0



Antara Aku, Ayah, dan Masa Laluku…


Sejak kecil, aku nggak pernah merasa dekat dengan orangtua, terutama ayahku. Aku nggak pernah tahu kesibukan beliau apa saja selain tentunya menjadi seorang perwira menengah di Angkatan Darat. Aku lebih sering bergaul dengan anak-anak sebayaku di luar rumah ketimbang membetahkan diri untuk diam di dalam rumah.
Saat aku duduk di bangku SD, tepatnya di kelas 4 sebuah SD di bilangan Jakarta Pusat, orangtuaku mendadak sering bertengkar. Aku nggak paham. Pikirku saat itu, “Ah, kebiasaan orang dewasaâ€‌. Pertengkaran itu terus berlanjut, bahkan membesar. Hingga aku kelas 6 SD, aku nggak peduli. Sampai di satuآ saat, setelah aku dan ayah jalan-jalan ke Taman Puring (satu kawasan belanja di Jakarta Selatan-red.), ayah mengajakku mampir ke sebuah rumah yangآ aku nggak tahu pemiliknya. Setelah kami masuk, barulah aku tahu siapa pemiliknya. Ayah memperkenalkannya sebagai Tante Mira. Masa bodoh aku saat itu.

Waktu terus berlalu, sementara kecekcokan antara kedua orangtuaku tak ada habisnya. Sedikit-sedikit, aku mulai ingin mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. setelah mengorek informasi dari ibu, kakak-kakak, dan keluarga lainnya, aku baru tahu kalau ayah punya istri simpanan. Ya, Tante Mira! Tak bisa lagi terlukiskan kegeramanku saat itu. Ingin rasanya mendatangi rumah si Tante centil itu dan menghajarnya habis-habisan. Tapi sayang, waktu yang berlalu telah menenggelamkan ingatan itu, jauh ke dasar otakku.
Aku cuma ingat, saat aku main-main dengan kawan SMP (saat itu aku kelas 3 SMP), aku melihat ayah, seorang wanita dan seorang anak perempuan kecil sedang makan di sebuah restoran fastfood di Kelapa Gading. Aku tahan dalam-dalam amarah itu, hingga saat kami berkumpul di rumah, tak terbayang lagi apa yang terjadi saat itu. Kudatangi ayah dengan nada tinggi, menanyakan siapa wanita yang kulihat bersamanya tadi siang, juga anak perempuan kecilnya. Ayah mengelak. Bahkan ayah menciumku dengan sendalnya. Mulai saat itulah aku makin jauh dengan rumah. Hari-hari kuhabiskan di jalanan daerah Pocol-Pasar Senen-Tanah Tinggi, Jakarta Pusat bersama kawan-kawan jalananku.

Hingga saat itu, aku hanya berpikir kalau ayahku itu hobi selingkuh. Tapi ternyata anggapanku salah. Saat aku duduk di kursi SMA, ibu membocorkan rahasia kalau ayah memang hobi mengkoleksi wanita. Bahkan kata ibu, ibu sendiri nggak tahu persis berapa jumlah resmi istri-istrinya, dan berapa jumlah “selirâ€‌nya. Aku nggak begitu percaya hingga aku kroscek ke beberapa orang lainnya, barulah aku percaya. Bahkan kalau aku hitung, “istri-istriâ€‌ ayahku sekitar 9 orang.

Besar di jalan
Sejak kecil, perangaiku memang keras. Itulah yang menjadi bekalku untuk hidup di jalan. Sebenarnya aku nggak all out jadi anak jalanan sampai aku lulus kuliah. Aku masih butuh uang. Jadi, aku masih baik-baikan sama ortu. Sebenarnya aku sekolah pun hanya formalitas saja. Aku sering bolos, mabuk di kelas, berkelahi dengan sesama siswa bakan dengan guru. Termasuk kejahatan-kejahatan cetek yang “biasaâ€‌ dikerjakan anak sekolah sekarang. Dan jujur saja, aku lebih suka menyogok guru-guruku untuk naik kelas ketimbang harus belajar. But after school, aku hampir nggak pernah pulang ke rumah! Hidup di jalan, menikmati gelap, redup, dan cerahnya dunia dan larut di dalamnya.

Hidup di jalan pun nggak membuat aku jadi lebih baik. Jalanan justru membawaku beberapa kali menginap di tahanan polisi. Bahkan dua kali masuk ke LP Cipinang dengan berbagai macam kasus yang berbeda. Dari mulai narkoba, premanisme, hingga pembunuhan.

Waktu aku pertama kali dijebloskan ke penjara Cipinang, ayah masih mau menolongku. Satu kali bahkan ia merelakan kesempatannya untuk naik pangkat demi mengeluarkanku. Tapi sayang, untung tak bisa didapat, malang tak bisa dicegah. Aku kembali ke jalan, dan “berpakaianâ€‌ seperti sebelumnya. Saat itulah orangtuaku mulai acuh denganku. Dan aku pun sama dengan orangtuaku, aku mulai membenci mereka, terutama ayah. Bahkan satu perkataan ayah yang paling membuatku kesal saat itu, “Gue udah ngelahirin lo, gue juga udah masukin lo sekolah ama pengajian biar lo pinter, sekarang gue tinggal nunggu kapan lo nikah dan kapan lo mati. Kalo lo masuk penjara lagi, itu sih masa bodo!â€‌آ آ kesal rasanya saat itu, bahkan hampir saja kutebas leher ayah dengan sebilah clurit. Untung saja ada ibu yang melerai.

Sampai akhirnya aku mendekam dua tahun 8 bulan di Cipinang akibat membunuh seorang preman, ayah nggak pernah menjengukku. Inilah salahsatunya yang membuatku akhirnya nggak peduli pada ayah. Selepas dari LP pun aku nggak langsung menginjakkan kaki ke rumah. Aku ke jalan, terus di jalan, bahkan cari makan di jalan. Kerja apa saja. Dari ngamen, tukang parkir, sampai pernah juga jadi kuli harian percetakan.

Menyingkir dari Jakarta
Dua tahun selepas dari LP, aku mulai bosan tinggal di Ibukota. Aku pun pindah ke sebuah daerah di pinggiran Jakarta (masuk wilayah Kabupaten Bogor, sih). Aku di sana bekerja pada sebuah perusahaan konstruksi pabrik. Biasa, jadi kuli lagi! Tapi aku cuek saja. Nggak peduli kalau aku seorang sarjana teknik sipil. Di tempat baru ini, hobi burukku kayak mabuk, judi, tetap nggak hilang. Hingga satu ketika, aku kehabisan uang. Kondisiku pun super parah. Sakaw abis, ketagihan judi, pokoknya ancur, deh!

Saat itu aku kepikir nyari uang (lagi-lagi) dengan cara yang tidak baik. Aku berniat merampok sebuah toko milik pak haji, tetangga dan bapak kosku sendiri. Pikiranku sudah sangat kacau waktu itu. Dengan nekat, aku pun melancarkan aksiku bertiga bareng kawan-kawan error-ku. Saat itulah Allah menolongku. Saat aksiku berlangsung, kami kepergok polisi dan nggak bisa kabur. Sekali lagi, aku masuk tahanan polisi. Tapi Allah Mahapengasih dan Mahapenyayang. Saat itu, Pak haji, yang jadi korban, nggak mau memperluas masalah. Dia mengerti keadaanku waktu itu, dan memilih menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan.

Peristiwa itu, dan kebaikan hati Pak haji telah membukakan hatiku dan jadi titik tolak perubahan dalam hidupku. Aku pun mulai bertekad untuk tidak mengulangi segala kebejatanku dan aku pun tak akan sudi jika anak-anakku kelak meniru kelakuan bejat bapak dan kakeknya. Pak haji bukan cuma memafkanku. Setelah kejadian itu, beliau justru mempercayakan sebuah usahanya untuk kukelola, dan memberikan tempat tinggal gratis buatku.

Sobat, masa laluku biarlah berlalu. Kini, aku hanya ingin memperbaiki hidupku dengan Islam yang kأffah dan menjadi muslim yang sebenarnya. Aku sekarang mulai lagi berkenalan dengan Islam dengan mengaji. Kuharap, cukup aku saja yang merasakan kelamnya masa lalu itu. [seperti yang diceritakan supri pada munir]



Dikirim pada 10 Agustus 2009 di Ayah, Ibu Inilah Aku..
30 Jul

Calon Istri Seorang Lelaki





Seorang teman pernah mengatakan, kriteria calon isterinya: shalihah, cerdas, kaya dan cantik. Sebuah hadist juga mengemukakan, seorang perempuan dipinang karena kecantikannya, hartanya dan keturunannya. Tapi pinanglah perempuan karena keshalihannya. Itu yang utama. Saya sepakat dengan hadist tersebut. Perempuan yang shalihah, insya Allah cerdas. Ketika seorang perempuan cerdas, harta bisa dicari. Bila harta sudah di tangan, kecantikan bisa dibeli. Pilih satu, dapat tiga.



Namun, bila kita tinjau ulang, pemikiran akan kriteria calon isteri tersebut cenderung egois. Tidak memandang dari banyak sisi. Hanya memandang pernikahan dari segi manfaat untuk diri sendiri. Tidak untuk keluarga, sahabat dan lingkungan sekitar. Padahal menikah adalah penyatuan dua organisasi besar; keluarga, membentuk organisasi baru. Banyak pihak yang bisa terpengaruh dan mempengaruhi pra dan pasca pernikahan.



Jika kita berkaca, mengevaluasi. Melihat, mencari kelebihan dan kekurangan diri. Niscaya kita akan menemukan berbagai fakta; kita juga punya banyak kekurangan. Lalu, pantaskan bersibuk ria dengan segala macam kriteria? Sedang diri sendiri mungkin tak bisa memenuhi segala kriteria impian oleh calon pasangan. Seseorang berharap mendapat perempuan shalihah, namun apakah dia cukup shalih untuk berdampingan dengan perempuan shalihah. Ia ingin perempuan cerdas, tapi apakah ia cukup cerdas untuk mengimbangi kecerdasannya? Ia ingin perempuan berharta, tapi seberapa banyak harta yang dapat dia berikan, untuk ‘membeli’ sang calon dari ayah-bundanya. Dan ketika ia ingin perempuan cantik, apakah ia sendiri cukup gagah, tidak jomplang, saat bersisian dengannya? Tidakkah keinginan si lelaki terlalu berlebih?



Dari kisah cinta para Nabi, sahabat dan para syuhada, ada sejumlah fakta: tangan Allah selalu bermain. Kisah cinta Muhammad-Khadijah, Yusuf-Zulaikha hanyalah sebagian kecil contoh. Keikhlasan menggenapkan separuh agama pasti akan mendapat anugerah luar biasa; seorang isteri penghuni taman surga. Segala hambatan pernikahan hanyut karena ibadah yang khusu, penghambaan yang sangat padaNya. Manusia hanya berusaha, hasilnya terserah pada Yang Kuasa.

Hendaknya seorang lelaki berusaha melihat dari banyak sisi, ketika datang seorang calon isteri padanya. Segala identitas standar bukan pertimbangan utama. Serahkan saja padaNya. Meminta petunjuk lewat shalat istikharah. Apakah perempuan itu orang yang tepat? Apakah si calon pasangan dunia akhirat? Hanya Allah yang tahu,kan?



Lelaki manapun bisa saja berharap: Semoga calon isteri yang datang padaku adalah perempuan shalihah. Bila belum shalihah, haruslah dia mengajak, meningkatkan pemahaman agama, terus memperbaiki diri. Menghiasi rumah tangga dengan amalan wajib dan sunnah. Menggapai sakinah. Semoga perempuan yang datang padaku cerdas. Jika belum cerdas, mestilah dia yang mengajar dan belajar dari pasangannya. Mencari ilmu baru, terutama ilmu rumah tangga. Tentang harta, boleh saja meminta: datangkanlah padaku calon isteri yang berharta. Tetapi ingatlah, harta adalah cobaan, tak banyak orang yang bisa tetap rendah hati, menunduk-nunduk ketika punya harta. Lagipula harta gampang dicari. Soal kecantikan, wajar lelaki normal ingin mendapatkan isteri cantik. Tetapi bukan hanya cantik lahir, batinnya juga harus cantik. Yang menjadi pertanyaan, standar apakah yang akan digunakan untuk menilai seorang perempuan cantik. Standar dunia atau standar surga? Standar dunia menekankan kecantikan maya. Mengandalkan costmetik. Kecantikan abadi, keindahan hingga akhir hayat dan di akhirat kelak, itulah yang seharusnya dicari. Terserah cantik atau tidak kata dunia, yang penting isteri bisa selalu menarik di mata, di hati. Menjadi telaga sejuk, pohon teduh di terik siang. Standar cantik ini sifatnya personal. Orang lain memandang biasa, tapi luar biasa menurut sang suami.



Perempuan manapun yang datang pada seorang lelaki, sudah sepatutnya ia melepas kacamata kekinian. Menggunakan kacamata masa depan dan kacamata banyak orang untuk menilai. Mungkin banyak keindahan calon pasangan yang sengaja disimpan olehNya. Allah ingin mengujinya, apakah dia cukup shaleh, cukup ikhlas, cukup bersabar untuk mendapatkan pasangan sejati.



Pasti ada keraguan saat menimbang. Maka dari itulah perlunya mengetuk nurani sahabat, saudara, kakak, orang tua, mereka yang lebih berpengalaman. Calon suami dapat bertanya, apakah perempuan begini akan begini-begini? Ia bisa minta tepukan tangan di pundak, pelukan, dan untaian mutiara. Agar sang lelaki yakin, mantap. Semoga setelah itu, dia betul-betul siap, menggenapkan separuh agama, mengapai sakinah. Memberatkan bumi dengan generasi yang menjunjung tinggi kalimat La Illa Ha Illallah.



Dikirim pada 30 Juli 2009 di Ayah, Ibu Inilah Aku..

Haruskah Aku Bunuh Diri Berkali-kali? (1)



Sejenak kuhentikan langkahku. Mengambil nafas, memandang sedikit mendongak ke dinding di seberang bordes tempat aku berdiri. Sebuah papan kecil di sana mengatakan padaku bahwa aku berada di lantai enam setengah. Tidak…. sebenarnya di sana tertulis angka tujuh. Tapi aku perlu naik beberapa anak tangga lagi untuk sampai di lantai tujuh.

Sambil menapak selangkah demi selangkah aku berpikir lagi, apakah tujuh lantai sudah cukup tinggi. Aku tidak pernah olahraga sama sekali. Bahkan hampir tidak pernah jalan kaki kecuali di sekitar rumah, atau dari ruang ke ruang di tempat aku bekerja. Menaiki tangga sejauh ini membuat dadaku panas, kepalaku hampir meledak, dan sendi lututku seakan mau lepas. Tapi aku terus melangkah.

Tujuh.

Aku mencoba mengingat lagi, apa saja yang ada di lantai ini. Ball room dan tempat area parkir. Sempurna. Di lantai delapan ada sebuah diskotik dan arena bowling. Bukan tempat yang tepat.

Aku berbelok ke kanan dan masuk ke area parkir. Sambil berjalan melewati tiga mobil aku melihat ke arah lift. Sebenarnya bisa saja aku naik benda itu dan tidak menyiksa tubuhku. Tapi aku memilih lewat tangga, karena aku tidak ingin bertemu siapa-siapa.

Di balik sebuah kolom aku diam sebentar. Sebuah sedan biru masuk. Si tukang parkir tetap menjalankan tugasnya memandu, meskipun area parkir sedang hampir kosong. Kulirik jam tanganku. Jam 08.17. Mobil-mobil di sini milik para pekerja di gedung ini, kurasa. Parkiran baru akan ramai nanti di atas jam 10, setelah toko-toko di lantai satu sampai lima buka.

Seorang gadis muda keluar dari mobil itu. Hmm… kebanyakan perempuan memang payah soal parking. Tidak heran si tukang parkir tetap membantunya, daripada terjadi apa-apa. Aku menunggu beberapa saat lagi sampai mereka pergi, lalu mengambil langkah ke kiri.

Baru kusadari bahwa aku berada di bagian timur gedung ini. Sinar matahari menyilaukanku ketika aku menyeberangi area parkir luar. Bagian ini adalah pilihan terakhir mereka yang ingin memarkirkan mobil, ketika tempat parkir di dalam gedung sudah habis. Dan tentu saja, sekarang kosong.

Aku memlih berhenti agak ke bagian depan gedung agar tak terlalu silau tepat menghadap matahari. Tetap saja sesaat aku memejamkan mataku. Rasanya ada kembang api memercik-mercik di kepalaku. Aku berpegang pada dinding pengaman setinggi dada. Kedua kakiku masih berdenyut-denyut setelah kupaksa bekerja dengan beban melebihi biasanya. Perlahan, aku memanjat naik dan berdiri di dinding pengaman itu.

