0

HUKUM BERSUMPAH DENGAN NABI

Soal: Apakah boleh bersumpah dengan Nabi ?

Syeikh ‘Abdul ‘Aziz ibn Baaz rahimahullah berkata: tidak boleh bersumpah dengan makhluk; baik dengan nabi Allah, ka’bah atau juga dengan amanah dan yang lainnya menurut pendapat jumhur ahli ilmu, bahkan sebagian mereka meriwayatkan secara ijma. Dan diriwayatkan ada pendapat yang berseberangan dengan pendapat ini yang membolehkan bersumpah dengan Rasulullah, akan tetapi pendapat tersebut tidak ada dasarnya. Bahkan pendapat ini merupakan pendapat yang bathil dan menyelisihi pendapat yang pertama yaitu ijma ahlu ilmu. Dan menyelisihi hadits-hadits yang shahih dalam hal itu.

Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Syaikhain (Imam Bukhari dan Muslim) dari Amirul Mukminin ‘Umar bin Khattab bahwa Nabi bersabda: “Barangsiapa bersumpah kemudian ia bersumpah dengan Al-laat dan ‘Uzza, maka hendaknya ia me-ngatakan: LAA ILAAHA ILLALLAH”. Sisi pendalilan dari hadits ini adalah bahwa orang yang bersumpah dengan selain Allah telah melakukan salah satu dari perbuatan syirik, oleh karena itu kaffarahnya (tebusannya) adalah dengan mengucapkan kalimat tauhid dengan penuh kejujuran dan keikhlasan.

Imam at-Turmudzi dan Hakim mengeluarkan hadits dengan sanad yang shahih dari Ibnu Umar bahwa Nabi bersabda: “barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka sungguh dia telah kafir atau telah berbuat syirik”.

Imam Abu Daud mengeluarkan hadits dari Buraidah bin al-Khashib t bahwa Nabi Muhammad bersabda: “bukan termasuk dari golongan kami orang yang bersumpah dengan amanat”. Dan dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda: “Janganlah kalian bersumpah dengan bapak-bapak kalian, ibu-ibu kalian atau dengan sesembahan-sesem-bahan; dan janganlah kamu bersumpah dengan Allah kecuali engkau jujur mengucap-kannya”.

Diantara sekian banyak yang meriwayatkan adanya ijma’ tentang larangan bersum-pah dengan selain Allah adalah Imam Abu Umar bin Abdil Barr an-Namiri rahimahullah.

Ada sebagian ahli ilmu yang memutlakkan hukum makruh bagi orang yang ber-sumpah dengan selain Allah, akan tetapi hukum makruh ini harus dibawa kepada makruh tahrim sebagai bentuk pengamalan dari nash-nash yang ada sekaligus sebagai sikap hus-nudzan terhadap para ahli ilmu

Ada sebagian orang yang meremehkan masalah ini dan berhujjah dengan hadits da-lam shohih Muslim bahwa Nabi berkata kepada seseorang yang bertanya tentang sya-ri’at Islam: “sungguh dia beruntung demi bapaknya, kalau dia berkata jujur”.

Hal ini dapat dibantah bahwa riwayat ini merupakan riwayat yang syadz (menye-lisihi riwayat yang lebih shohih) menurut para ahli ilmu yang tidak boleh digunakan sebagai sandaran karena menyelisihi para rawi yang lebih tsiqat (terpercaya). Hal ini memiliki kemungkinan bahwa lafadz ini merupakan lafadz tashhif (perubahan lafadz), sebagaimana yang di-sebutkan oleh Ibn ‘Abdil Barr rahimahullah bahwa kalimat yang benar adalah sungguh telah beruntung demi Allah kemudian ada sebagian rawi atau pada sebagian kitab yang mengalami tashhif dan kemungkinan yang lain adalah bahwa beliau mengucapkan hal tersebut sebelum adanya larangan bersumpah dengan selain Allah. Bagaimanapun juga riwayat ini tetap merupakan riwayat yang syadz (menyendiri) yang tidak boleh bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menjadikannya sebagai sandaran. Karena riwayat ini menyelisihi hadits-hadits yang shohih dan jelas yang telah menunjukkan atas haramnya bersumpah dengan selain Allah dan juga karena hal itu merupakan perbuatan haram dan termasuk kesyirikan. Imam Nasa�i meriwayatkan hadits dengan sanad yang shohih dari Sa’d ibn Abi Waqqash t bahwa dia bersumpah dengan Laat dan ‘Uzza; ke-mudian dia bertanya kepada Rasulullah e dan beliau menjawab: “Katakanlah LAA ILAA-HA ILLALLAH yang tiada Tuhan selain Dia, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya lah kerajaan dan bagi-Nya lah pujian; Dia berkuasa atas segala sesuatu. Kemudian tiuplah tiga kali ke sebelah kiri dan mintalah perlindungan kepada Allah dari syaithan yang ter-kutuk dan jangan kamu ulangi”.

