjadikan orang yang ingin ia peroleh ridhanya dengan membuat Allah murka itu akan murka padanya. Dan siapa yang membuat Allah ridha sekalipun manusia murka padanya, maka Allah akan ridha padanya dan Allah menjadikan orang yang memurkainya dalam meraih ridha Allah itu akan ridha pula padanya, sampai-sampai Allah akan menghiasi si hamba dan menghiasi ucapan dan amalannya di mata orang yang semula murka tersebut.” (HR. Ath Thabrani)
Subhanallah. Perhatikanlah hadits di atas! Ketika engkau menaati orang tuamu dalam bermaksiat pada Allah, agar orang tuamu ridha. Sedangkan sebenarnya Allah Murka padamu. Maka, bisa jadi Allah justru akan membuat orang tuamu tetap murka pula kepadamu. Meski engkau telah menuruti keinginan mereka.
Dan sadarkah engkau, saat engkau menuruti mereka dalam perbuatan maksiat pada Allah, maka sejatinya perintah mereka akan terus berlanjut. Tidakkah engkau khawatir Allah akan murka pada orangtuamu disebabkan mereka terus memerintahkanmu bermaksiat kepada-Nya.
Saudariku, bukankah hati kedua orang tuamu berada di genggaman Allah. Maka, yang terpenting bagimu adalah berusahalah meraih ridha Allah dengan keshalihan dan keistiqomahanmu. Semoga dengan demikian Allah Ridha padamu. Semoga Allah menghiasi ucapan dan amalan kita sehingga orang tua kita pun -bi idznillah- akhirnya ridha kepada kita.
Akhlaq Mulia, Penarik Hati yang Banyak Dilalaikan
Ustadz Abdullah Zaen, Lc dalam bukunya 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah berkata, “Kerenggangan antara orangtua dan anak itu seringkali terjadi akibat ‘benturan-benturan’ yang terjadi dampak dari orang tua yang masih awam memaksa si anak untuk menjalani beberapa ritual yang berbau syirik, sedangkan si anak berpegang teguh dengan kebenaran yang telah ia yakini. Akhirnya yang terjadi adalah kerenggangan di antara penghuni rumah tersebut. Hal itu semakin diperparah ketika si anak kurang bisa mencairkan suasana dengan mengimbangi kesenjangan tersebut dengan melakukan hal-hal yang bisa membahagiakan orangtuanya. Padahal betapa banyak hati orang tua -bi idznillah- yang luluh untuk menerima kebenaran yang dibawa si anak bukan karena pintarnya anak beragumentasi, namun karena terkesannya sang orang tua dengan akhlak dan budi pekerti anaknya yang semakin mulia setelah dia ngaji!! Penjelasan ini sama sekali tidak mengecilkan urgensi argumentasi yang kuat, namun alangkah indahnya jika seorang muslim apalagi seorang salafi bisa memadukan antara argumentasi yang kuat dengan akhlak yang mulia!.”
Maka, akhlaq yang mulia adalah jalan terdekat menuju luluhnya hati orangtua. Anak adalah mutiara hati orang tua. Saat mutiara itu bersinar, hati orang tua mana yang tidak menjadi terang.
Percaya atau tidak. Kedekatanmu kepada mereka, perhatianmu, kelembutanmu, bahkan hanya sekedar wajah cerah dan senyummu di hadapan mereka adalah bagaikan sinar mentari yang menghangatkan hati mereka.
Sayangnya, banyak dari kita yang justru melalaikan hal ini. Kita terlalu sibuk dengan tuntutan kita karena selama ini orangtua-lah yang banyak menuruti keinginan kita. Seakan-akan hanya orangtua-lah yang wajib berlaku baik pada kita, sedang kita tidak wajib berbuat baik pada mereka. Padahal, kitalah sebagai anak yang seharusnya lebih banyak mempergauli mereka dengan baik.
Kita pun terlalu sibuk dengan dunia kita. Juga sibuk dengan teman-teman kita. Padahal orang tua hanya butuh sedikit perhatian kita. Kenapakah kita begitu pelit mengirimkan satu sms saja untuk menanyakan kabar mereka tiap hari? Sedangkan berpuluh-puluh SMS kita kirimkan untuk sekadar bercanda ria dengan teman kita.
Kemudian, beratkah bagi kita untuk menyenangkan mereka dengan hadiah? Janganlah engkau remehkan meski sekedar membawa pulang oleh-oleh seplastik singkong goreng kesukaan ayah atau sebungkus siomay favorit ibu. Harganya memang tak seberapa, tapi hadiah-hadiah kecil yang menunjukkan bahwa kita tahu apa kesukaan mereka, apa yang mereka tak suka, dan apa yang mereka butuhkan, jauh lebih berharga karena lebih menunjukkan besarnya perhatian kita.
Dakwahku, Bukti Cintaku Kepada Ayah Ibu…
Hakikat kecintaan kita terhadap seseorang adalah menginginkan kebaikan bagi dirinya, sebagaimana kita menginginkan kebaikan bagi diri kita sendiri. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak akan sempurna keimanan salah seorang di antara kalian, sehingga dia mencintai bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka, wujud kecintaan kita kepada orangtua kita adalah mengusahakan kebaikan bagi mereka.
Tahukah engkau kebaikan apa yang dimaksud?
Seorang ayah telah berbuat baik kepada anaknya dengan pendidikan dan nafkah yang diberikan. Sedangkan ibunya telah merawat dan melayani kebutuhan anak-anaknya. Maka sudah semestinya anaknya membalas kebaikan tersebut. Dan sebaik-baik kebaikan adalah mengajak mereka kepada kebahagiaan dan menyelamatkan mereka dari api neraka. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu.” (Qs. At Tahrim 6)