Kalau aku tidak salah, dua atau tiga lantai di bawah tempat aku berdiri ini ada sebuah restauran, dengan ‘no smoking area’ berupa teras menghadap ke persimpangan jalan. Kubuka mata dan bisa kulihat jalanan yang tidak terlalu padat lagi. Para pengendara telah menurunkan anak-anak mereka di depan gerbang sekolah mereka. Lalu mereka sendiri kembali pulang, atau telah sampai di tempat mereka bekerja.

Aku pernah berdiri di tempat ini beberapa waktu yang lalu. Cukup lama, mungkin hampir setahun yang lalu. Waktu itu malam hari. Anginnya kencang, seolah kuat menerbangkanku. Dan dingin seolah sanggup menusuk tulangku. Heran, kali ini tidak ada angin sama sekali. Peluhku mulai mengalir karena hangat panas sinar matahari.



Dikirim pada 18 Juli 2009 di Ayah, Ibu Inilah Aku..

HUKUM BERSUMPAH DENGAN NABI


Soal: Apakah boleh bersumpah dengan Nabi ?



Syeikh ‘Abdul ‘Aziz ibn Baaz rahimahullah berkata: tidak boleh bersumpah dengan makhluk; baik dengan nabi Allah, ka’bah atau juga dengan amanah dan yang lainnya menurut pendapat jumhur ahli ilmu, bahkan sebagian mereka meriwayatkan secara ijma. Dan diriwayatkan ada pendapat yang berseberangan dengan pendapat ini yang membolehkan bersumpah dengan Rasulullah, akan tetapi pendapat tersebut tidak ada dasarnya. Bahkan pendapat ini merupakan pendapat yang bathil dan menyelisihi pendapat yang pertama yaitu ijma ahlu ilmu. Dan menyelisihi hadits-hadits yang shahih dalam hal itu.



Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Syaikhain (Imam Bukhari dan Muslim) dari Amirul Mukminin ‘Umar bin Khattab bahwa Nabi bersabda: “Barangsiapa bersumpah kemudian ia bersumpah dengan Al-laat dan ‘Uzza, maka hendaknya ia me-ngatakan: LAA ILAAHA ILLALLAH”. Sisi pendalilan dari hadits ini adalah bahwa orang yang bersumpah dengan selain Allah telah melakukan salah satu dari perbuatan syirik, oleh karena itu kaffarahnya (tebusannya) adalah dengan mengucapkan kalimat tauhid dengan penuh kejujuran dan keikhlasan.



Imam at-Turmudzi dan Hakim mengeluarkan hadits dengan sanad yang shahih dari Ibnu Umar bahwa Nabi bersabda: “barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka sungguh dia telah kafir atau telah berbuat syirik”.



Imam Abu Daud mengeluarkan hadits dari Buraidah bin al-Khashib t bahwa Nabi Muhammad bersabda: “bukan termasuk dari golongan kami orang yang bersumpah dengan amanat”. Dan dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda: “Janganlah kalian bersumpah dengan bapak-bapak kalian, ibu-ibu kalian atau dengan sesembahan-sesem-bahan; dan janganlah kamu bersumpah dengan Allah kecuali engkau jujur mengucap-kannya”.



Diantara sekian banyak yang meriwayatkan adanya ijma’ tentang larangan bersum-pah dengan selain Allah adalah Imam Abu Umar bin Abdil Barr an-Namiri rahimahullah.



Ada sebagian ahli ilmu yang memutlakkan hukum makruh bagi orang yang ber-sumpah dengan selain Allah, akan tetapi hukum makruh ini harus dibawa kepada makruh tahrim sebagai bentuk pengamalan dari nash-nash yang ada sekaligus sebagai sikap hus-nudzan terhadap para ahli ilmu



Ada sebagian orang yang meremehkan masalah ini dan berhujjah dengan hadits da-lam shohih Muslim bahwa Nabi berkata kepada seseorang yang bertanya tentang sya-ri’at Islam: “sungguh dia beruntung demi bapaknya, kalau dia berkata jujur”.



Hal ini dapat dibantah bahwa riwayat ini merupakan riwayat yang syadz (menye-lisihi riwayat yang lebih shohih) menurut para ahli ilmu yang tidak boleh digunakan sebagai sandaran karena menyelisihi para rawi yang lebih tsiqat (terpercaya). Hal ini memiliki kemungkinan bahwa lafadz ini merupakan lafadz tashhif (perubahan lafadz), sebagaimana yang di-sebutkan oleh Ibn ‘Abdil Barr rahimahullah bahwa kalimat yang benar adalah sungguh telah beruntung demi Allah kemudian ada sebagian rawi atau pada sebagian kitab yang mengalami tashhif dan kemungkinan yang lain adalah bahwa beliau mengucapkan hal tersebut sebelum adanya larangan bersumpah dengan selain Allah. Bagaimanapun juga riwayat ini tetap merupakan riwayat yang syadz (menyendiri) yang tidak boleh bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menjadikannya sebagai sandaran. Karena riwayat ini menyelisihi hadits-hadits yang shohih dan jelas yang telah menunjukkan atas haramnya bersumpah dengan selain Allah dan juga karena hal itu merupakan perbuatan haram dan termasuk kesyirikan. Imam Nasa�i meriwayatkan hadits dengan sanad yang shohih dari Sa’d ibn Abi Waqqash t bahwa dia bersumpah dengan Laat dan ‘Uzza; ke-mudian dia bertanya kepada Rasulullah e dan beliau menjawab: “Katakanlah LAA ILAA-HA ILLALLAH yang tiada Tuhan selain Dia, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya lah kerajaan dan bagi-Nya lah pujian; Dia berkuasa atas segala sesuatu. Kemudian tiuplah tiga kali ke sebelah kiri dan mintalah perlindungan kepada Allah dari syaithan yang ter-kutuk dan jangan kamu ulangi”.



Hadits ini semakin memperkuat larangan bersumpah dengan selain Allah, karena termasuk perbuatan syirik dan bisikan dari syaithan; bahkan di dalamnya jelas sekali ada-nya larangan untuk mengulangi perbuatan tersebut.



Kita memohon kepada Allah untuk dipelihara agama kita, kebaikan niat dan ama-lan kita serta melindungi kita semua dari mengikuti hawa nafsu dan langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi dekat.



Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.



Dikirim pada 15 Juli 2009 di TAUHID Benteng Utama

Ayah, Ibu… Biarkan Ananda Istiqomah


Duhai, betapa indahnya jika kita bisa membahagiakan orang tua kita. Orang tua yang telah membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Orang tua yang telah mendidik dan merawat kita sedari kecil. Orang tua yang telah mengerahkan segala yang mereka punya demi kebahagiaan kita, anak-anaknya. Terima kasihku yang tak terhingga untukmu wahai Ayah Ibu.


Allah berfirman, yang artinya, “Dan Rabbmu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya.” (Qs. Al Israa’ 23)

Alangkah bahagianya seorang anak yang bisa menjalankan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan mendapatkan dukungan dari orangtuanya.

Akan tetapi, bagaimana jika orang tua melarang kita melakukan kebaikan berupa ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya? Keistiqomahan kita, bahkan bagaikan api yang menyulut kemarahan mereka.

Di antara mereka bahkan ada yang menyuruh pada perbuatan yang dilarang Allah? Bagaimanakah seharusnya sikap kita?

Jika teringat kewajiban kita untuk berbakti pada mereka, terlebih teringat besarnya jasa mereka, berat hati ini untuk mengecewakan mereka. Sungguh hati ini tak tega bila sampai ada perbuatan kita yang menjadikan mereka bermuram durja.

Kaidah Birrul Walidain

Saudariku, durhaka atau tidaknya seorang anak tetaplah harus dipandang dari kacamata syariat. Tak semua anak yang melanggar perintah orang tua dikatakan anak durhaka. Karena ketaatan pada orang tua tidak bersifat mutlak. Tidak sebagaimana ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya yang sifatnya mutlak.

Ada beberapa hal yang sering dianggap sebagai kedurhakaan pada orang tua, padahal sebenarnya bukan. Antara lain:

1. Anak menolak perintah orangtua yang melanggar syariat Islam

Pada asalnya, seorang anak wajib taat pada orangtuanya. Akan tetapi jika yang diperintahkan orang tua melanggar syariat, maka anak tidak boleh mentaatinya. Yaitu jika orang tua memerintahkan anak melakukan kesyirikan, bid’ah dan maksiat. Contoh konkritnya: orang tua memerintahkan anak memakai jimat, orang tua menyuruh ngalap berkah pada kyai A, orang tua menyuruh anak berjabat tangan dengan lelaki bukan mahrom, dll. Maka, saat sang anak menolak hal tersebut tidaklah dikatakan durhaka. Bahkan ini termasuk bakti kepada orang tua karena mencegah mereka dari perbuatan haram.

Allah berfirman yang artinya, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Qs. Luqman: 15)

Namun, seorang anak hendaknya tetap menggunakan adab dan perkataan yang baik. Dan terus mempergauli dan mendakwahi mereka dengan baik pula.

2. Anak tidak patuh atas larangan orangtua menjalankan syariat Islam

Tidak disebut durhaka anak yang tidak patuh saat orangtuanya melarang sang anak menjalankan syariat Islam, padahal di saat itu orang tua sedang tak membutuhkannya (misal karena orang tua sedang sakit atau saat keadaan darurat). Contoh konkritnya: melarang anaknya shalat jama’ah, memakai jilbab, berjenggot, menuntut ilmu syar’i, dll.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah wajib mentaati makhluk yang memerintah agar maksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad). Dan di dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan pula bahwasanya ketaatan hanya dilakukan dalam perkara yang baik. Maka janganlah engkau melakukan perkara yang haram dengan alasan ingin berbakti pada orang tuamu. Tidak wajib bagimu taat pada mereka dalam bermaksiat pada Allah.

3. Orang tua yang marah atas keistiqomahan dan nasihat anaknya

Seorang anak wajib menasihati orang tuanya saat mereka melanggar syariat Islam. Apabila orang tua sakit hati dan marah, padahal sang anak telah menggunakan adab yang baik dan perkataan yang lembut, maka hal ini tidak termasuk durhaka pada orang tua.

Saat gundah menyapamu, …
Bagaimana ini, aku telah membuat orang tuaku marah? Padahal bukankah keridhaan Allah bergantung pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan Allah, bergantung pada kemurkaan kedua orang tua (HR. Tirmidzi)?
Saudariku, marahnya orang tua atas keistiqomahan dan nasihat anak, tidaklah termasuk dalam hadits di atas. Hadits di atas tidak berlaku secara mutlak, kita tetap harus melihat kaidah birrul walidain.

Ingatlah saat Nabi Ibrahim menasihati ayahnya, “Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah.” (Qs. Maryam: 44). Orang tua yang menolak kebenaran Islam kemudian mendapat nasihat dari anaknya, kemungkinan besar akan marah. Tapi sang anak tetap tidak dikatakan durhaka.

Saudariku, bila orangtuamu marah atas keistiqomahanmu, maka ingatkan dirimu dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang membuat Allah murka karena ingin memperoleh ridha manusia, maka Allah akan murka padanya dan Allah menjadikan orang yang ingin ia peroleh ridhanya dengan membuat Allah murka itu akan murka padanya. Dan siapa yang membuat Allah ridha sekalipun manusia murka padanya, maka Allah akan ridha padanya dan Allah menjadikan orang yang memurkainya dalam meraih ridha Allah itu akan ridha pula padanya, sampai-sampai Allah akan menghiasi si hamba dan menghiasi ucapan dan amalannya di mata orang yang semula murka tersebut.” (HR. Ath Thabrani)

Subhanallah. Perhatikanlah hadits di atas! Ketika engkau menaati orang tuamu dalam bermaksiat pada Allah, agar orang tuamu ridha. Sedangkan sebenarnya Allah Murka padamu. Maka, bisa jadi Allah justru akan membuat orang tuamu tetap murka pula kepadamu. Meski engkau telah menuruti keinginan mereka.
Dan sadarkah engkau, saat engkau menuruti mereka dalam perbuatan maksiat pada Allah, maka sejatinya perintah mereka akan terus berlanjut. Tidakkah engkau khawatir Allah akan murka pada orangtuamu disebabkan mereka terus memerintahkanmu bermaksiat kepada-Nya.

Saudariku, bukankah hati kedua orang tuamu berada di genggaman Allah. Maka, yang terpenting bagimu adalah berusahalah meraih ridha Allah dengan keshalihan dan keistiqomahanmu. Semoga dengan demikian Allah Ridha padamu. Semoga Allah menghiasi ucapan dan amalan kita sehingga orang tua kita pun -bi idznillah- akhirnya ridha kepada kita.

Akhlaq Mulia, Penarik Hati yang Banyak Dilalaikan

Ustadz Abdullah Zaen, Lc dalam bukunya 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah berkata, “Kerenggangan antara orangtua dan anak itu seringkali terjadi akibat ‘benturan-benturan’ yang terjadi dampak dari orang tua yang masih awam memaksa si anak untuk menjalani beberapa ritual yang berbau syirik, sedangkan si anak berpegang teguh dengan kebenaran yang telah ia yakini. Akhirnya yang terjadi adalah kerenggangan di antara penghuni rumah tersebut. Hal itu semakin diperparah ketika si anak kurang bisa mencairkan suasana dengan mengimbangi kesenjangan tersebut dengan melakukan hal-hal yang bisa membahagiakan orangtuanya. Padahal betapa banyak hati orang tua -bi idznillah- yang luluh untuk menerima kebenaran yang dibawa si anak bukan karena pintarnya anak beragumentasi, namun karena terkesannya sang orang tua dengan akhlak dan budi pekerti anaknya yang semakin mulia setelah dia ngaji!! Penjelasan ini sama sekali tidak mengecilkan urgensi argumentasi yang kuat, namun alangkah indahnya jika seorang muslim apalagi seorang salafi bisa memadukan antara argumentasi yang kuat dengan akhlak yang mulia!.”

Maka, akhlaq yang mulia adalah jalan terdekat menuju luluhnya hati orangtua. Anak adalah mutiara hati orang tua. Saat mutiara itu bersinar, hati orang tua mana yang tidak menjadi terang.

Percaya atau tidak. Kedekatanmu kepada mereka, perhatianmu, kelembutanmu, bahkan hanya sekedar wajah cerah dan senyummu di hadapan mereka adalah bagaikan sinar mentari yang menghangatkan hati mereka.

Sayangnya, banyak dari kita yang justru melalaikan hal ini. Kita terlalu sibuk dengan tuntutan kita karena selama ini orangtua-lah yang banyak menuruti keinginan kita. Seakan-akan hanya orangtua-lah yang wajib berlaku baik pada kita, sedang kita tidak wajib berbuat baik pada mereka. Padahal, kitalah sebagai anak yang seharusnya lebih banyak mempergauli mereka dengan baik.

Kita pun terlalu sibuk dengan dunia kita. Juga sibuk dengan teman-teman kita. Padahal orang tua hanya butuh sedikit perhatian kita. Kenapakah kita begitu pelit mengirimkan satu sms saja untuk menanyakan kabar mereka tiap hari? Sedangkan berpuluh-puluh SMS kita kirimkan untuk sekadar bercanda ria dengan teman kita.

Kemudian, beratkah bagi kita untuk menyenangkan mereka dengan hadiah? Janganlah engkau remehkan meski sekedar membawa pulang oleh-oleh seplastik singkong goreng kesukaan ayah atau sebungkus siomay favorit ibu. Harganya memang tak seberapa, tapi hadiah-hadiah kecil yang menunjukkan bahwa kita tahu apa kesukaan mereka, apa yang mereka tak suka, dan apa yang mereka butuhkan, jauh lebih berharga karena lebih menunjukkan besarnya perhatian kita.

Dakwahku, Bukti Cintaku Kepada Ayah Ibu…

Hakikat kecintaan kita terhadap seseorang adalah menginginkan kebaikan bagi dirinya, sebagaimana kita menginginkan kebaikan bagi diri kita sendiri. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak akan sempurna keimanan salah seorang di antara kalian, sehingga dia mencintai bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka, wujud kecintaan kita kepada orangtua kita adalah mengusahakan kebaikan bagi mereka.
Tahukah engkau kebaikan apa yang dimaksud?

Seorang ayah telah berbuat baik kepada anaknya dengan pendidikan dan nafkah yang diberikan. Sedangkan ibunya telah merawat dan melayani kebutuhan anak-anaknya. Maka sudah semestinya anaknya membalas kebaikan tersebut. Dan sebaik-baik kebaikan adalah mengajak mereka kepada kebahagiaan dan menyelamatkan mereka dari api neraka. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu.” (Qs. At Tahrim 6)

Saudariku, jika engkau benar-benar mencintai orangtuamu, maka jadikanlah dakwahmu sebagai bakti terindahmu kepada mereka. Ingatlah lagi mengenai dakwah Nabi Ibrahim kepada orangtuanya. Bakti pada orang tua sama sekali tidak menghalangi kita untuk berdakwah pada mereka. Justru karena rasa cintalah, yang membuat kita menasihati mereka. Jika bukan kita, maka siapakah lagi yang akan mendakwahi mereka?