Hadits ini semakin memperkuat larangan bersumpah dengan selain Allah, karena termasuk perbuatan syirik dan bisikan dari syaithan; bahkan di dalamnya jelas sekali ada-nya larangan untuk mengulangi perbuatan tersebut.

Kita memohon kepada Allah untuk dipelihara agama kita, kebaikan niat dan ama-lan kita serta melindungi kita semua dari mengikuti hawa nafsu dan langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi dekat.

Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Dikirim pada 15 Juli 2009 di TAUHID Benteng Utama


KEUTAMAAN TAUHID DAN PERINGATAN TERHADAP HAL-HAL YANG MENYELISIHINYA


Segala puji bagi Allah , shalawat dan salam atas Rasulullah.
Saudara seiman…
Kami persembahkan bagi anda tulisan ringkas tentang keutama-an tauhid dan per-ingatan terhadap hal-hal yang bertentangannya; bahkan dapat meng-hilangkannya berupa kesyirikan dan perkara-perkara bid’ah baik yang kecil maupun yang besar. Karena se-sungguhnya tauhid adalah kewajiban utama yang diserukan oleh para Rasul dan merupakan masalah pokok yang didakwahkan mereka.
Allah berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَ اجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللهُ وَ مِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ فَسِيرُوا فِي اْلأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk me-nyerukan):"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)" (QS. 16:36)
Tauhid merupakan hak Allah yang terbesar atas hamba-hambanya. Di dalam shohi-hain terdapat hadits dari Muadz bin Jabal beliau berkata: Rasulullah bersabda: “Hak Allah atas hambanya adalah agar Ia diibadahi dan tidak disekutukan dengan yang lain”. Barangsiapa yang merealisasikan tauhid ini maka dia berhak masuk syurga dan barang-siapa yang melakukan perbuatan atau meyakini sesuatu yang bertentangan dengannya atau bahkan menafikannya, maka ia termasuk penghuni neraka.
Dan disebabkan pentingnya tauhid ini Allah menyuruh nabi-Nya untuk meme-rangi kaumnya sampai mereka meyakini tauhid tersebut. Rasulullah bersabda: “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mau bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali Allah” (muttafaq ‘alaih)
Perealisasian tauhid merupakan jalan kebahagiaan di dunia dan akherat; sebalik-nya menyelisihi tauhid adalah jalan menuju kesengsaraan. Merealisasikan tauhid merupa-kan jalan untuk menyatukan visi dan misi umat, sebaliknya cacatnya tauhid merupakan sebab perpecahan dan kehancuran.
Ketahuilah wahai saudaraku (semoga Allah merahmatiku dan merahmati kalian) bahwa tidak semua yang mengatakan: “LAA ILAAHA ILLALLAH” serta merta men-jadi seorang yang bertauhid; akan tetapi untuk membuktikan itu semua dibutuhkan ter-penuhinya tujuh syarat yang telah disebutkan oleh para ulama.
1. Mengetahui makna dan maksud yang dikandungnya baik dari sisi nafy (penafiyan) maupun dari sisi itsbat (penetapan). Maka dari itu tidak ada yang berhak untuk di-ibadahi kecuali Allah .
2. Meyakini kandungannya dengan keyakinan yang pasti.
3. Menerima segala konsekuensinya dengan hati dan lisannya.
4. Mematuhi apa-apa yang ditunjukkan olehnya.