Saudariku, jika engkau benar-benar mencintai orangtuamu, maka jadikanlah dakwahmu sebagai bakti terindahmu kepada mereka. Ingatlah lagi mengenai dakwah Nabi Ibrahim kepada orangtuanya. Bakti pada orang tua sama sekali tidak menghalangi kita untuk berdakwah pada mereka. Justru karena rasa cintalah, yang membuat kita menasihati mereka. Jika bukan kita, maka siapakah lagi yang akan mendakwahi mereka?
Apakah harus dengan mengajak mereka mengikuti kajian? Jika bisa, alhamdulillah. Jika tidak, maka sesungguhnya ada banyak cara yang bisa engkau tempuh agar mereka bisa mengetahui ilmu syar’i dan mengamalkannya.
Jadilah engkau seorang yang telaten dan tidak mudah menyerah dalam berdakwah kepada orang tuamu.
Ingatlah ketika engkau kecil. Ketika engkau hanya bisa tidur dan menangis. Orangtuamulah yang mengajarimu, mengurusmu, memberimu makan, membersihkanmu dan memenuhi kebutuhanmu. Ketika engkau mulai merangkak, kemudian berdiri, dengan sabar orangtuamu memegang tanganmu dan melatihmu. Dan betapa senangnya hati orangtuamu melihat langkah kaki pertamamu. Bertambah kesenangan mereka ketika engkau berjalan meski dengan tertatih-tatih. Saat engkau telah bisa berlari-lari, pandangan orangtuamu pun tak lepas darimu. Menjagamu dari melangkah ke tempat yang berbahaya bagimu.
Ketika engkau mulai merasa letih berdakwah, ingatlah bahwasanya orangtuamu telah membesarkanmu, merawatmu, mendidikmu bertahun-tahun tanpa kenal lelah.
Ya. Bertahun-tahun mereka mendidikmu, bersabar atas kenakalanmu… Maka mengapakah engkau begitu mudahnya menyerah dalam berdakwah kepada mereka? Bukankah kewajiban kita hanyalah menyampaikan, sedangkan Allah-lah Yang Maha Pemberi Hidayah. Maka teruslah berdakwah hingga datang waktunya Allah Membuka hati kedua orangtua kita.
Landasi Semuanya Dengan Ilmu
Seorang anak dengan sedikit ilmu, maka bisa jadi ia akan bersikap lemah dan mudah futur (putus asa) saat menghadapi rintangan dari orangtuanya yang sudah banyak makan garam kehidupan. Bahkan, ia tidak bisa berdakwah pada orang tuanya. Sedangkan seorang anak yang ilmunya belum matang, bisa jadi ia bersikap terlalu keras. Sehingga orangtuanya justru makin antipati dengan dakwah anaknya.
Maka, bekalilah dirimu dengan ilmu berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman salafush shalih. Karena dengan ilmulah seorang mampu bersikap bijak, yaitu mampu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.
Dengan ilmulah kita mengetahui hukum dari permasalahan yang kita hadapi dan bagaimana solusinya menurut syariat. Dengan ilmulah kita mengetahui, pada perkara apa saja kita harus menaati orang tua. Pada perkara apa sebaiknya kita bersikap lembut. Dan pada perkara apakah kita harus teguh layaknya batu karang yang tetap berdiri tegak meski berkali-kali dihempas ombak. Dan yang tidak kalah pentingnya kita bisa berdakwah sesuai dengan yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.
Maka tidak benar jika saat terjadi benturan sang anak justru berputus asa dan tidak lagi menuntut ilmu syar’i. Padahal dia justru sangat butuh pada ilmu tersebut agar dapat menyelesaikan permasalahannya. Saat terjadi konflik dengan orang tua sehingga engkau kesulitan mendatangi majelis ilmu, usahakanlah tetap menuntut ilmu meski hanya sekedar membaca buku, mendengar rekaman kajian atau bertanya kepada ustadz. Dan segeralah kembali ke majelis ta’lim begitu ada kesempatan. Jangan lupa! Niatkanlah ilmu yang kau cari itu untuk menghilangkan kebodohan pada dirimu dan orang lain, terutama orangtuamu. Karena merekalah kerabat yang paling berhak atas dakwah kita.
Karena itu, wahai saudariku…
Istiqomahlah!
Dan bingkailah keteguhanmu dengan ilmu dan amal shalih
Hiasilah dirimu di depan orangtuamu dengan akhlaq yang mulia
Tegar dan sabarlah!
Tegarlah dalam menghadapi rintangan yang datang dari orangtuamu.
Dan sabarlah dalam berdakwah kepada orang tuamu
Tetap istiqomah dan berdakwah. Sambil terus mendoakan ayah dan ibu
Hingga saat datangnya pertolongan Allah…
Yaitu saat hati mereka disinari petunjuk dari Allah
insyaa Allah
Teriring cinta untuk ibu dan bapak…
Semoga Allah Mengumpulkan kita di surga Firdaus-Nya. Amiin.
Maraaji’:
1. Durhaka kepada orang Tua oleh ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, majalah Al Furqon edisi 2 Tahun IV
2. 14 Contoh Praktek Hikmah Dalam Berdakwah, Ustadz Abdullah Zaen, Lc.
3. Kajian Bahjah Qulub Al Abror oleh ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar, tanggal 4 November 2007

Dikirim pada 13 Juli 2009 di Ayah, Ibu Inilah Aku..
Awal « 1 2 » Akhir
Profile

“ Haji/Hajjah eko agus ini masih belum mau dikenal orang, mungkin masih malu. “ More About me

BlogRoll
Tag
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 145.136 kali


connect with ABATASA