Apakah harus dengan mengajak mereka mengikuti kajian? Jika bisa, alhamdulillah. Jika tidak, maka sesungguhnya ada banyak cara yang bisa engkau tempuh agar mereka bisa mengetahui ilmu syar’i dan mengamalkannya.

Jadilah engkau seorang yang telaten dan tidak mudah menyerah dalam berdakwah kepada orang tuamu.
Ingatlah ketika engkau kecil. Ketika engkau hanya bisa tidur dan menangis. Orangtuamulah yang mengajarimu, mengurusmu, memberimu makan, membersihkanmu dan memenuhi kebutuhanmu. Ketika engkau mulai merangkak, kemudian berdiri, dengan sabar orangtuamu memegang tanganmu dan melatihmu. Dan betapa senangnya hati orangtuamu melihat langkah kaki pertamamu. Bertambah kesenangan mereka ketika engkau berjalan meski dengan tertatih-tatih. Saat engkau telah bisa berlari-lari, pandangan orangtuamu pun tak lepas darimu. Menjagamu dari melangkah ke tempat yang berbahaya bagimu.

Ketika engkau mulai merasa letih berdakwah, ingatlah bahwasanya orangtuamu telah membesarkanmu, merawatmu, mendidikmu bertahun-tahun tanpa kenal lelah.

Ya. Bertahun-tahun mereka mendidikmu, bersabar atas kenakalanmu… Maka mengapakah engkau begitu mudahnya menyerah dalam berdakwah kepada mereka? Bukankah kewajiban kita hanyalah menyampaikan, sedangkan Allah-lah Yang Maha Pemberi Hidayah. Maka teruslah berdakwah hingga datang waktunya Allah Membuka hati kedua orangtua kita.

Landasi Semuanya Dengan Ilmu

Seorang anak dengan sedikit ilmu, maka bisa jadi ia akan bersikap lemah dan mudah futur (putus asa) saat menghadapi rintangan dari orangtuanya yang sudah banyak makan garam kehidupan. Bahkan, ia tidak bisa berdakwah pada orang tuanya. Sedangkan seorang anak yang ilmunya belum matang, bisa jadi ia bersikap terlalu keras. Sehingga orangtuanya justru makin antipati dengan dakwah anaknya.

Maka, bekalilah dirimu dengan ilmu berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman salafush shalih. Karena dengan ilmulah seorang mampu bersikap bijak, yaitu mampu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.

Dengan ilmulah kita mengetahui hukum dari permasalahan yang kita hadapi dan bagaimana solusinya menurut syariat. Dengan ilmulah kita mengetahui, pada perkara apa saja kita harus menaati orang tua. Pada perkara apa sebaiknya kita bersikap lembut. Dan pada perkara apakah kita harus teguh layaknya batu karang yang tetap berdiri tegak meski berkali-kali dihempas ombak. Dan yang tidak kalah pentingnya kita bisa berdakwah sesuai dengan yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.

Maka tidak benar jika saat terjadi benturan sang anak justru berputus asa dan tidak lagi menuntut ilmu syar’i. Padahal dia justru sangat butuh pada ilmu tersebut agar dapat menyelesaikan permasalahannya. Saat terjadi konflik dengan orang tua sehingga engkau kesulitan mendatangi majelis ilmu, usahakanlah tetap menuntut ilmu meski hanya sekedar membaca buku, mendengar rekaman kajian atau bertanya kepada ustadz. Dan segeralah kembali ke majelis ta’lim begitu ada kesempatan. Jangan lupa! Niatkanlah ilmu yang kau cari itu untuk menghilangkan kebodohan pada dirimu dan orang lain, terutama orangtuamu. Karena merekalah kerabat yang paling berhak atas dakwah kita.

Karena itu, wahai saudariku…
Istiqomahlah!
Dan bingkailah keteguhanmu dengan ilmu dan amal shalih
Hiasilah dirimu di depan orangtuamu dengan akhlaq yang mulia
Tegar dan sabarlah!
Tegarlah dalam menghadapi rintangan yang datang dari orangtuamu.
Dan sabarlah dalam berdakwah kepada orang tuamu
Tetap istiqomah dan berdakwah. Sambil terus mendoakan ayah dan ibu
Hingga saat datangnya pertolongan Allah…
Yaitu saat hati mereka disinari petunjuk dari Allah
insyaa Allah

Teriring cinta untuk ibu dan bapak…
Semoga Allah Mengumpulkan kita di surga Firdaus-Nya. Amiin.

Maraaji’:

1. Durhaka kepada orang Tua oleh ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, majalah Al Furqon edisi 2 Tahun IV

2. 14 Contoh Praktek Hikmah Dalam Berdakwah, Ustadz Abdullah Zaen, Lc.

3. Kajian Bahjah Qulub Al Abror oleh ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar, tanggal 4 November 2007



Dikirim pada 13 Juli 2009 di Ayah, Ibu Inilah Aku..

Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 10)
Ayat ini dinamakan dengan ayatul ukhuwwah karena berbicara tentang konsepsi Qur’ani yang baku bahwa setiap orang yang beriman terhadap orang lain yang seakidah dengannya adalah bersaudara. Konsep ukhuwwah yang berlandaskan iman ini tepat berada di pertengahan surah Al-Hujurat yang dinamakan juga dengan surah ‘Al-Adab’ karena isi kandungannya yang sarat dengan pembicaraan tentang adab dalam maknanya yang luas; adab dengan Allah, adab dengan RasulNya, adab dengan diri sendiri dan adab dengan sesama orang yang beriman.

Sesungguhnya perbedaan adalah sunnatullah yang tidak akan berubah. Di sinilah iman yang berbicara menyikapi perbedaan tersebut dalam bingkai akidah.

Secara redaksional, keterkaitan dan hubungan antar orang yang beriman begitu erat digambarkan dalam ayat di atas karena menggunakan istilah ‘ikhwah’ bukan ikhwan yang secara bahasa ikhwah bermakna saudara sekandung yang mempunyai hubungan dan ikatan darah keturunan. Seolah-olah mengisyaratkan sebuah makna yang dalam bahwa ikatan ideologis sama kuatnya dengan ikatan nasab, bahkan seharusnya lebih besar dari itu. Di sini mengandung arti bahwa keimanan seseorang masih harus diuji dengan ujian persatuan dan persaudaraan tanpa memandang ras, suku, dan bangsa. Rasulullah mengingatkan eratnya hubungan antar orang beriman dengan tamsil yang indah, “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain ibarat satu bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Kemudian Rasulullah menggenggam jari-jemarinya.” (Bukhari & Muslim)

Yang menarik perhatian di sini, pembicaraan Allah tentang kesatuan umat yang dominan dalam surah ini didahului dengan perintah untuk mendahulukan Allah dan RasulNya atas selain keduanya dalam semua aspek. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului atas (aturan) Allah dan RasulNya. Dan bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat: 1). Hal ini menunjukkan bahwa Allah sebenarnya sangat menginginkan kebaikan untuk hamba-hambaNya yang beriman. Untuk itu, Allah mencabut dari dalam hati mereka sifat kufur, fasik, dan kemaksiatan sehingga mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan inilah sesungguhnya kenikmatan dan keutamaan yang tidak terhingga bagi setiap muslim yang tercermin dalam ungkapan Allah “Fadhlan minallah wani’mah”.

Sayyid Quthb menyimpulkan berdasarkan ayat di atas bahwa taat kepada Allah dan RasulNya merupakan benteng yang kokoh untuk menghindari perpecahan dan pertikaian yang akan merapuhkan kekuatan dan persatuan umat. Karena dengan mendahulukan taat kepada Allah dan RasulNya, maka akan lenyaplah benih-benih pertikaian yang kebanyakannya berawal dari perbedaan cara pandang yang bersumber dari hawa nafsu yang diperturutkan. Sehingga mereka masuk ke dalam kancah peperangan dalam keadaan menyerahkan segala urusan secara totalitas kepada Allah swt. Inilah faktor yang sangat fundamental bagi kebaikan generasi terbaik dari umat ini sepanjang sejarah.

Di sini jelas, konsekuensi dari ukhuwwah seperti yang ditegaskan oleh ayat ukhuwah di atas adalah adanya sikap saling menyayangi, memberikan kedamaaian, keselamatan, saling tolong menolong, dan menjaga persatuan. Inilah prinsip yang harus ditegakkan dalam sebuah masyarakat muslim. Sedangkan perselisihan dan perpecahan merupakan pengecualian dari sebuah ukhuwah yang harus dihindari. Maka memerangi kelompok yang merusak persatuan dan ukhuwah umat adalah dibenarkan, bahkan diperintahkan dalam rangka melakukan ishlah dan mengembalikan mereka ke dalam barisan kesatuan ini. “Maka perangilah kelompok yang melampaui batas sehingga mereka kembali kepada aturan Allah swt.” (Al-Hujurat: 9)

Dalam hal ini, Rasulullah saw. memberi motivasi akan pentingnya menjaga keutuhan umat dengan menjaga persaudaraan diantara mereka, “Sesungguhnya kedudukan seorang mukmin di kalangan orang-orang beriman adalah seperti kepala dari tubuhnya. Ia akan merasa sakit jika badannya sakit.” (Imam Ahmad). Nash hadits yang mirip dengan ini adalah sabda Rasulullah yang bermaksud, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam kecintaan, kelembutan dan kasih sayang di antara mereka ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota sakit, maka seluruh anggota turut merasakannya dengan tetap berjaga dan demam.” (Muslim & Ahmad). Dalam riwayat Muslim juga dinyatakan, “Orang-orang yang berlaku adil akan berada di atas mimbar yang bercahaya di hari kiamat. Yaitu mereka yang berlaku adil dalam urusan orang-orang muslim dan tidak berlaku dzalim.” Kemudian Rasulullah membaca ayat ukhuwah di atas. Maka ayat ini merupakan ilat dari perintah untuk melakukan ishlah terhadap sesama muslim untuk memelihara dan membangun ukhuwah antar mereka.

Pada tataran kaidah ilmu Al-Qur’an, meskipun ayat ini turun karena sebab tertentu, namun ayat ini merupakan ayat muhkam yang harus dijadikan sebagai kaidah umum yang bersifat universal yang akan tetap berlaku bagi setiap kejadian di tengah-tengah komunitas kaum beriman, karena iman dan ukhuwwah merupakan harga yang sangat mahal, sampai Allah tetap menamakan mereka ‘orang yang beriman‘ meskipun terjadi perselisihan, bahkan peperangan di antara dua golongan tersebut seperti yang ditegaskan dalam firmanNya, “Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya.” (Al-Hujurat: 9). Inilah realitas Qur’ani yang sangat mungkin terjadi pada siapapun dan kelompok manapun. Namun tetap Allah mengingatkan satu prinsip, yaitu ukhuwah dan persatuan umat merupakan modal untuk meraih rahmat Allah swt. seperti yang tercermin dari petikan ayat terakhir ‘La’allakum turhamun’ supaya kamu mendapat rahmat.

Ayat-ayat selanjutnya berbicara tentang tips Qur’ani untuk memelihara dan menjaga keberlangsungan ukhuwwah. Di antaranya: pertama, siap menerima dan melakukan Ishlah (fa’ashlihu bayna akhawaikum). Kedua, menghindari kata-kata hinaan/olok-olokan (la yaskhar qaumun min qaumin). Ketiga, menghindari su’udz zhan (ijtanibu katsiran minadz dzan). Keempat, menghindari ghibah dan mencari-cari kesalahan (la tajassasu wala yaghtab ba’dhukum ba’dhan). Seluruh etika dan adab ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang senantiasa dipandu dan merujuk kepada barometer iman.

Sesungguhnya setan memang telah berputus asa dari membujuk dan menggoda manusia agar menyembahnya di jazirah Arab. Maka mereka akan senantiasa menyemai benih permusuhan dan pertikaian di antara orang-orang yang beriman. Maka ishlah harus dilakukan dengan cara apapun –meskipun menurut Syekh Sholih bin Al-Utsaimin– harus mengorbankan segalanya, karena hasil aktivitas ishlah itu selalu baik, dan itu demi menjaga kesatuan umat. “Wash-Shulhu Khair”.

Syekh Musthafa Masyhur dalam bukunya “jalan dakwah” mengingatkan betapa penting dan perlunya bersaudara karena Allah dalam konteks dakwah dan keumatan. Inilah yang pertama sekali Rasulullah lakukan ketika mempersaudarakan antara orang-orang muhajirin dan Anshor. Merekalah contoh teladan yang indah dan agung tentang cinta dan ikrar yang mengutamakan persaudaraannya lebih dari segalanya. “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9)

Saatnya kita mulai melihat sejauh mana peran kita di dalam membangun dan memelihara kesatuan umat Islam. Jangan sampai kemudian kita justru menjadi pelopor atau provokator terjadinya perpecahan umat. Karena dakwah Islam adalah dakwah yang dibangun di atas prinsip persaudaraan sesuai. Dalam kamus generasi awal umat Islam, menjaga keutuhan dan kesatuan umat merupakan amal prioritas yang menduduki peringkat pertama dari amal-amal yang mereka lakukan. Dan sarananya adalah dengan memelihara, membina, dan memperkuat tali persaudaraan antar mereka yang sesungguhnya sejak awal telah diikat oleh Allah ketika seseorang menyatakan keIslamannya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara.”





Akhlak Yang Baik Adalah Surga Dalam Kalbu


Kuhibur diri ini dengan berbagai harapan yang kunanti

alangkah sempitnya hidup ini

bila tanpa harapan yang luas

Manusia itu adalah cermin bagi manusia yang lain. Apabila seseorang berakhlak baik dalam pergaulannya dengan mereka, mereka pun akan membalasnya dengan berakhlak baik pula kepadanya. Dengan demikian, akan menjadi tenang dan gembiralah jiwa dan hatinya dan akan menjadi baiklah keadaannya karena dia hidup dalam masyarakat yang berteman dengannya.

Apabila seseorang berakhlak buruk lagi keras hatinya, dia akan mendapati orang lain bersikap buruk, kesat dan keras terhadapnya. Barangsiapa yang tidak menghormati orang lain, mereka pun tidak akan menghormatinya.

Orang yang berakhlak baik akan lebih berhasil meraih ketenangan hidup dan lebih terhindar dari kecemasan, ketegangan, dan berbagai gejala yang menyakitkan. Selain itu, berakhlak baik merupakan ibadah kepada Allah SWT dan termasuk hal yang sering dianjurkan oleh islam untuk dilakukan. Allah SWT telah berfirman :

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh” (QS. Al-A’raf : 199)

Allah SWT telah berfirman menggambarkan akhlak rasul-Nya :

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya” (QS. Ali Imron: 159)

Rasulullah saw telah bersabda:

“Sesungguhnya orang yang paling kusukai diantara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya diantara kalian, yaitu mereka yang bersikap rendah diri lagi menyukai orang lain dan mereka menyukainya. Sesungguhnya orang yang paling kubenci diantara kalian adalah orang-orang yang berjalan kian kemari, mengadu domba, memecah belah hubungan antara orang-orang yang saling mengasihi, lagi selalu mencari-cari kelemahan orang-orang lain yang tidak bersalah”

Kata Mutiara Hari Ini

Sesungguhnya sikap ragu-ragu, minder,

dan mencari-cari masalah tanpa harapan

semuanya akan membuat seseorang mengalami depresi mental

Dikirim pada 08 Juli 2009 di Karena Niat Begitu Berarti …



KEUTAMAAN TAUHID DAN PERINGATAN TERHADAP HAL-HAL YANG MENYELISIHINYA


Segala puji bagi Allah , shalawat dan salam atas Rasulullah.

Saudara seiman…

Kami persembahkan bagi anda tulisan ringkas tentang keutama-an tauhid dan per-ingatan terhadap hal-hal yang bertentangannya; bahkan dapat meng-hilangkannya berupa kesyirikan dan perkara-perkara bid’ah baik yang kecil maupun yang besar. Karena se-sungguhnya tauhid adalah kewajiban utama yang diserukan oleh para Rasul dan merupakan masalah pokok yang didakwahkan mereka.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَ اجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللهُ وَ مِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ فَسِيرُوا فِي اْلأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk me-nyerukan):"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)" (QS. 16:36)

Tauhid merupakan hak Allah yang terbesar atas hamba-hambanya. Di dalam shohi-hain terdapat hadits dari Muadz bin Jabal beliau berkata: Rasulullah bersabda: “Hak Allah atas hambanya adalah agar Ia diibadahi dan tidak disekutukan dengan yang lain”. Barangsiapa yang merealisasikan tauhid ini maka dia berhak masuk syurga dan barang-siapa yang melakukan perbuatan atau meyakini sesuatu yang bertentangan dengannya atau bahkan menafikannya, maka ia termasuk penghuni neraka.