5. Jujur; artinya dia akan mengucapkan apa yang ia yakini dalam hatinya.
6. Keikhlasan yang bersih dari sifat riya.
7. Mencintai kalimat ini dan segala tuntutan-tuntutannya.
Saudara-saudaraku seiman....
Sebagaimana wajibnya kita merealisasikan tauhid dan memenuhi syarat-syaratnya, kita juga harus takut terhadap ketergelinciran ke dalam kesyirikan dengan segala macam bentuk dan pintu-pintu masuk kearah sana; baik yang besar maupun yang kecil. Karena sesungguhnya kedzaliman yang paling besar adalah perbuatan syirik, Allah I meng-ampuni segala dosa hamba-hamba-Nya kecuali dosa syirik, karena barangsiapa yang ter-jatuh ke dalam dosa kesyirikan maka sesungguhnya Allah I telah mengharamkan baginya syurga dan tempat kembalinya adalah neraka.
Allah berfirman:
إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَ يَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَ مَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang-siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (QS. 4:48)
Dan kami suguhkan kepada anda sekalian wahai saudarku beberapa hal yang dapat menafikan tauhid atau paling tidak akan menorehkan cacat dalam tauhid, sebagaimana yang telah disebutkan para ahli ilmu agar kita semua berhati-hati terhadapnya; diantaranya:
1. Mengenakan gelang atau benang (apapun jenisnya) baik dari kuningan, tembaga, besi atau kulit dengan tujuan untuk menghilangkan atau menghindarkan musibah; maka hal ini termasuk syirik.
2. Meruqyah dengan tata cara bid’ah dan azimat; ruqyah dengan cara bid’ah mencakup seluruh ucapan-ucapan yang tidak bisa dipahami dan meminta bantuan kepada jin untuk mengetahui penyakit yang diderita atau untuk melepas sihir atau dengan azimat yaitu mengalungkan benang atau ikatan pada manusia atau hewan, baik dengan mencantumkan kata-kata bid’ah yang tidak ada dalam nash maupun ka-limat-kalimat yang ada dalam nash (menurut pendapat yang paling shohih), karena hal itu merupakan sebab-sebab menuju kesyirikan. Rasulullah r bersabda: “Sesung-guhnya ruqyah (ruqyah yang bersifat syirkiyyah), azimat, dan tiwalah adalah syirik”. (HR. Ahmad dan Abu Daud). Termasuk dalam hal ini adalah meletakkan secarik kertas atau sepotong besi di dalam kendaraan yang bertuliskan lafadzul jalalah “ALLAH” atau ayat kursi atau dengan meletakkan mushaf di dalam kendaraan dengan meyakini bahwa hal tersebut dapat memeliharanya dari mara bahaya.
3. Meminta berkah kepada seseorang atau mengusap-usap mereka dengan harapan mendapat berkahnya, atau meminta berkah kepada pohon dan batu dan lain-lain; bahkan terhadap ka’bah sekalipun kita tidak boleh mengusap-usapnya dengan tujuan mendapat berkah darinya. Ketika Umar bin al-Khottob t mencium hajar aswad, beliau berkata: “sesungguhnya saya tahu bahwa engkau hanyalah sebongkah batu yang tidak bisa memberi madlorot (bahaya) dan tidak pula mampu memberi man-faat. Kalau saja aku tidak melihat Rasulullah menciummu, maka aku pun tidak akan menciummu”.