Dan disebabkan pentingnya tauhid ini Allah menyuruh nabi-Nya untuk meme-rangi kaumnya sampai mereka meyakini tauhid tersebut. Rasulullah bersabda: “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mau bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali Allah” (muttafaq ‘alaih)

Perealisasian tauhid merupakan jalan kebahagiaan di dunia dan akherat; sebalik-nya menyelisihi tauhid adalah jalan menuju kesengsaraan. Merealisasikan tauhid merupa-kan jalan untuk menyatukan visi dan misi umat, sebaliknya cacatnya tauhid merupakan sebab perpecahan dan kehancuran.

Ketahuilah wahai saudaraku (semoga Allah merahmatiku dan merahmati kalian) bahwa tidak semua yang mengatakan: “LAA ILAAHA ILLALLAH” serta merta men-jadi seorang yang bertauhid; akan tetapi untuk membuktikan itu semua dibutuhkan ter-penuhinya tujuh syarat yang telah disebutkan oleh para ulama.

1. Mengetahui makna dan maksud yang dikandungnya baik dari sisi nafy (penafiyan) maupun dari sisi itsbat (penetapan). Maka dari itu tidak ada yang berhak untuk di-ibadahi kecuali Allah .

2. Meyakini kandungannya dengan keyakinan yang pasti.

3. Menerima segala konsekuensinya dengan hati dan lisannya.

4. Mematuhi apa-apa yang ditunjukkan olehnya.

5. Jujur; artinya dia akan mengucapkan apa yang ia yakini dalam hatinya.

6. Keikhlasan yang bersih dari sifat riya.

7. Mencintai kalimat ini dan segala tuntutan-tuntutannya.

Saudara-saudaraku seiman....

Sebagaimana wajibnya kita merealisasikan tauhid dan memenuhi syarat-syaratnya, kita juga harus takut terhadap ketergelinciran ke dalam kesyirikan dengan segala macam bentuk dan pintu-pintu masuk kearah sana; baik yang besar maupun yang kecil. Karena sesungguhnya kedzaliman yang paling besar adalah perbuatan syirik, Allah I meng-ampuni segala dosa hamba-hamba-Nya kecuali dosa syirik, karena barangsiapa yang ter-jatuh ke dalam dosa kesyirikan maka sesungguhnya Allah I telah mengharamkan baginya syurga dan tempat kembalinya adalah neraka.

Allah berfirman:

إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَ يَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَ مَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang-siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (QS. 4:48)

Dan kami suguhkan kepada anda sekalian wahai saudarku beberapa hal yang dapat menafikan tauhid atau paling tidak akan menorehkan cacat dalam tauhid, sebagaimana yang telah disebutkan para ahli ilmu agar kita semua berhati-hati terhadapnya; diantaranya:

1. Mengenakan gelang atau benang (apapun jenisnya) baik dari kuningan, tembaga, besi atau kulit dengan tujuan untuk menghilangkan atau menghindarkan musibah; maka hal ini termasuk syirik.

2. Meruqyah dengan tata cara bid’ah dan azimat; ruqyah dengan cara bid’ah mencakup seluruh ucapan-ucapan yang tidak bisa dipahami dan meminta bantuan kepada jin untuk mengetahui penyakit yang diderita atau untuk melepas sihir atau dengan azimat yaitu mengalungkan benang atau ikatan pada manusia atau hewan, baik dengan mencantumkan kata-kata bid’ah yang tidak ada dalam nash maupun ka-limat-kalimat yang ada dalam nash (menurut pendapat yang paling shohih), karena hal itu merupakan sebab-sebab menuju kesyirikan. Rasulullah r bersabda: “Sesung-guhnya ruqyah (ruqyah yang bersifat syirkiyyah), azimat, dan tiwalah adalah syirik”. (HR. Ahmad dan Abu Daud). Termasuk dalam hal ini adalah meletakkan secarik kertas atau sepotong besi di dalam kendaraan yang bertuliskan lafadzul jalalah “ALLAH” atau ayat kursi atau dengan meletakkan mushaf di dalam kendaraan dengan meyakini bahwa hal tersebut dapat memeliharanya dari mara bahaya.

3. Meminta berkah kepada seseorang atau mengusap-usap mereka dengan harapan mendapat berkahnya, atau meminta berkah kepada pohon dan batu dan lain-lain; bahkan terhadap ka’bah sekalipun kita tidak boleh mengusap-usapnya dengan tujuan mendapat berkah darinya. Ketika Umar bin al-Khottob t mencium hajar aswad, beliau berkata: “sesungguhnya saya tahu bahwa engkau hanyalah sebongkah batu yang tidak bisa memberi madlorot (bahaya) dan tidak pula mampu memberi man-faat. Kalau saja aku tidak melihat Rasulullah menciummu, maka aku pun tidak akan menciummu”.

4. Menyembelih binatang yang dipersembahkan untuk selain Allah . Seperti penyem-belihan yang dipersembahkan untuk para “wali”, syaithan dan jin dengan tujuan agar dapat mendatangkan manfaat bagi mereka atau menghindarkan madlorot dari mereka; maka hal ini pun termasuk perbuatan syirik besar. Dan sebagaimana kita tidak boleh menyembelih binatang untuk selain Allah, kita juga dilarang menyem-belih binatang ditempat yang digunakan untuk menyembelih binatang untuk selain Allah, walaupun orang yang menyembelih tadi berniat menyembelih untuk Allah ; hal ini sebagai benteng bagi masuknya kesyirikan.

5. Nadzar untuk selain Allah; nadzar merupakan sebuah peribadatan yang tidak boleh dialihkan untuk selain Allah .

6. Meminta pertolongan dan perlindungan kepada selain Allah; Rasulullah berkata kepada Ibn ‘Abbas : “jika engkau hendak meminta, mintalah pada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, maka mintalah tolong kepada Allah ”. Dari sini kita bisa tahu adanya larangan berdo’a atau meminta tolong pada jin.

7. Sikap ghuluw’ (berlebih-lebihan) terhadap para wali dan orang-orang shalih; yaitu dengan mengangkat kedudukan mereka ke posisi para Rasul atau ke derajat “kemak-suman” (keterpeliharaan dari salah dan dosa).

8. Thawaf (mengelilingi) kuburan; perbuatan ini pun termasuk kesyirikan. Dan dilarang juga untuk melakukan sholat di sekitar makam, karena hal ini merupakan sarana yang bisa mengantarkan seseorang untuk berbuat kesyirikan. Kalau sholat di sekitar makam saja dilarang, maka bagaimana dengan orang yang sholat untuknya atau menyembahnya???!! Kita semua berlindung dari perbuatan itu.

9. Dan untuk memelihara kemurnian tauhid, ada larangan mendirikan bangunan di atas makam; seperti membuat kubah atau membangun masjid di atasnya atau mengecat-nya.

10. Sihir atau mendatangi tukang sihir, dukun, peramal bintang dan orang-orang yang semisal mereka. Tukang-tukang sihir adalah orang-orang kafir yang dilarang untuk didatangi, dilarang untuk ditanya dan tidak boleh dibenarkan ucapannya; walaupun mereka menamakan dirinya sebagai para wali, syeikh atau nama-nama yang lainnya.

11. Tiyarah yaitu menentukan kesialan melalui burung, hari-hari tertentu, bulan atau dengan seseorang. Semua ini merupakan perbuatan yang dilarang. Karena tiyarah adalah sebuah kesyirikan sebagaimana yang terdapat dalam hadits.

12. Menggantungkan diri kepada sebab seperti kepada dokter dan pengobatan atau yang lainnya dengan melupakan tawakkal kepada Allah. Karena yang diperintahkan adalah kita berusaha dengan sebab; seperti pergi ke dokter untuk berobat. Akan tetapi hatinya tetap memiliki hubungan kuat dengan Allah, bukan dengan sebab-sebab tadi.

13. Meramal bintang atau menggunakan bintang bukan pada tujuan asasi penciptaannya. Oleh karena itu, kita tidak boleh menggunakan bintang untuk mengetahui masa de-pan atau perkara-perkara ghoib yang lain.

14. Meminta hujan dengan perantaraan bintang tertentu dan meyakini bahwa bintang itulah yang dapat mendatangkan hujan atau menahannya. Padahal yang mampu mendatangkan hujan atau menahannya adalah Allah. Maka dari itu katakanlah: “Turunkanlah hujan kepada kami berkat karunia dan rahmat-Nya”.

15. Mengalihkan peribadatan-peribadatan hati kepada selain Allah; seperti kecintaan yang mutlak atau rasa takut yang diberikan kepada selain Allah.

16. Merasa aman dari makar dan adzab Allah I atau berputus asa dari rahmat Allah; oleh karena itu janganlah merasa aman dari makar Allah dan janganlah berputus asa dari rahmat-Nya. Jadilah orang yang berada diantara rasa takut dan penuh harap kepada-Nya.

17. Tidak sabar dalam menghadapi atau menerima keputusan Allah , atau bahkan me-nentangnya dengan mengatakan:“Ya Allah, kenapa Engkau timpakan ini padaku atau pada fulan. Atau kenapa semua ini terjadi”. Dan hal-hal lain yang termasuk niyahah seperti merobek-robek baju atau menarik rambut.

18. Riya� (melakukan perbuatan karena ingin dilihat orang lain) dan Sum’ah (mengerja-kan sesuatu karena ingin didengar orang lain), dan perbuatan yang dimaksudkan un-tuk mendapatkan dunia saja.

19. Mentaati para ulama dan pemimpin dalam hal mengharamkan yang halal dan meng-halalkan yang haram; sesungguhnya ketaatan seperti ini termasuk perbuatan syirik.

20. Perkataan: “Karena kehendak Allah dan kehendakmu” atau “Kalau bukan karena Allah dan karenamu” atau “saya bergantung pada Allah dan kepadamu”; padahal semestinya ia menggunakan pernyataan “kemudian” dalam menyatakan ungkapan-ungkapan tadi. Hal ini berdasarkan perintah Rasulullah e bahwa ketika ada sese-orang yang hendak bersumpah maka ia disuruh untuk mengucapkan: “Demi Rabb ka’bah” dan mengatakan: “Karena kehendak Allah kemudian karena kehendakmu”.

21. Mencela masa, waktu, hari dan bulan.

22. Melecehkan perkara agama, rasul, al-qur’an atau sunnah; atau melecehkan para ahli ilmu (disebabkan mereka adalah orang-orang yang mengusung sunnah) seperti me-melihara jenggot, bersiwak, memendekkan celana diatas mata kaki dan lain-lain.

23. Memberikan nama kepada seseorang dengan “Abdu Nabi” atau “Abdu Ka’bah” atau “Abdu Husain”. Semua penamaan ini terlarang hukumnya, karena seharusnya ‘ubu-diyyah hanya diserahkan hanya untuk Allah; dengan memberi nama “Abdullah” Ab-du Rahman”.

24. Melukis gambar-gambar yang bernyawa yang kemudian diagung-agungkan dengan ditempelkan di tembok dan di sekeliling majlis.

25. Meletakkan gambar salib atau membiarkannya menempel di baju sebagai bentuk pengakuannya. Padahal, yang semestinya dilakukan adalah mematahkan salib ter-sebut dan menghancurkannya.

26. Memberikan loyalitas kepada orang kafir dan munafik dengan cara menghormati dan memuliakan mereka, bahkan memberikan gelar kepada mereka “sayyid” (yang mulia).

27. Berhukum dengan selain hukum yang telah Allah turunkan. Bahkan mereka mem-posisikan undang-undang buatan manusia pada posisi syara’ (hukum Allah Yang Maha Bijaksana) dengan meyakini bahwa undang-undang buatan tersebut semisal dengan hukum syara’ atau bahkan mereka memandang bahwa undang-undang tadi lebih baik dan lebih sesuai dengan perkembangan zaman. Dan keridloan manusia terhadap hal ini pun termasuk hal yang dapat menafikan tauhid seseorang.

28. Bersumpah dengan selain Allah seperti bersumpah dengan Nabi atau amanat atau dengan yang lainnya. Nabi e bersabda : “Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka sunggguh dia telah kufur atau telah berbuat syirik“. (HR. Turmudzi)



Saudaraku kaum Muslimin...

Sebagaimana wajibnya kita merealisasikan tauhid dan membentengi diri dari hal-hal yang bertentangan dengannya atau bahkan menafikannya, maka kita juga memiliki kewajiban lain yaitu menjadikan diri kita dilingkaran manhaj Ahlu Sunnah Wal jama’ah (firqah Annajiyah) yaitu manhaj yang telah ditempuh oleh pendahulu umat ini dari kala-ngan sahabat dan orang-orang setelah mereka disetiap sisi aqidah (keyakinan) dan sulu-kiyah (perangai).

Sebagaimana Ahlu Sunnah memiliki manhaj aqidah dalam masalah Asma’ dan sifat dan yang lainnya, mereka juga memiliki manhaj dalam suluk (perangai), akhlak (tingkah laku), ta’amul (interaksi) dan ibadah; bahkan disetiap lini kehidupan mereka. Oleh karena itu ketika Rasulullah e menyebutkan bahwa umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, beliau menyatakan bahwa ketujuh puluh tiga golongan tadi akan masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan.dan ketika beliau ditanya siapa mereka? Beliau menjawab: mereka adalah orang-orang yang keadaanya seperti keadaanku dan sahabatku saat ini. Beliau tidak mengatakan bahwa golongan tersebut adalah yang mengatakan begini atau berbuat begitu. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang menempuh manhaj Rasul dan sahabah dalam segala hal.

Maka kewajiban kamu wahai saudaraku adalah

1. Mensifati Allah dengan apa yang telah Allah dan Rasul sifatkan bagi diri-Nya, tanpa adanya tahrif, tamstil dan juga ta’thil. Maka dari itu, tidak ada penolakan kecuali apa yang telah Allah tolak bagi diri-Nya dan tidak pula tasybih. Sebagaimana fir-man Allah :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءُُ وَ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Men-dengar lagi Maha Melihat”. (QS. 42:11)

2. Sesungguhnya al-Qur’an adalah Kalamullah yang diturunkan dan bukanlah mahluk; yang dari-Nya berawal dan kepada-Nya akan kembali.

3. Mengimani hal-hal yang akan terjadi setelah kematian dari kejadian-kejadian di alam kubur maupun yang lainnya.

4. Meyakini bahwa iman merupakan perkataan dan perbuatan dan dia akan bertambah dengan ketaatan serta akan berkurang dengan kemaksiatan.

5. Tidak mengkafirkan seorangpun dikarenakan perbuatan dosa yang bukan syirik se-lama dia belum menghalalkannya. Dan sesungguhnya pelaku dosa besar apabila ia bertaubat, maka Allah akan mengampuninya. Adapun kalau dia meninggal dan belum bertaubat, maka dia berada di bawah kehendak Allah . Kalau Allah meng-hendaki Ia akan mengampuninya, dan kalau Ia menghendaki ia akan mengazabnya kemudian memasukannya ke dalam surga-Nya. Dan dia tidak akan kekal di neraka kecuali bagi orang yang terjerumus ke dalam kekafiran dan kesyirikan. Salah satu perilaku kekafiran adalah meninggalkan sholat.

6. Ahlu Sunnah mencintai, memuliakan dan memberikan loyalitas mereka kepada para sahabat. Baik mereka itu termasuk ahlu Bait atau bukan, dan Ahlu Sunnah meyakini bahwa tidak ada seorang pun diantara mereka yang ma’sum (terpelihara dari dosa). Sahabat yang paling mulia adalah Abu Bakar siddiq kemudian Umar bin Khottob kemudian ‘Utsman ibn ‘Affan kemudian Ali bin Abi Thalib . Dan Ahlu Sunnah memilih sikap diam terhadap hal-hal yang mereka perselisihkan, karena mereka semua adalah para mujtahid; kalau ijtihad mereka benar maka mereka men-dapatkan dua pahala, adapun kalau ijtihad mereka keliru, maka mereka mendapat-kan satu pahala.

7. Ahlu Sunnah meyakini adanya karomah bagi para wali, yaitu orang-orang yang ber-takwa lagi sholih. Allah berfirman:

أَلآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ اللهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَ لاَ هُمْ يَحْزَنُونَ ` الَّذِينَ ءَامَنُوا وَ كَانُوا يَتَّقُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. 10:62)

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa”.(QS. 10:63)

8. Ahlu Sunnah berpendapat tidak di perbolehkannya melakukan kudeta terhadap se-orang pemimpin dan tidak mengkafirkannya sampai jelas adanya keterangan dari Allah I.

9. Ahlu Sunnah beriman kepada Qodar yang baik dan buruk dari Allah dengan se-gala tingkatannya, dan juga mengimani bahwa manusia diberi ketetapan dan diberi pilihan; mereka tidak menafikan qodar dan juga tidak menafikan pilihan atau usaha dari hamba, akan tetapi Ahlu Sunnah menetapkan keduanya.