4. Menyembelih binatang yang dipersembahkan untuk selain Allah . Seperti penyem-belihan yang dipersembahkan untuk para “wali”, syaithan dan jin dengan tujuan agar dapat mendatangkan manfaat bagi mereka atau menghindarkan madlorot dari mereka; maka hal ini pun termasuk perbuatan syirik besar. Dan sebagaimana kita tidak boleh menyembelih binatang untuk selain Allah, kita juga dilarang menyem-belih binatang ditempat yang digunakan untuk menyembelih binatang untuk selain Allah, walaupun orang yang menyembelih tadi berniat menyembelih untuk Allah ; hal ini sebagai benteng bagi masuknya kesyirikan.
5. Nadzar untuk selain Allah; nadzar merupakan sebuah peribadatan yang tidak boleh dialihkan untuk selain Allah .
6. Meminta pertolongan dan perlindungan kepada selain Allah; Rasulullah berkata kepada Ibn ‘Abbas : “jika engkau hendak meminta, mintalah pada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, maka mintalah tolong kepada Allah ”. Dari sini kita bisa tahu adanya larangan berdo’a atau meminta tolong pada jin.
7. Sikap ghuluw’ (berlebih-lebihan) terhadap para wali dan orang-orang shalih; yaitu dengan mengangkat kedudukan mereka ke posisi para Rasul atau ke derajat “kemak-suman” (keterpeliharaan dari salah dan dosa).
8. Thawaf (mengelilingi) kuburan; perbuatan ini pun termasuk kesyirikan. Dan dilarang juga untuk melakukan sholat di sekitar makam, karena hal ini merupakan sarana yang bisa mengantarkan seseorang untuk berbuat kesyirikan. Kalau sholat di sekitar makam saja dilarang, maka bagaimana dengan orang yang sholat untuknya atau menyembahnya???!! Kita semua berlindung dari perbuatan itu.
9. Dan untuk memelihara kemurnian tauhid, ada larangan mendirikan bangunan di atas makam; seperti membuat kubah atau membangun masjid di atasnya atau mengecat-nya.
10. Sihir atau mendatangi tukang sihir, dukun, peramal bintang dan orang-orang yang semisal mereka. Tukang-tukang sihir adalah orang-orang kafir yang dilarang untuk didatangi, dilarang untuk ditanya dan tidak boleh dibenarkan ucapannya; walaupun mereka menamakan dirinya sebagai para wali, syeikh atau nama-nama yang lainnya.
11. Tiyarah yaitu menentukan kesialan melalui burung, hari-hari tertentu, bulan atau dengan seseorang. Semua ini merupakan perbuatan yang dilarang. Karena tiyarah adalah sebuah kesyirikan sebagaimana yang terdapat dalam hadits.
12. Menggantungkan diri kepada sebab seperti kepada dokter dan pengobatan atau yang lainnya dengan melupakan tawakkal kepada Allah. Karena yang diperintahkan adalah kita berusaha dengan sebab; seperti pergi ke dokter untuk berobat. Akan tetapi hatinya tetap memiliki hubungan kuat dengan Allah, bukan dengan sebab-sebab tadi.
13. Meramal bintang atau menggunakan bintang bukan pada tujuan asasi penciptaannya. Oleh karena itu, kita tidak boleh menggunakan bintang untuk mengetahui masa de-pan atau perkara-perkara ghoib yang lain.
14. Meminta hujan dengan perantaraan bintang tertentu dan meyakini bahwa bintang itulah yang dapat mendatangkan hujan atau menahannya. Padahal yang mampu mendatangkan hujan atau menahannya adalah Allah. Maka dari itu katakanlah: “Turunkanlah hujan kepada kami berkat karunia dan rahmat-Nya”.
15. Mengalihkan peribadatan-peribadatan hati kepada selain Allah; seperti kecintaan yang mutlak atau rasa takut yang diberikan kepada selain Allah.