10. Ahlu Sunnah mencintai kebaikan pada seluruh manusia dan mereka adalah sebaik-baik manusia, bahkan mereka adalah manusia yang paling adil dengan sesama.



Dikirim pada 03 Juli 2009 di TAUHID Benteng Utama
03 Jul

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ Iيَقُوْلُ:

(( إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَ إِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَ رَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَ رَسُوْلِهِ، وَ مَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ )) [رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري و ابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]

Dari Amīr al-Mu’minīn, Abū Hafsh ‘Umar bin al-Khaththāb t, dia menjelaskan bahwa dia mendengar Rasulullah r bersabda:

“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut” (HR. al-Bukhāriy dan Muslim)



Catatan Penting:

1. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhāriy, Muslim, Ashhāb al-Sunan dan lainnya.

Diriwayatkan secara tafarrud (sendiri, berarti hadits ahad) secara bersambung dari ‘Umar adalah ‘Alqamah bin Abi Waqqāsh, kemudian oleh Muhammad bin Ibrāhim al-Taymiy, kemudian oleh Yahya bin Sa’id al-Anshāriy, kemudian setelahnya diriwayatkan oleh banyak perawi.

Hadits ini termasuk hadits yang sangat mengagumkan yang tercantum dalam Shahih al-Bukhari sekaligus sebagai hadits pertama yang tercantum, demikian hadits yang menjadi penutupnya, yaitu hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurayrah:

(( كلمتان حبيبتان إلى الرحمن....... ))

“Ada dua kalimat yang disukai oleh al-Rahman, yaitu…….”

2. Imam al-Nawawiy mengawali ‘Arba’in-nya dengan hadits ini.

Dan banyak pula di antara para ulama yang memulai kitabnya dengan mencantumkan hadits ini, di antaranya al-Imam al-Bukhariy dalam Shahih-nya, ‘Abd al-Ghaniy al-Maqdisiy dalam ‘Umdah al-Ahkam, al-Baghawiy dalam Syarh al-Sunnah dan Mashābih al-Sunnah dan al-Suyuthiy dalam al-Jami’ al-Shaghir.

Al-Imam al-Nawawiy dalam bagian awal kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (1/35) mengemukakan sebuah pasal yang mengupas hadits ini, dengan berkomentar:

Ibnu Rajab dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam (1/61) berkata:

3. Ibnu Rajab berkata:

Ketika mengomentari pendapat al-Imam Ahmad, beliau (1/71) berkata”

Ibnu Rajab (1-61-63) mengemukakan berbagai komentar ulama tentang hadits-hadits yang menjadi pijakan Islam:

4. “Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya”, Innama adalah huruf al-hashr, adapun alif lam dalam al-a’mal adalah untuk menunjukkan hal yang berkaitan khusus dengan masalah taqarrub kepada Allah, namun ada pula pendapat yang mengatakan bahwa alif lam tersebut adalah menunjukkan setiap amalan yang bersifat umum.

5. “Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya”, Ibnu Rajab (1/65) berkata:

6. “Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut”

7. Ibnu Rajab (1/74-75) berkata:



Faedah Hadits:

1. Tdak akan pernah ada amal perbuatan kecuali disertai dengan niat.

2. Amal perbuatan tergantung niatnya.

3. Pahala seseorang yang mengerjakan suatu amal perbuatan sesuai dengan niatnya.

4. Seorang ‘alim (guru, ustadz atau pendidik) diperbolehkan memberikan contoh dalam menerangkan dan menjelaskan.

5. Keutamaan hijrah, karena Rasulullah saw menjadikannya sebagai contoh permisalan.

Dalam Shahih Muslim (No. 192), dari ‘Amr bin al-‘Ash, bahwa Rasulullah saw bersabda:

6. Seseorang akan mendapatkan pahala kebaikan, atau dosa, atau terjerumus dalam perbuatan haram dikarenakan niatnya.

7. Suatu amal perbuatan tergantung wasilahnya. Maka sesuatu yang mubah dapat menjadi suatu bentuk ketaatan dikarenakan niat seseorang ketika mengerjakannya adalah untuk memperoleh kebaikan, seperti ketika makan dan minum, apabila diniatkan untuk menyemangatkan diri dalam ketaatan.

8. Suatu amal perbuatan dapat menjadi kebaikan yang berpahala bagi seseorang, namun dapat pula menjadi dosa yang diharamkan bagi seseorang yang lain, adalah sesuai dengan niatnya.

Dikirim pada 03 Juli 2009 di Karena Niat Begitu Berarti …

Menjadi Hamba yang Ikhlas

Ikhlas, kata yang tidak asing lagi di telinga kita. Sebuah kata yang singkat namun maknanya sangat besar. Sebuah kata yang seandainya hilang dari diri seorang muslim, maka akan berakibat fatal bagi kehidupannya, di dunia terlebih lagi di akhirat kelak. Amal seorang hamba tidak akan diterima jika dilakukan tanpa didasari keikhlasan karena Allah Subhaanahu Wataala.

Allah Subhaanahu Wataala berfirman yang artinya, "Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya." (QS. Az-Zumar: 2).

Keikhlasan merupakan syarat diterimanya suatu amal perbuatan. Di samping syarat lainnya yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Ibnu Masud Radhiyallahu Anhu berkata, "Perkataan dan perbuatan seorang hamba tidak akan bermanfaat kecuali dengan niat (ikhlas), dan tidaklah akan bermanfaat pula perkataan, perbuatan dan niat seorang hamba kecuali yang sesuai dengan sunnah (mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam)."

APA ITU IKHLAS?
Banyak ulama yang memulai kitab-kitab mereka dengan membahas permasalahan niat (di mana hal ini sangat erat kaitannya dengan keikhlasan). Di antaranya Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya, Imam Al Maqdisi dalam kitab umdatul Ahkam, Imam Nawawi dalam kitab Arbain an-Nawawi dan Riyadhus Shalihin-nya, Imam Al Baghawi dalam kitab Masobihis Sunnah, serta ulama-ulama lainnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keikhlasan tersebut. namun, apakah sebenarnya makna dari ikhlas itu sendiri?

Keikhlasan adalah ketika Anda menjadikan niat dalam melakukan suatu amalan hanya karena Allah Subhaanahu Wataala semata. Anda melakukannya bukan karena selain Allah. Bukan karena riya (ingin dilihat manusia) atau pun sumah (ingin didengar manusia). Bukan pula karena Anda ingin mendapatkan pujian serta kedudukan yang tinggi di antara manusia. Juga bukan karena Anda tidak ingin dicela oleh manusia. Apabila Anda melakukan suatu amalan hanya karena Allah semata bukan karena kesemua hal tersebut, maka insya Allah Anda telah ikhlas. Fudhail bin Iyadh berkata, "Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah riya."

IKHLAS, DALAM HAL APA?
Sebagian orang menyangka, keikhlasan itu hanya ada dalam perkara-perkara ibadah semata, seperti shalat, puasa, zakat, membaca al Quran, haji dan amal-amal ibadah lainnya. Namun keikhlasan pun harus ada dalam amalan-amalan yang berhubungan dengan muamalah. Ketika Anda tersenyum, Anda harus ikhlas. Saat Anda mengunjungi saudara dan teman-teman Anda, jangan lupakan ikhlas. Ikhlas pun harus ada ketika Anda meminjamkan saudara Anda barang yang dia butuhkan. Tidaklah Anda lakukan semua itu kecuali semata-mata karena Allah Subhaanahu Wataala. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,



َ أَنَّ رَجُلاً زَارَ أَخًا لَهُ فِى قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا فَلَمَّا أَتَى لَيْهِ قَالَ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ أُرِيدُ أَخًا لِى فِى هَذِهِ الْقَرْيَةِ. قَالَ هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا قَالَ لاَ غَيْرَ أَنِّى أَحْبَبْتُهُ فِى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. قَالَ فَإِنِّى رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ

"Ada seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di kota lain, maka Allah mengutus malaikat di perjalanannya, ketika malaikat itu bertemu dengannya, malaikat itu bertanya, "Hendak ke mana Anda?" Maka dia pun berkata, "Aku ingin mengunjungi saudaraku yang tinggal di kota ini." Maka malaikat itu kembali bertanya, "Apakah engkau memiliki suatu kepentingan yang menguntungkanmu dengan-nya?" orang itu pun menjawab, "Tidak, hanya saja aku mengunjunginya karena aku mencintainya karena Allah.” Malaikat itu pun berkata, "Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk mengabarkan kepadamu bahwa sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu karena-Nya." (HR. Muslim).

Tidaklah orang ini mengunjungi saudaranya tersebut kecuali hanya karena Allah, maka sebagai balasannya, Allah pun mencintai orang tersebut.

Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
"Tidaklah engkau menafkahi keluargamu yang dengan perbuatan tersebut engkau mengharapkan wajah Allah, maka perbuatanmu itu akan diberi pahala oleh Allah, bahkan sampai sesuap makanan yang engkau letakkan di mulut istrimu." (HR. Bukhari Muslim).

Renungkan, "hanya" dengan sesuap makanan yang kita letakkan di mulut istri kita—apabila kita melakukannya ikhlas karena Allah—maka Allah akan memberinya pahala.

Sungguh keberuntungan yang sangat besar seandainya kita dapat menghadirkan keikhlasan dalam setiap gerak-gerik kita.

KARENA IKHLAS, AMAL KECIL PUN BERBERKAH
Bukanlah banyaknya amal semata yang dituntut dalam setiap perbuatan kita, namun yang paling utama ada keikhlasannya. Amal yang dinilai kecil di mata manusia, apabila kita melakukannya ikhlas karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipatgandakan pahala dari amal perbuatan tersebut. Abdullah bin Mubarak—rahimahullah—berkata, "Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil karena niat."

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Seorang laki-laki melihat dahan pohon di tengah jalan, ia berkata, “Demi Allah aku akan singkirkan dahan pohon ini agar tidak mengganggu kaum muslimin.” Maka ia pun masuk surga karenanya." (HR Muslim).

Lihatlah, betapa sederhananya amalan yang dia lakukan, namun hal itu sudah cukup bagi dia untuk masuk surga karenanya. Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
"Dahulu ada seekor anjing yang berputar-putar mengelilingi sumur. Anjing tersebut hampir-hampir mati karena kehausan. Kemudian hal tersebut dilihat oleh salah seorang pelacur dari Bani Israil. Ia pun mengisi sepatunya dengan air dari sumur dan memberikan minum kepada anjing tersebut, maka Allah pun mengampuni dosanya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Subhanallah, seorang pelacur diampuni dosanya oleh Allah hanya karena memberi minum seekor anjing, betapa remeh perbuatannya di mata manusia, namun dengan hal itu Allah mengampuni dosa-dosanya. Maka bagaimanakah pula jika seandainya yang ditolongnya adalah seorang muslim?
Sebaliknya, amal perbuatan yang besar nilainya, tapi tidak dilakukan dengan ikhlas, maka hal itu tidak akan berfaedah baginya. Dalam sebuah hadits dari Abu Umamah Al Bahili Radhiyallahu Anhu, ia berkata,

“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan bertanya, “Wahai, Rasulullah! Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan pahala dan agar dia disebut-sebut oleh orang lain?” Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun menjawab, “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Orang itu pun mengulangi pertanyaannya tiga kali. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallampun kembali menjawab, “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali apabila amalan itu dilakukan ikhlas karena-Nya." (HR. Abu Daud dan an-Nasai).

Ada orang yang berjihad, dan itu adalah suatu amalan yang sangat besar, namun tidak ikhlas dalam amal perbuatannya tersebut, maka dia pun tidak mendapatkan balasan apa-apa.

BUAH KEIKHLASAN
Seseorang yang telah beramal lalu mengikhlaskan amalanya itu karena Allah—di samping amal tersebut harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam—maka keikhlasannya tersebut akan mampu mencegah setan untuk menguasai dan menyesatkannya. Allah berfirman tentang perkataan Iblis—laknatullah alaihi—yang artinya,

"Iblis menjawab, "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka." (QS. Shad: 82-83).

Buah lain yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas adalah orang tersebut akan Allah Subhaanahu Wataala jaga dari perbuatan maksiat dan kejelekan, sebagaimana Allah Subhaanahu Wataala berfirman tentang Nabi Yusuf Alaihissalam yang artinya,
"Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas." (QS. Yusuf: 24).

Pada ayat ini Allah Subhaanahu Wataala mengisahkan tentang penjagaan Allah Subhaanahu Wataala terhadap Nabi Yusuf sehingga beliau terhindar dari perbuatan keji, padahal faktor-faktor yang mendorong beliau untuk melakukan perbuatan tersebut sangatlah kuat. Tapi karena Nabi Yusuf Alaihissalam termasuk di antara orang-orang yang ikhlas, maka Allah pun menjaganya dari perbuatan maksiat.

Karenya, seorang hamba yang sering dan berulang kali terjatuh dalam perbuatan kemaksiatan, maka hal tersebut merupakan indikasi minim atau bahkan tidak adanya keikhlasan di dalam setiap perbuatannya. Mari instropeksi diri dan perbaiki kembali niat-niat kita. Semoga Allah Subhaanahu Wataala menjaga kita dari segala kemaksiatan dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas. Amin ya Robbal ‘Alamin.
Wallahu .

Dikirim pada 23 Juni 2009 di Karena Niat Begitu Berarti …






Karena Niat Begitu Berarti …

Alkisah, tiga orang “besar” yang akhirnya diseret ke neraka karena salah niat. Padahal mereka adalah tokoh – tokoh terkemuka yang sarat dengan prestasi gemilang di tengah kaumnya. Tetapi ada buruk yang tertanam di lubuk hati mereka yang paling dalam.

Mereka dicampakkan ke dalam neraka akibat terbongkarnya niat buruk tersebut di mahkamah keadilan Allah ’Azza Wa Jalla. Siapakah mereka? Sekali lagi, mereka adalah para pembaharu, pembangun dan pejuang bagi kaumnya. Mereka adalah seorang ’alim (berilmu), seorang dermawan (banyak berinfaq) dan yang lainnya adalah seorang mujahid (pejuang di medan perang).

Untuk yang pertama, Allah mendatangkan dan menanyainya : “Apa yang dahulu engkau perbuat di dunia?. Dia menjawab : “Aku menuntut ilmu di jalanMu, lalu kusebarkan ilmu itu karena mencari keridhaanMu”. Maka dikatakan kepadanya : “Engkau dusta! Sebenarnya engkau mencari ilmu supaya manusia menyebutmu sebagai seorang ’alim”. Kemudian diperintahkanlah malaikat penjaga neraka untuk menyeretnya lalu melemparkannya ke dalam neraka.

Untuk yang kedua, Allah mendatangkannya dan menanyainya : Apa yang dahulu engkau perbuat di dunia? Dia menjawab : “Aku mencari harta yang halal, kemudian aku infaqkan harta itu di jalanMu”. Maka dikatakan kepadanya : “Engkau dusta! Engkau infaqkan hartamu supaya manusia menyebutmu sebagai seorang dermawan”. Kemudian diperintahkanlah malaikat penjaga neraka untuk menyeretnya lalu melemparkannya ke dalam neraka.

Dan yang ketiga, dengan nasib yang sama, Allah mendatangkannya dan menanyainya : Apa yang dahulu engkau perbuat di dunia? Dia menjawab : “Aku berperang di jalan Allah, hingga aku mati terbunuh”. Maka dikatakan kepadanya : “Engkau dusta! Engkau berperang supaya manusia menyebutmu sebagai seorang pemberani”. Kemudian diperintahkanlah malaikat penjaga neraka untuk menyeretnya lalu melemparkannya ke dalam neraka.

Demikianlah, kisah di atas yang disebutkan oleh Nabi kita Muhammad Bin Abdullah shallahu ’alaihi wasallam dalam sebuah haditsnya kepada kita sebagai sebuah pelajaran sekaligus peringatan bagaimana membangun amal dari sebuah pondasi yang kokoh (baca : IKHLAS) agar memiliki nilai, makna dan arti, kini dan tentunya kelak di akhirat. Allah Ta’ala berfirman, artinya : "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; dalam (menjalankan) agama dengan lurus." (QS. Al-Bayyinah: 5).

Urgensi Niat

Dari Amirul mukminin, Abu Hafsh, Umar bin Khaththab ra. berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Segala perbuatan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan (pahala) dari apa yang diniatkannya. Barangsiapa berhijrah untuk mencari ridha Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa berhijrah untuk mencari dunia atau untuk seorang perempuan yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya hanya untuk itu (tidak mendapat pahala di sisi Allah)”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Para ulama memasukkan hadits niat ini di awal pembahasan kitab – kitab mereka. Hal ini dilakukan tentu bukan tanpa maksud dan tujuan. Bahkan hadits ini masuk dalam 70 bab masalah fiqh. Imam Syafi’i rahimahullahu mengatakan bahwa hadits ini merupakan sepertiga dari ilmu. Dan Imam Abu Dawud rahimahullahu bahkan mengatakan bahwa ia adalah separuh dari agama. Abdullah Bin Mubarak berkata : “Berapa banyak amal yang besar menjadi kecil karena niatnya, dan berapa banyak amalan yang remeh menjadi besar karena niatnya”.