16. Merasa aman dari makar dan adzab Allah I atau berputus asa dari rahmat Allah; oleh karena itu janganlah merasa aman dari makar Allah dan janganlah berputus asa dari rahmat-Nya. Jadilah orang yang berada diantara rasa takut dan penuh harap kepada-Nya.
17. Tidak sabar dalam menghadapi atau menerima keputusan Allah , atau bahkan me-nentangnya dengan mengatakan:“Ya Allah, kenapa Engkau timpakan ini padaku atau pada fulan. Atau kenapa semua ini terjadi”. Dan hal-hal lain yang termasuk niyahah seperti merobek-robek baju atau menarik rambut.
18. Riya� (melakukan perbuatan karena ingin dilihat orang lain) dan Sum’ah (mengerja-kan sesuatu karena ingin didengar orang lain), dan perbuatan yang dimaksudkan un-tuk mendapatkan dunia saja.
19. Mentaati para ulama dan pemimpin dalam hal mengharamkan yang halal dan meng-halalkan yang haram; sesungguhnya ketaatan seperti ini termasuk perbuatan syirik.
20. Perkataan: “Karena kehendak Allah dan kehendakmu” atau “Kalau bukan karena Allah dan karenamu” atau “saya bergantung pada Allah dan kepadamu”; padahal semestinya ia menggunakan pernyataan “kemudian” dalam menyatakan ungkapan-ungkapan tadi. Hal ini berdasarkan perintah Rasulullah e bahwa ketika ada sese-orang yang hendak bersumpah maka ia disuruh untuk mengucapkan: “Demi Rabb ka’bah” dan mengatakan: “Karena kehendak Allah kemudian karena kehendakmu”.
21. Mencela masa, waktu, hari dan bulan.
22. Melecehkan perkara agama, rasul, al-qur’an atau sunnah; atau melecehkan para ahli ilmu (disebabkan mereka adalah orang-orang yang mengusung sunnah) seperti me-melihara jenggot, bersiwak, memendekkan celana diatas mata kaki dan lain-lain.
23. Memberikan nama kepada seseorang dengan “Abdu Nabi” atau “Abdu Ka’bah” atau “Abdu Husain”. Semua penamaan ini terlarang hukumnya, karena seharusnya ‘ubu-diyyah hanya diserahkan hanya untuk Allah; dengan memberi nama “Abdullah” Ab-du Rahman”.
24. Melukis gambar-gambar yang bernyawa yang kemudian diagung-agungkan dengan ditempelkan di tembok dan di sekeliling majlis.
25. Meletakkan gambar salib atau membiarkannya menempel di baju sebagai bentuk pengakuannya. Padahal, yang semestinya dilakukan adalah mematahkan salib ter-sebut dan menghancurkannya.
26. Memberikan loyalitas kepada orang kafir dan munafik dengan cara menghormati dan memuliakan mereka, bahkan memberikan gelar kepada mereka “sayyid” (yang mulia).
27. Berhukum dengan selain hukum yang telah Allah turunkan. Bahkan mereka mem-posisikan undang-undang buatan manusia pada posisi syara’ (hukum Allah Yang Maha Bijaksana) dengan meyakini bahwa undang-undang buatan tersebut semisal dengan hukum syara’ atau bahkan mereka memandang bahwa undang-undang tadi lebih baik dan lebih sesuai dengan perkembangan zaman. Dan keridloan manusia terhadap hal ini pun termasuk hal yang dapat menafikan tauhid seseorang.
28. Bersumpah dengan selain Allah seperti bersumpah dengan Nabi atau amanat atau dengan yang lainnya. Nabi e bersabda : “Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka sunggguh dia telah kufur atau telah berbuat syirik“. (HR. Turmudzi)