Jika demikian halnya, keberadaan niat begitu berarti bagi sebuah amalan. Maka, niat menjadi hal pokok yang multifungsi. Di antara fungsi – fungsi tersebut adalah :

a. Menyempurnakan dan Mengesahkan.

Tanpa niat yang jelas, sebuah amal tidaklah sempurna, tidak bernilai di sisi Allah. Menurut jumhur ulama, “innamal a’malu binniat” maksudnya adalah “innamaa sihhatul a’maal” : syarat sahnya sebuah amalan. Dan sebagian ulama menegaskan “innamal a’malu binniat” maksudnya sebagai “innamaa kamalul a’maal” : sesungguhnya kesempurnaan amal dengan niat. Jadi, niat menjadi rukun sebuah ibadah, tidak ada ibadah tanpa niat.

b. Mengubah dan Menjadikan.

Niat yang buruk bisa mengubah suatu amal yang baik menjadi buruk. Misalnya, shadaqah adalah sebuah amal yang baik, tapi bila dilakukan untuk pamrih tertentu seperti jabatan, sanjungan, kedudukan, popularitas, maka gugurlah nilainya. Tetapi kaidah ini tidaklah berlaku sebaliknya. Sebuah amal yang buruk tidak bisa berubah menjadi amal yang baik hanya karena niat baik pelakunya. Seorang durhaka, tak bisa menjadikan kedurhakaannya sebagai amal shalih, karena ia meniatkannya untuk sebuah kebaikan. Korupsi, mencuri, merampok, riba, dan maksiat lainnya tidaklah menjadi benar dengan niat dan tujuan ibadah. “Bismillah, nawaitu korupsi lillahi ta’ala..”, ini jelas adalah sebuah kedunguan yang nyata.

Hal ini karena kaidah ushul mengatakan : “al ghayah laa tubarriru al washilah” ; tujuan yang baik tidak menghalalkan segala cara. Jadi, niat dan tujuan yang baik haruslah dilakukan dengan cara yang baik pula. Bukankah Rasul kita yang mulia shallalhu ’alaihi wasaalam pernah bersabda : “Sesungguhnya allah mewajibkan kebaikan atas segala sesuatu” (HR. Muslim) ?.

Begitu pula, niat yang buruk bisa menjadikan suatu yang halal menjadi haram, yang mubah pun menjadi haram. Ketika seorang mengkonsumsi makanan yang halal dan proses memakannya pun merupakan perkara yang mubah, dapat berubah menjadi haram jika ia maksudkan sebagai “nutrisi” menguatkan tulang dan sendinya untuk bermaksiat, yang jika tanpa makan dan minum ia tak mampu menjalankan “aksinya”.

c. Menguatkan.

Dengan niat, amal menjadi kuat, komitmen menjadi kokoh, motivasi menjadi dahsyat, badan yang lemas menjadi kuat. Itulah niat yang kuat, berubah menjadi sebuah ’azam yang bulat, sebagaimana firman Allah Ta’ala, artinya : “Apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah (QS. Ali Imran : 159).

Seorang dilanda lapar dan dahaga yang amat saat berpuasa. Jika bukan karena niat puasa, mengharapkan pahala dan ganjaran dari Allah Maha Pemberi Perhitungan, jiwanya akan gelisah mencari jalan untuk segera memenuhi “keroncongan” perutnya. Tapi karena ia telah memasang niat bulat berpuasa saat sahur bahkan ketika malamnya, maka ia kuat menjalaninya. Bukan hanya itu, berbekal niat yang bulat, iapun mampu untuk kuat saat menjalankan ketataan, sabar dalam menjauhi maksiat dan hal – hal yang dapat merusak puasanya padahal sebagiannya halal baginya, tegar menghadapi godaan, dan seterusnya.

Maka, mari kita perbaharui niat dalam setiap amalan. Sampai pada setiap derap langkah agar amalan dapat langgeng dan tuntas karena kuatnya jiwa menjalaninya.

d. Membedakan.

Niat itu pula yang dapat membedakan antara ibadah dan adat, antara ibadah dan aktivitas yang nilainya tak lebih dari sekesar rutinitas belaka. Dengan niat, dua jenis amal yang nampaknya sama menjadi beda, kualitasnya apalagi nilainya di sisi Allah Subhaanahu Wata’ala. Adat, kebiasaan dan rutinitas menjadi sesuatu yang bebarti ketika hal itu diniatkan untuk ibadah. Seseorang yang memasuki masjid dengan mendahulukan kaki kanan, sekali waktu dengan kaki kirinya, karena kebiasaan dan rutinitias maka tidak bernilai apa- apa. Tapi ketika ia masuk masjid dengan mendahulukan kaki kanannya, dengan kesadaran dan niat untuk menigkuti sunnah Rasulullah shallalhu ’alaihi wasallam maka saat itu pula aktivitasnya berubah menjadi sebuah ibadah yang tinggi nilainya. Seorang shalih , Zubaid Al Yamy berkata : “Sunguh, aku benar – benar suka jika ada niat dalam segala sesuatu, termasuk pula tatkala makan dan minum”. Kata beliau juga : “Berniatlah dalam segala kebaikan yang engkau kehendaki, termasuk tatkala engkau ingin menyapu”.

Itu di dunia. Sampai di akhirat nanti, ketika setiap hamba dibangkitkan oleh Allah Sang Kuasa, fungsi ini amatlah berperan. Betapa tidak, setiap hamba akan dibangkitkan (baca : dimintai pertanggungan jawab) dalam keadaan yang berbeda – beda, sesuai dengan niat – niat mereka. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah shallalahu ’alaihi wasallam menceritakan kepada Aisyah radhiallahu ’anha, istinya, beliau bersabda : “Suatu pasukan tentara akan menyerang kabah. Ketika tiba di suatu tanah lapang, mereka semua dibenamkan (ke tanah).” Aisyah bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa mereka dibinasakan semua. Padahal, diantara mereka terdapat kaum awam (yang tidak mengerti persoalan) dan orang-orang yang bukan golongan mereka (mereka ikut karena dipaksa)?” Rasulullah bersabda,”Mereka semua dibinasakan. Kemudian mereka dibangkitkan (pada hari kiamat) sesuai niat mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

e. Membesarkan.

Niat membuat sesuatu yang sederhana menjadi besar. Ada sebuah fenomena yang menarik. Di Masjid Wihdatul Ummah, Makassar, diadakan ta’lim secara rutin setiap pekan. Majelis ini selalu dipenuhi oleh jama’ah, dari kalangan remaja, dewasa hingga manula, yang begitu antusias dan menyesaki ruangan masjid yang sebenarnya cukup luas. Ada kebiasaan yang mungkin tidak dihiraukan oleh kebanyakan jama’ah. Padahal jika dicermati, kebiasaan seperti ini adalah suatu yang tak biasa, darinya dapat terungkap sebuah kebesaran jiwa dan tujuan. Apa itu? Parkir gratis. Ya, penyediaan jasa parkir motor setiap jama’ah, tanpa dipungut biaya sebagai balas jasa. Sebuah hal yang jarang didapati kecuali pada tempat – tempat umum, biasa, dan menjajikan “uang”. Setiap motor disusun dengan rapi, dan yang pasti aman, karena panitia masjid menyiapkan “pasukan khusus” untuk menjaganya. Setiap jama’ah tidak lagi terusik dengan kecemasan akan keamanan motornya, sehingga merasa nyaman dan tenang menyimak mutiara ilmu dari sang ustadz. Fenomena ini jelas hal yang sederhana dan tidak sebesar dan semegah jihad. Tetapi, Insya Allah dengan niat untuk ibadah dari para “pelakunya”, maka iapun menjadi sebuah yang besar. Setidak-tidaknya, motor jama’ah yang tersusun rapi, menggambarkan ukhuwah islamiyah, kekokohan bangunan kaum muslimin sebagai “shaffan ka’annahum bunyanun marshush..”. Begitu pula, motor jama’ah yang tersusun rapi seperti itu, membawa dampak psikologis bagi jam’ah sehingga mereka rajin menghadiri majelis ilmu, khususnya di tempat itu. Dan yang lebih besar lagi, kenampakan seperti ini bisa “menggetarkan” musuh – musuh Allah yang dengannya agama Allah bisa menang di atas agama lainnya, sebagaimana firmanNya, artinya : “ … menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya... ” (QS. Al Anfal : 60).

Jadi, niat yang besar, sungguh menjadikan pemiliknya “besar” di dahapan Allah. Sehingga kita patut untuk mengatakan : “Laa tahkiranna minal ma’rufi syai’an … “ karena “ kullu ma’rufin shadaqah...” : Jangan meremehkan sebuah kebaikan (sekecil apapun itu) karena setiap kebaikan bernilai shadaqah.

f. Melipatgandakan.

Sebenarnya fungsi ini sama dengan fungsi terdahulu yakni membesarkan. Tetapi, fungsi ini perlu untuk di-ta’qid (dikuatkan) kembali. Bagaimana niat bisa melipatgandakan (pahala) amalan? Ya, jelas bisa. Dalam dakwah, seorang melakukan kerja – kerja dakwah yang ia niatkan untuk kemashlahatan umat secara umum, tentu ia merupakan hal yang bisa melipatgandakan pahala di sisi Allah, meskipun yang empunya niat telah meninggal dunia. Bukakankah Rasul kita yang mulia shallallahu ’alaihi wasallam telah mengajarkan kita bagaimana cara “membuka rekening royalti” kebaikan yang abadi? Yakni, mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada manusia, sehingga ilmu tersebut diamalkan oleh manusia. Kemudian pahala atas amal manusia juga “ditransfer” kepada mereka yang telah mengajarkannya.

Begitulah, niat adalah hal yang pokok dengan segenap fungsinya, begitu berarti bagi setiap kita. Niat akan menentukan seseorang beruntung atau celaka, diterima atau ditolak, kecil atau besar. Dan ingatlah bahwa niat yang baik (baca : IKHLAS) tidaklah cukup, melainkan ia mesti disandingkan dengan amalan yang baik pula (baca : ITIBA’URRASUL (mengikuti sunnah nabi)). Hal ini tidak lain agar sebuah amalan tidak “menguap”, karena ia tertolak di sisi Allah Rabbul ’Alamin. Wallahu A’lam. (abumujahid)

Bahan Bacaan : Zero to Hero, Solikhin Abu Izzuddin dan beberapa artikel lainnya



Dikirim pada 23 Juni 2009 di Karena Niat Begitu Berarti …

Alhamdulilllah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


« رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ »

“Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda,”(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim)

Dari Abdullah bin ’Umar, ia berkata,



رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَ سَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (Adabul Mufrod no. 2. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan jika sampai pada sahabat, namun shahih jika sampai pada Nabishallallahu ’alaihi wa sallam)

Jasa Orang Tua Begitu Besar

Sungguh, jasa orang tua apalagi seorang ibu begitu besar. Mulai saat mengandung, dia mesti menanggung berbagai macam penderitaan. Tatkala dia melahirkan juga demikian. Begitu pula saat menyusui, yang sebenarnya waktu istirahat baginya, namun dia rela lembur di saat si bayi kecil kehausan dan membutuhkan air susunya. Oleh karena itu, jasanya sangat sulit sekali untuk dibalas, walaupun dengan memikulnya untuk berhaji dan memutari Ka’bah.

Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu ‘Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang itu bersenandung,



إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ - إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ

Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.
Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.

ثُمَّ قَالَ : ياَ ابْنَ عُمَرَ أَتَرَانِى جَزَيْتُهَا ؟ قَالَ : لاَ وَلاَ بِزَفْرَةٍ وَاحِدَةٍ

Orang itu lalu berkata, “Wahai Ibnu Umar apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” (Adabul Mufrod no. 11. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih secara sanad)

Berbakti pada Orang Tua adalah Perintah Allah

Allah Ta’ala berfirman,



وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al Isra’: 23)

Dalam beberapa ayat, Allah selalu menggandengkan amalan berbakti pada orang tua dengan mentauhidkan-Nya dan larangan berbuat syirik. Ini semua menunjukkan agungnya amalan tersebut. Allah Ta’ala berfirman,



وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak.” (QS. An Nisa’: 36)



قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak.” (QS. Al An’am: 151)



وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14)

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 13-14)



وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.” (QS. Al Ahqaf: 15)

Pujian Allah pada Para Nabi karena Bakti Mereka pada Orang Tua

Perhatikanlah firman Allah Ta’ala tentang Nabi Yahya bin Zakariya ‘alaihimas salam berikut,



وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا

“Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.” (QS. Maryam: 14)

Begitu juga Allah menceritakan tentang Nabi Isa ‘alaihis salam,



قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آَتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا (30) وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ مَا دُمْتُ حَيًّا (31) وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا (32)

“Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 30-32)

Amalan yang Paling Dicintai oleh Allah adalah Berbakti pada Orang Tua

Kita dapat melihat pada hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan,



سَأَلْتُ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ « الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا » . قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ « ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ » .قَالَ ثُمَّ أَىّ قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قَالَ حَدَّثَنِى بِهِنَّ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِى

“Aku bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat pada waktunya’. Lalu aku bertanya, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

Dikirim pada 23 Juni 2009 di Ayah, Ibu Inilah Aku..

Para pembaca yang budiman, betapa pun tinggi tingkat ketakwaan seseorang, ia bukanlah malaikat yang tidak pernah bermaksiat kepada Rabbnya. Manusia tetaplah manusia, di mana perjalanannya menuju akherat terkadang mendapatkan sandungan hingga kakinya terporosok ke dalam lubang kemaksiatan. Akan tetapi orang yang telah membulatkan tekadnya untuk bisa sampai ke taman-taman surga dan melihat Rabbnya, ia akan segera bangkit dan mengangkat kakinya agar dapat melanjutkan perjalanan ke tempat yang dinanti. Ia juga tidak akan membiarkan luka yang membekas di kakinya, namun dengan segera ia akan mengobatinya dengan taubat dan amal shalih. Mereka inilah yang Allah puji di dalam Al Qur’an yang artinya, “Dan orang-orang yang apabila mengerjakan pebuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui.” (Ali ‘Imran: 135)

Tidak Meremehkan Dosa

Dosa adalah noktah hitam yang mengotori hati. Hati adalah ibarat sebuah kaca, ia tak dapat digunakan untuk melihat dan membedakan benda di depannya, manakala permukaannya telah tertutupi oleh noktah-noktah hitam. Begitulah hati, manakala dosa-dosa semakin banyak dan menutupinya, maka hatipun tidak bisa lagi untuk membedakan mana jalan Allah dan mana jalan setan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sekali-kali (tidak demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (Al Muthaffifin: 14).

Orang-orang yang beriman serta mencintai Allah dan Rasul-Nya, tatkala terjatuh ke dalam dosa, hatinya terasa berat dan sakit bagai tersayat-sayat pisau yang bergerigi. Mereka begitu menyesal atas perbuatan yang telah dilakukannya. Mereka tidaklah melihat kecilnya dosa yang telah dilakukan, akan tetapi mereka melihat siapakah Dzat yang telah ia maksiati. Oleh karena itu, mereka segera menghinakan dirinya di hadapan Rabbnya dan memohon ampun kepada-Nya. Mereka begitu yakin bahwa kematian akan menjemput mereka kemudian akan dibangkitkan dari kuburnya dan akan berdiri di hadapan Rabbnya untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Lalu alasan apakah yang akan disampaikan kepada Dzat yang menguasai hari pembalasan atas dosa yang telah dilakukannya? Mereka begitu takut tentang gambaran siksa neraka yang telah diberitakan oleh Nabi mereka, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya seringan-ringan siksaan bagi penduduk neraka pada hari kiamat ialah seorang laki-laki yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya.” (HR. Bukhori dan Muslim). Lalu alasan apalagi yang membuat seseorang meremehkan dosa-dosa?