Saudaraku kaum Muslimin...
Sebagaimana wajibnya kita merealisasikan tauhid dan membentengi diri dari hal-hal yang bertentangan dengannya atau bahkan menafikannya, maka kita juga memiliki kewajiban lain yaitu menjadikan diri kita dilingkaran manhaj Ahlu Sunnah Wal jama’ah (firqah Annajiyah) yaitu manhaj yang telah ditempuh oleh pendahulu umat ini dari kala-ngan sahabat dan orang-orang setelah mereka disetiap sisi aqidah (keyakinan) dan sulu-kiyah (perangai).
Sebagaimana Ahlu Sunnah memiliki manhaj aqidah dalam masalah Asma’ dan sifat dan yang lainnya, mereka juga memiliki manhaj dalam suluk (perangai), akhlak (tingkah laku), ta’amul (interaksi) dan ibadah; bahkan disetiap lini kehidupan mereka. Oleh karena itu ketika Rasulullah e menyebutkan bahwa umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, beliau menyatakan bahwa ketujuh puluh tiga golongan tadi akan masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan.dan ketika beliau ditanya siapa mereka? Beliau menjawab: mereka adalah orang-orang yang keadaanya seperti keadaanku dan sahabatku saat ini. Beliau tidak mengatakan bahwa golongan tersebut adalah yang mengatakan begini atau berbuat begitu. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang menempuh manhaj Rasul dan sahabah dalam segala hal.
Maka kewajiban kamu wahai saudaraku adalah
1. Mensifati Allah dengan apa yang telah Allah dan Rasul sifatkan bagi diri-Nya, tanpa adanya tahrif, tamstil dan juga ta’thil. Maka dari itu, tidak ada penolakan kecuali apa yang telah Allah tolak bagi diri-Nya dan tidak pula tasybih. Sebagaimana fir-man Allah :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءُُ وَ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Men-dengar lagi Maha Melihat”. (QS. 42:11)
2. Sesungguhnya al-Qur’an adalah Kalamullah yang diturunkan dan bukanlah mahluk; yang dari-Nya berawal dan kepada-Nya akan kembali.
3. Mengimani hal-hal yang akan terjadi setelah kematian dari kejadian-kejadian di alam kubur maupun yang lainnya.
4. Meyakini bahwa iman merupakan perkataan dan perbuatan dan dia akan bertambah dengan ketaatan serta akan berkurang dengan kemaksiatan.
5. Tidak mengkafirkan seorangpun dikarenakan perbuatan dosa yang bukan syirik se-lama dia belum menghalalkannya. Dan sesungguhnya pelaku dosa besar apabila ia bertaubat, maka Allah akan mengampuninya. Adapun kalau dia meninggal dan belum bertaubat, maka dia berada di bawah kehendak Allah . Kalau Allah meng-hendaki Ia akan mengampuninya, dan kalau Ia menghendaki ia akan mengazabnya kemudian memasukannya ke dalam surga-Nya. Dan dia tidak akan kekal di neraka kecuali bagi orang yang terjerumus ke dalam kekafiran dan kesyirikan. Salah satu perilaku kekafiran adalah meninggalkan sholat.
6. Ahlu Sunnah mencintai, memuliakan dan memberikan loyalitas mereka kepada para sahabat. Baik mereka itu termasuk ahlu Bait atau bukan, dan Ahlu Sunnah meyakini bahwa tidak ada seorang pun diantara mereka yang ma’sum (terpelihara dari dosa). Sahabat yang paling mulia adalah Abu Bakar siddiq kemudian Umar bin Khottob kemudian ‘Utsman ibn ‘Affan kemudian Ali bin Abi Thalib . Dan Ahlu Sunnah memilih sikap diam terhadap hal-hal yang mereka perselisihkan, karena mereka semua adalah para mujtahid; kalau ijtihad mereka benar maka mereka men-dapatkan dua pahala, adapun kalau ijtihad mereka keliru, maka mereka mendapat-kan satu pahala.
7. Ahlu Sunnah meyakini adanya karomah bagi para wali, yaitu orang-orang yang ber-takwa lagi sholih. Allah berfirman:
أَلآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ اللهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَ لاَ هُمْ يَحْزَنُونَ ` الَّذِينَ ءَامَنُوا وَ كَانُوا يَتَّقُونَ
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. 10:62)
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa”.(QS. 10:63)
8. Ahlu Sunnah berpendapat tidak di perbolehkannya melakukan kudeta terhadap se-orang pemimpin dan tidak mengkafirkannya sampai jelas adanya keterangan dari Allah I.
9. Ahlu Sunnah beriman kepada Qodar yang baik dan buruk dari Allah dengan se-gala tingkatannya, dan juga mengimani bahwa manusia diberi ketetapan dan diberi pilihan; mereka tidak menafikan qodar dan juga tidak menafikan pilihan atau usaha dari hamba, akan tetapi Ahlu Sunnah menetapkan keduanya.
10. Ahlu Sunnah mencintai kebaikan pada seluruh manusia dan mereka adalah sebaik-baik manusia, bahkan mereka adalah manusia yang paling adil dengan sesama.

Dikirim pada 03 Juli 2009 di TAUHID Benteng Utama
Awal « 1 » Akhir
Profile

“ Haji/Hajjah eko agus ini masih belum mau dikenal orang, mungkin masih malu. “ More About me

BlogRoll
Tag
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 146.278 kali


connect with ABATASA