Bangga dalam Kubangan Kemaksiatan

Tatkala seseorang terbiasa melakukan dosa dan hatinya telah tertutupi oleh karat kemaksiatan, ia pun tidak lagi merasa risih terhadap pandangan dan gunjingan orang atas kemaksiatannya. Dia bahkan merasa bangga atas perbuatan kemaksiatannya dan dengan PD nya ia akan berkata, “Wahai fulan, aku telah berbuat begini dan begini!.” Manusia macam inilah yang tidak diampuni dosanya dan menjadi sempitlah jalan taubat atas dirinya sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap umatku akan dimaafkan kecuali bagi orang yang terang-terangan melakukan dosa.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Allah Gembira Melihat Hamba-Nya yang Bertaubat

Para pembaca yang budiman, perlu untuk kita ketahui bahwa kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya jauh melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Oleh karena itu, seseorang yang terkadang dikalahkan oleh hawa nafsunya hingga terjatuh dalam perbuatan kemaksiatan, janganlah hal itu membuatnya berputus asa dari rahmat Allah. Hendaklah ia segera bangkit dan bertaubat kepada Allah atas dosa-dosanya karena Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada waktu malam untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada waktu siang. Dan Allah membentangkan tangan-Nya pada waktu siang untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada waktu malam hingga matahari terbit dari barat.” (HR. Muslim). Janganlah ia menuruti bisikan syetan bahwa dirinya adalah makluk yang sudah terlalu kotor dan terlalu banyak dosa hingga tidaklah mungkin Allah menerima taubatnya, akan tetapi hendaklah ia mengingat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah gembira menerima taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian ketika menemukan kembali ontanya yang hilang di padang yang luas.” (HR. Bukhari dan Muslim). Mudah-mudahan Allah senantiasa membimbing kita dan menjadikan amalan-amalan kita sesuai dengan yang Dia ridhoi.

Dikirim pada 23 Juni 2009 di Ayah, Ibu Inilah Aku..

“ Dan janganlah Engkau hinakan aku (Ibrahim) pada hari mereka (musyrikin) dibangkitkan. Pada hari (dimana) harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang-orang yang mendatangi Allah dengan hati yang salim (bersih dan selamat)” [QS. Asy-Syu’ara : 88-89]. Demikianlah Ibrahim Khalilullah berdo’a kepada Rabb semesta alam tatkala mengingkari ayahnya bersama kesyirikan dan aqidah kufurnya. Dan tidak diragukan lagi bahwa hati yang salim dalam ayat tersebut adalah hati yang sesak dengan sinar Tauhid dan selamat dari kegelapan syirik dan segala macam bentuk kekufuran. Namun Iblis dan bala tentaranya tak pernah bosan menjalankan misi mereka untuk menjauhkan hamba-hamba Ar-Rahman dari hati yang salim. Dan SYI’AH adalah salah satu produk mereka untuk misi keji tersebut.
Kami angkat risalah ini (Insya Allah secara ber-seri) kehadapan pembaca, untuk menjabarkan secara mendetail sebuah tatanan konspirasi Yahudi melalui agama Syi’ah yang sepintas lalu menampakkan label Islam yang pada hakikatnya merupakan seruan untuk berbondong-bondong menuju panasnya Jahannam. Dikarenakan pula wabah Syi’ah yang kini semakin merebak di tengah-tengah ummat khususnya di Lombok. Telah sampai kepada kami informasi bahwa pada sebuah penampungan imigran di Lombok terdapat 158 Syi’i (orang Syi’ah). Maka kita tidak perlu heran kalau mereka lari dari peperangan dan taman surga yang dijanjikan Allah bagi mereka yang terbunuh dalam perang karena-Nya, sebab mereka adalah orang-orang munafik hasil didikan Yahudi untuk menggembosi pejuang-pejuang Islam. Dan pada seri yang pertama ini kami hadirkan kepada pembaca tentang cikal bakal munculnya Syi’ah sebagai pengantar untuk menyelami hakikat mereka lebih dalam lagi dan mengungkap borok-borok mereka kepada ummat. Semoga kita dapat menjumpai Allah dengan hati yang salim.



Prakarsa seorang Yahudi menelurkan Syi’ah

Adalah orang-orang Yahudi yang pertama kali menebarkan racun di dalam agama Islam ini untuk memalingkan putra-putra Islam dari agama dan aqidah yang lurus. Dan adalahAbdullah bin Saba’ seorang Yahudi gembong munafik yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keislaman yang geram melihat Islam tersiar dan tersebar di jazirah Arab, di Imperium Romawi, negeri-negeri Persia sampai ke Afrika dan masuk jauh di Asia, bahkan sampai berkibar di perbatasan-perbatasan Eropa. Ibnu Saba’ ingin menghadang langkah Islam supaya tidak mendunia dengan merencanakan makar bersama Yahudi San’a(Yaman) untuk mengacaukan Islam dan ummatnya. Mereka menyebarkan orang-orangnya termasuk Ibnu Saba’ sendiri ke berbagai wilayah Islam termasuk ibukota Khalifah, Madinah Nabawiyah. Mereka mulai menyulut fitnah dengan memprovokasi orang-orang lugu dan berhati sakit untuk menentang Khalifah Utsman. Pada waktu itu juga memperlihatkan rasa cinta kepada ‘Ali bin Abi Thalib Rhadhiallahu ‘anhu. Mereka mengaku dan mendukung kelompok ‘Ali, padahal ‘Ali tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.

Fitnah ini terus menggelinding. Mereka mencampur pemikiran mereka dengan aqidah-aqidah yang rusak. Dan mereka menyebut diri sebagai “Syi’ah ‘Ali” (pendukung ‘Ali), padahal ‘Ali membenci mereka bahkan ‘Ali sendiri telah menghukum mereka dengan siksaan yang pedih, begitu pula putra-putra dari keturunan ‘Ali membenci dan melaknat mereka, akan tetapi kenyataan ini ditutup-tutupi serta kemudian diganti secara lici dan keji.Pada waktu itu Persia (Majusi) juga menyimpan dendam kesumat karena di zaman Khalifah ‘Umar bin Khattab negeri kufur mereka hancur di saat puncak kejayaannya oleh ‘Umar sendiri, demikian pula Yahudi yang diusir dari Madinah oleh beliau. Maka bertemulah Majusi dan Yahudi menyatukan rencana mereka untuk menumpas Islam dari dalam.

Pengakuan tokoh-tokoh besar Syi’ah

Seorang ‘Ulama Syi’ah pada abad 3 H Abu Muhammad Al-Hasan bin Musa An-Nubakhtimengatakan dalam kitabnya “Firaq Asy-Syi’ah” : “Abdullah bin Saba’ adalah orang yang menampakkan cacian kepada abu Bakar, ‘Umar dan Utsman serta para sahabat, ia berlepas diri dari mereka dan mengatakan bahwa ‘Ali telah memerintahkannya berbuat demikian. Maka ‘Ali menangkapnya dan menanyakan tentang ucapannya itu, ternyata ia mengakuinya, maka ‘Ali memerintahkan untuk membunuhnya. Orang-orang berteriak kepada ‘Ali, “Wahai Amirul mukminin! Apakah Anda akan membunuh seorang yang mengajak untuk mencintai Anda, ahlul bait, keluarga Anda dan mengajak untuk membenci musuh-musuh Anda?” Maka ‘Ali mengusirnya ke Madain (ibukota Iran waktu itu). Dan sekelompok ahli ilmu dari sahabat ‘Ali mengisahkan bahwa Ibnu Saba’ adalah seorang Yahudi lalu masuk Islam dan menyatakan setia kepada ‘Ali. Ketika masih Yahudi ia berkata bahwa Yusa’ bin Nun adalah Washi (penerima wasiat) dari Nabi Musa ‘Alaihissalam -secara berlebihan- kemudian ketika Islamnya, setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ia mengatakan tentang ‘Ali sebagai penerima wasiat dari Rasulullah (sebagaimana Musa kepada Yusa’ bin Nun). Dia adalah orang pertama yang menyebarkan faham tentangImamah ‘Ali, menampakkan permusuhan terhadap musuh-musuh ‘Ali (yang tidak lain adalah para Sahabat yang dicintai ‘Ali) dan mengungkap para lawannya. Dari sanalah orang-orang diluar Syi’ah mengatkan bahwa akar masalah “Rafdh” (menolak selain Khalifah ‘Ali) diambil dari Yahudi. Ketika kabar kematian ‘Ali sampai ke telinga Ibnu Saba’ di Madain dia berkata kepada yang membawa berita duka, “Kamu berdusta, seandainya engkau datang kepada kami dengan membawa (bukti) otaknya yang diletakkan dalam 70 kantong dan saksi sebanyak 70 orang yang adil, kami tetap meyakini bahwa dia (‘Ali) belum mati dan tidak terbunuh. Dia tidak mati sebelum mengisi bumi dengan keadilan.”

Demikianlah ucapan orang yang dipercaya oleh semua orang Syi’ah dalam bukunya “Firaq Asy-Syi’ah” [hal. 43-44. Cet Al-Haidariyah,Najef 1379 H]. Ucapan senada juga diungkapkan oleh Abu Umar Al-Kasysyi, ulama Syi’ah abad 4 H dalam bukunya yang tersohor “Rijal Al-Kasysyi” [hal. 101. Mu’assasah Al-A’lami. Karbala Iraq].

Kini setelah lebih dari seribu tahun sebagian Hakham (pemimpin ulama) Syi’ah mengingkari keberadaan sosok Ibnu Saba’ dengan tujuan supaya tidak terbongkar kebusukan mereka. Di antara yang mengingkarinya adalah Muhammad Al-Husain Ali Kasyf Al-Ghitha di dalam kitabnya “Ashl Asy-Syi’ah wa ashuluha.” Namun anehnya banyak sekali kitab-kitab Syi’ah yang mengukuhkan tentang keberadaan Ibnu Saba’ sebagai peletak batu pertama agama Syi’ah. Sebagian ulama Syi’ah kontemporer telah mengubah pola mereka dan mulai mengakui adanya tokoh Ibnu Saba’, setelah bukti tampak di depan mata mereka dan tidak bisa lagi mengelak. Mengelak harganya sangat mahal bagi mereka sebab konsekuensinya adalah menganggap cacat sumber-sumber agama mereka.karena itu Muhammad Husain Az-Zen seorang Syi’ah kontemporer mengatakan, “Bagaimanapun juga Ibnu Saba’ memang ada dan dia telah menampakkan sikap ghuluw (melampaui batas), sekalipun ada yang meragukannya dan menjadikannya tokoh dalam khayalan. Adapun kami sesuai dengan penelitian terakhir maka kami tidak meragukan keberadaannya dan ghuluwnya.” [Asy-Syi’ah wa At-Tarikh, hal. 213].

Kemiripan dua saudara kembar,Syi’ah dan Yahudi

Persinggungan antara aqidah Syi’ah dan aqidah Yahudi yang kotor itu bisa dilihat dari poin-poin berikut :

Yahudi telah mengubah-ubah Taurat, begitu pula Syi’ah mereka punya Al-Qur’an hasil kerajinan tangan mereka yakni “Mushaf Fathimah” yang tebalnya 3 kali Al-Qur’an kaum Muslimin.Mereka menganggap ayat Al-Qur’an yang diturunkan berjumlah 17.000 ayat, dan menuduh Sahabat menghapus sepuluh ribu lebih ayat
Yahudi menuduh Maryam yang suci berzina [QS. Maryam : 28], Syi’ah melakukan hal yang sama terhadap istri Rasulullah ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha sebagaimana yang diungkapkan Al-Qummi (pembesar Syi’ah) dalam “Tafsir Al-Qummi (II 34)”
Yahudi mengatakan, “kami tidak akan disentuh oleh api neraka melainkan hanya beberapa hari saja”. [QS. Al-Baqarah : 80] Syi’ah lebih dahsyat lagi dengan mengatakan, “Api neraka telah diharamkan membakar setiap orang Syi’ah”sebagaimana tercantum dalam kitab mereka yang dianggap suci “Fashl Kitab (hal.157)”
Yahudi meyakini bahwa, Allah mengetahui sesuatu setelah tadinya tidak tahu, begitu juga dengan Syi’ah
Yahudi beranggapan bahwa ucapan “amin” dalam shalat adalah membatalkan shalat. Syi’ah juga beranggapan yang sama.
Yahudi berkata, “Allah mewajibkan kita lima puluh shalat” Begitu pula dengan Syi’ah.
Yahudi keluar dari shalat tanpa salam,cukup dengan mengangkat tangan dan memukulkan pada lutut. Syi’ah juga mengamalkan hal yang sama.
Yahudi miring sedikit dari kiblat, begitu pula dengan Syi’ah.
Yahudi berkata “Tidak layak (tidak sah) kerajaan itu melainkan di tangan keluarga Daud”. Syi’ah berkata,” tidak layak Imamah iut melainkan pada ‘Ali dan keturunanannya”
Yahudi mengakhirkan Shalat hingga bertaburnya bintang-bintang di langit. Syi’ah juga mengakhirkan Shalat sebagaimana Yahudi
Yahudi mengkultuskan Ahbar (‘ulama) dan Ruhban (para pendeta) mereka sampai tingkat ibadah dan menuhankan.Syi’ah begitu pula, bersifat Ghuluw (melampaui batas) dalam mencintai para Imam mereka dan mengkultuskannya hingga di atas kelas manusia.
Yahudi mengatakan Ilyas dan Finhas bin ‘Azar bin Harun akan kembali (reinkarnasi) setelah mereka bedua meninggal dunia. Syi’ah lebih seru, mereka menyuarakankembalinya (reinkarnasinya) ‘Ali, Al-Hasan, Al-Husain, dan Musa bin Ja’far yang dikhayalkan itu.
Yahudi tidak Shalat melainkan sendiri-sendiri, Syi’ah juga beranggapan yang sama, ini dikarenakan mereka meyakini bahwa tidak ada Shalat berjama’ah sebelum datangnya “Pemimpin ke-dua belas” yaitu Imam Mahdi.
Yahudi tidak melakukan sujud sebelum menundukkan kepalanya berkali-kali, mirip ruku. Syi’ah Rafidhah juga demikian.
Yahudi menghalalkan darah setiap muslim. Demikian pula Syi’ah, mereka menghalalkan darah Ahlussunnah.
Yahudi mengharamkan makan kelinci dan limpa dan jenis ikan yang disebut jariudan marmahi. Begitu pula orang-orang Syi’ah.
Yahudi tidak menghitung Talak sedikitpun melainkan pada setiap Haid. Begitu pula Syi’ah.
Yahudi dalam syari’at Ya’qub membolehkan nikah dengan dua orang wanita yang bersaudara sekaligus. Syi’ahjuga membolehkan penggabungan (dalam akad nikah) antara seorang wanita dengan bibinya.
Yahudi tidak menggali liang lahad untuk jenazah mereka. Syi’ah Rafidhah juga demikia.
Yahudi memasukkan tanah basah bersama-sama jenazah mereka dalam kain kafannya demikian juga Syi’ah Rafidhah.
Yahudi tidak menetapkan adanya jihad hingga Allah mengutus Dajjal. Syi’ah Rafidhah mengatakan,”tidak ada jihad hingga Allah mengutus Imam Mahdi datang.
[kitab Badzl Al-majhud fi Itsbat musyabahah Ar-Rafidhah li Al-Yahud , oleh Abdullah Al-jamili]

Ini adalah setetes air dari luasnya samudra tentang kemiripan mereka dengan Yahudi, karena sesungguhnya Syi’ah merupakan aqidah campuran dari Yahudi, Nashrani, Persi (Majusi), Romawi dan Hindu. Mereka aduk unsur-unsur itu bagaikan adonan lalu dituangkan dalam satu cetakan kemudian diletakkan dalam suatu kemasan dan disajikan dengan nama “Syi’ah”.Maka jelaslah sudah, sebagaimana jelasnya mentari yang tak diselimuti awan bahwa “ Syi’ah adalah Yahudi dan Yahudi adalah Syi’ah”. Akan lebih jelas lagi bagi Anda tentang apa dan bagimana Syi’ah dalam andilnya menghancurkan Islam Serta membuka jalan bagi musuh-musuh Islam jika Anda menyimak seri-seri selanjutnya tentang Syi’ah.

Nantikan seri : “Mengenal Agama Syi’ah” berikutnya yang berisikan:

“Menyelami gelapnya aqidah Syi’ah”
“Kawin Kontrak, Taqiyah. ritual kaum Syi’ah”
“Tikaman Syi’ah terhadap Sahabat”
“Syi’ah, membuat kita tertawa, marah dan menangis”
“Salafiyyin Rabbani menelanjangi Syi’ah”
“Syi’ah di Indonesia. Studi tokoh, gerakan dan media dakwah mereka”
“Bahaya taqrib (Pendekatan Sunnah-Syi’ah)”
Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi “Asy-Syi’ah minhum ‘alaihim



Dikirim pada 23 Juni 2009 di SYI’AH = YAHUDI )* « Hakikat Syiah Rafidhah


Prakarsa Seorang Yahudi Menelurkan Syiah

Orang-orang Yahudi adalah yang pertama kali menebarkan racun di dalam agama Islam untuk memalingkan putra-putra Islam dari agama dan akidah yang lurus. Dan adalah Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi gembong munafik yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keislaman. Dia geram melihat Islam tersiar dan tersebar di jazirah Arab, di Imperium Romawi, negeri-negeri Persia sampai ke Afrika dan masuk jauh di Asia, bahkan sampai berkibar di perbatasan-perbatasan Eropa.





Ibnu Saba’ ingin menghadang langkah Islam supaya tidak mendunia. Karenanya, ia merencanakan makar bersama Yahudi San’a (Yaman) untuk mengacaukan Islam dan ummatnya. Mereka menyebarkan orang-orangnya termasuk Ibnu Saba’ sendiri ke berbagai wilayah Islam, termasuk ibukota Khalifah, Madinah. Mereka mulai menyulut fitnah dengan memprovokasi orang-orang lugu dan berhati sakit untuk menentang Khalifah Utsman t. Pada waktu itu juga mereka memperlihatkan rasa cinta kepada Ali bin Abi Thalibt.Mereka mengaku sebagai pendukung kelompok Ali t, padahal Ali t tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.

Fitnah ini terus menggelinding. Mereka mencampur pemikiran mereka dengan akidah-akidah yang rusak. Dan mereka menyebut diri sebagai “Syiah Ali” (pendukung Ali), padahal Ali membenci mereka bahkan Ali sendiri telah menghukum mereka dengan siksaan yang pedih. Begitu pula putra-putra dari keturunan Ali membenci dan melaknat mereka. Tapi, kenyataan ini ditutup-tutupi serta kemudian diganti secara licik dan keji.

Pengakuan Tokoh-tokoh Besar Syiah

Seorang ‘Ulama Syiah pada abad ke-3 Hijriyah, Abu Muhammad Al-Hasan bin Musa An-Nubakhti mengatakan dalam kitabnya, “Abdullah bin Saba’ adalah orang yang menampakkan cacian kepada Abu Bakar, ‘Umar dan Utsman serta para sahabat, ia berlepas diri dari mereka dan mengatakan bahwa Ali telah memerintahkannya berbuat demikian. Maka Ali menangkapnya dan menanyakan tentang ucapannya itu. Ternyata ia mengakuinya, maka Ali memerintahkan untuk membunuhnya. Orang-orang berteriak kepada Ali, “Wahai Amirul mukminin! Apakah Anda akan membunuh seorang yang mengajak untuk mencintai Anda, ahlul bait, keluarga Anda dan mengajak untuk membenci musuh-musuh Anda?” Maka Ali mengusirnya ke Madain (ibukota Iran waktu itu).

Dan sekelompok ahli ilmu dari sahabat Ali mengisahkan bahwa Ibnu Saba’ adalah seorang Yahudi lalu masuk Islam dan menyatakan setia kepada Ali. Ketika masih Yahudi ia berkata bahwa Yusa’ bin Nun adalah washi(penerima wasiat) dari Nabi Musa u—secara berlebihan. Kemudian ketika Islamnya, setelah wafatnya Rasulullah r, ia mengatakan tentang Ali sebagai penerima wasiat dari Rasulullah (sebagaimana Musa kepada Yusa’ bin Nun).

Dia adalah orang pertama yang menyebarkan faham tentang Imamah Ali,menampakkan permusuhan terhadap musuh-musuh Ali (yang tidak lain adalah para sahabat yang dicintai Ali) dan mengungkap para lawannya. Dari sanalah orang-orang di luar Syiah mengatakan bahwa akar masalah “Rafdh”(menolak selain Khalifah Ali) diambil dari Yahudi.

Ketika kabar kematian Ali sampai ke telinga Ibnu Saba’ di Madain dia berkata kepada yang membawa berita duka, “Kamu berdusta, seandainya engkau datang kepada kami dengan membawa (bukti) otaknya yang diletakkan dalam 70 kantong dan saksi sebanyak 70 orang yang adil, kami tetap meyakini bahwa dia (Ali) belum mati dan tidak terbunuh. Dia tidak mati sebelum mengisi bumi dengan keadilan.”

Demikianlah ucapan orang yang dipercaya oleh semua orang Syiah dalam bukunya “Firaq Asy-Syiah” (hal. 43-44. Cet Al-Haidariyah, Najef 1379 H).

Kini setelah lebih dari seribu tahun sebagian pemimpin ulama Syiah mengingkari keberadaan sosok Ibnu Saba’ dengan tujuan supaya tidak terbongkar kebusukan mereka.

Namun di sisi lain, banyak kitab-kitab Syiah yang mengukuhkan tentang keberadaan Ibnu Saba’ sebagai peletak batu pertama agama Syiah. Sebagian ulama Syiah kontemporer telah mengubah pola mereka dan mulai mengakui adanya tokoh Ibnu Saba’, setelah bukti tampak di depan mata mereka dan tidak bisa lagi mengelak. Mengelak harganya sangat mahal bagi mereka sebab konsekuensinya adalah menganggap cacat sumber-sumber agama mereka. Karena itu, Muhammad Husain Az-Zen seorang Syiah kontemporer mengatakan, “Bagaimanapun juga Ibnu Saba’ memang ada dan dia telah menampakkan sikap ghuluw (melampaui batas), sekalipun ada yang meragukannya dan menjadikannya tokoh dalam khayalan. Adapun kami sesuai dengan penelitian terakhir maka kami tidak meragukan keberadaannya dan ghuluwnya.” (Asy-Syiah wa At-Tarikh, hal. 213).

Kemiripan Dua Saudara Kembar, Syiah dan Yahudi

Lahir dari Yahudi, menjadikan Syiah dan Yahudi memiliki banyak persamaan. Di antaranya:

1. Yahudi telah mengubah-ubah Taurat, begitu pula Syiah, mereka punya Al-Qur’an hasil kerajinan tangan mereka yakni “Mushaf Fathimah” yang tebalnya 3 kali Al-Qur’an kaum Muslimin. Mereka menganggap ayat Al-Qur’an yang diturunkan berjumlah 17.000 ayat, dan menuduh sahabat menghapus sepuluh ribu ayat lebih.

2. Yahudi menuduh Maryam yang suci berzina (QS. Maryam: 28), Syiah melakukan hal yang sama terhadap istri Rasulullah r ‘Aisyah—radhiallahu ‘anha—sebagaimana yang diungkapkan Al-Qummi (pembesar Syiah) dalamTafsir Al-Qummi (II/34).

3. Yahudi mengatakan, “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka melainkan hanya beberapa hari saja.” (QS. Al-Baqarah: 80). Syiah lebih dahsyat lagi dengan mengatakan, “Api neraka telah diharamkan membakar setiap orang Syiah”, sebagaimana tercantum dalam kitab mereka yang dianggap suci Fashl Kitab (hal.157).

4. Yahudi meyakini, Allah mengetahui sesuatu setelah terjadinya sesuatu itu padahal Allah tadinya tidak tahu, begitu juga dengan Syiah. Orang-orang Syiah menyebutnya sebagai akidah al bada’.

Abu Abdillah berkata, "Seseorang belum dianggap beribadah kepada Allah sedikit pun, hingga ia mengakui adanya sifat bada’ bagi Allah." (Ushulul Kafi fi Kitabit Tauhid: 1/331).

Bayangkan, mereka menisbahkan kebodohan kepada Allah yang telah berfirman,
"Katakanlah, "Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Allah." (QS. An-Naml: 65).

Sementara di sisi lain, mereka berkeyakinan bahwa para imam mereka mengetahui segala ilmu pengetahuan dan tak ada sedikit pun yang samar baginya.

Al Kulaini, seorang ulama paling terpercaya di kalangan Syiah berkata di dalam bukunya, "Bab bahwa para imam mengetahui ilmu yang telah dan akan terjadi, dan tidak ada sesuatu apa pun yang tersembunyi bagi mereka." (Al Kafi: 1/261).

5. Yahudi berkata “Tidak layak (tidak sah) kerajaan itu melainkan di tangan keluarga Daud.” Syiah berkata, ”Tidak layak Imamah itu melainkan pada Ali dan keturunannya.”

6. Yahudi menghalalkan darah setiap muslim. Demikian pula Syiah, mereka menghalalkan darah Ahlussunnah/Sunni.

7. Yahudi tidak menetapkan adanya jihad hingga Allah mengutus Dajjal. Syiah Rafidhah mengatakan,”Tidak ada jihad hingga Allah mengutus Imam Mahdi datang.”

8. Orang-orang Yahudi memberikan kepemimpinan kepada anak keturunan Nabi Harun u, bukan keturunan Nabi Musa u. Demikian pula orang-orang Syiah, mereka memberikan kepemimpinan kepada keturunan Al Husein t, bukan Al Hasan t.

Dalam riwayat orang-orang Syiah disebutkan, dari Hisyam bin Salim, dia berkata, “Aku berkata kepada Ash-Shadiq Ja’far bin Muhammad—‘alaihimas salam, manakah yang lebih utama Al Hasan atau Al Husein?” Maka dia berkata, “Al Hasan lebih utama dari Husein.” Aku berkata, “Lalu bagaimana bisa imamah setelah Al Husein ditampuk keturunan Al Husein, bukan keturunan Al Hasan?” Maka Ja’far berkata, “Sesungguhnya Allah—Tabaraka wa Ta’ala—menyukai jika sunnah Musa dan Harun berlaku kepada Al Hasan dan Al Husein—‘alaihimas salam. Apakah engkau tidak melihat bahwasanya Musa dan Harun itu keduanya adalah nabi? Demikian pula Al Hasan dan Al Husein, keduanya adalah imam. Tapi, Allah U menjadikan nubuwwah bagi keturunan Harun, bukan Musa, walaupun Musa lebih afdhal dari Harun—‘alaihimas salam.

9. Syiah Imamiyah menetapkan 12 imam mereka untuk menyerupai jumlah pemimpin dari kalangan Bani Israil, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al Maidah: 12.

10. Orang-orang Yahudi membenci Jibril. Mereka mengatakan bahwa Jibril adalah musuh kita dari kalangan malaikat. Adapun Syiah berkata, Jibril telah keliru dalam menyampaikan wahyu kepada Rasulullah r. Mereka juga berkata, “Sesungguhnya Jibril u telah berkhianat ketika menyampaikan wahyu kepada Muhammad r, padahal sepantasnya dan yang lebih berhak adalah Ali bin Abi Thalib t.”

Inilah Syiah, bagaimana bisa mereka menuduh Jibrilu berkhianat, padahal Allah I telah menyifatinya dengan al amin (yang dapat dipercaya) dalam firman-Nya, “Yang dibawa turun oleh ar-Ruh al Amin (Jibril).” (QS. As-Syu’ara: 193).

11. Yahudi sangat keras memusuhi kaum Muslimin, firman Allah I, artinya:“Pasti kamu akan dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS. Al Maidah: 82).

Demikian pula dengan orang-orang Syiah, sangat memusuhi ahlus sunnah waljamaah, bahkan menganggap mereka sebagai najis.

12. Yahudi dan Syiah, keduanya tidak bersifat adil dalam memberikan kecintaan dan kebencian. Di satu sisi, Yahudi bersifat ghuluw terhadap sebagian nabi dan orang-orang shaleh mereka. Mereka menempatkannya sebagai sembahan yang diagungkan. Seperti perkataan mereka yang dikutip dalam al Qur’an, “’Uzair anak Allah.” (Qs. At-Taubah: 30). Namun di sisi lain, mereka mencela sebagian nabi dan menuduh mereka sebagai penjahat. Demikian

pula dengan Syiah, Anda melihat mereka berlebih-lebihan mengagungkan Ali tdan sebagian keturunan beliau, bahkan menempatkan mereka sebagai sembahan dan berkeyakinan bahwa Allah I bersatu dalam dzat mereka. Namun di sisi lain, mereka mencela sahabat dan kaum Muslimin. Menuduh mereka munafik dan kafir.

Meski banyak memiliki persamaan, Yahudi dan Nasrani telah selangkah lebih maju dari Syiah dalam hal etika. Ketika orang-orang Yahudi ditanya, “Siapa penganut terbaik agama kalian?” Mereka menjawab, “Sahabat-sahabat Musa.” Orang-orang Nashrani pun ditanya dengan pertanyaan yang sama, jawaban mereka, “ Para penolong ‘Isa.” Dan ketika orang-orang Syiah ditanya, “Siapa pengikut paling durhaka dari agama kalian?” Mereka menjawab, “Sahabat-sahabat Muhammad.”

Bagi mereka firman Allah I, artinya: “Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Kitab (Taurat)? Mereka percaya kepada Jibt dan Thagut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir, bahwa mereka itu lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah. Dan barangsiapa dilaknat Allah, niscaya engkau tidak akan mendapatkan penolong baginya.” (QS. An-Nisaa’: 51-52). Al Fikrah No. 20 Tahun X/28 Jumada al Akhirah 1430 H

Wallahul Haadi ilaa Aqwamith Thoriq

Dari berbagai sumber






Dikirim pada 23 Juni 2009 di SYI’AH = YAHUDI )* « Hakikat Syiah Rafidhah

Tiap Suku Mempunyai Tempat Minum Masing-Masing

Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing.”
(QS. Al A’raf: 160).


Ketidaksempurnaan adalah hal yang biasa dan pasti ada pada diri seorang makhluk yang bernama manusia biasa. Itu adalah ketentuan-Nya yang tentu saja dibalik itu terkandung hikmah yang sangat banyak meski oleh sebagian kita kadang menganggapnya sebagai kekurangan bahkan kehinaan pada kondisi tertentu. Tiap manusia punya celah, punya kekurangan tak berbilang, namun tiap manusia pasti mempunyai kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh manusia lainnya.


Dalam konteks kemasyarakatan, keanekaragaman adalah lumrah bahkan memang sudah seharusnya begitu agar hidup tetap seimbang. Beranekaragamnya keahlian, minta, bakat, profesi, keinginan, kemampuan dan sebagainya adalah tanda kebesaran Allah. Kita tidak bisa bayangkan jika semua orang dalam satu keinginan, misalnya semua ingin pekerjaan yang sama karena keahlian mereka sama, yakin kehidupan akan kacau, dan pincang dan mungkin lumpuh sama sekali.


Nyatanya tidak semua bisa kita peroleh atau mengerjakannya sendiri meski perbendaharaan langit dan bumi kita milik tapi harus ada pihak ketiga yang kita dan mereka saling membutuhkan. Pasti, karena kita memang tidak sempurna.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengibaratkan kaum muminin ibarat satu tubuh, dimana dalam berbagai keadaan semua organ harusnya turut andil, punya kontribusi tanpa kecuali. Dalam satu tubuh yang lengkap mesti ada yang menjadi kaki, tangan, kepala, hidung telinga, mata dan seterusnya. Semua menikmati apapun posisi mereka dan qanaah dengan tugas masing-masing.

Seharusnya begitulah kaum muslimin, perbedaan tugas, strata, keahlian tidaklah dipandang sebagai bahan berpecah, apalagi untuk hasad atau memandang remeh yang lain.Selama berpijak di atas pondasi tauhid, tak layak ‘tubuh’ itu diceraiberaikan.

Arogan, mau menang sendiri, merasa paling benar dan jago adalah godam peretak sendi-sendi penghubung ‘tubuh’ itu. Tapi mau tak mau harus diakui semua harus merasakan perih, sakit ketika salah satu organ teramputasi. Mereka harus buta jika kehilangan mata, mereka akan pesot jika kaki tidak ada. Karena tangan bukan untuk berjalan, dan telinga hanya untuk mendengar bukan untuk melihat.

Dalam lingkup keluarga, lembaga, antar lembaga, komunitas hingga kaum muslimin seluruhnya panganalogian di atas tetap berlaku. Misalnya dalam suatu lembaga atau organisasi meski orang-orang yang berada di dalamnya mempunyai pandangan yang sama tetapi mereka harus siap melakoni peran yang berbeda sesuai dengan keahlian dan kecenderungannya masing-masing. Sekecil apapun peran itu dan serendah apapun tingkatannya tapi mereka semua tidak bisa diabaikan, mereka semua berjasa dan mereka semua adalah ‘pahlawan’.

Dalam lingkup yang lebih makro, antar organisasi Islam misalnya, maka kitapun mendapati sesuatu yang lebih plural, meski sekali lagi mempunyai visi yang sama tapi di tengah kehidupan dan problem yang kompleks tak semua akan memilih dan memiliki misi yang sama. Mereka adalah manusia-manusia biasa yang tidak bisa mengerjakan semuanya.

Yah, kaum muslimin tanpa terkecuali tak bisa dipisahkan, kita semua saling membutuhkan untuk saling melengkapi. Kadang perbedaan adalah anugerah yang harus disyukuri bukan untuk disesali, dicela atau saling mencari celah yang hanya akan menghilangkan berkah dan malah membuat lumpuh. Kebenaran sudah jelas, begitupun sumber dan sandarannya, ketika ada yang tersalah maka kewajiban untuk saling islah dengan hikmah. Dan ketika ada yang berbeda bukan berarti serta merta sesat atau menyempal, sebab mungkin saja kita minum dari mata air yang sama tapi ditempat yang berbeda, karena memang “tiap suku mempunyai tempat minum masing-masing.” Wallahu Ta’ala A’lam.



Ayah, Ibu Inilah Aku..

Anak sholeh merupakan dambaan setiap orang tua, kesholehan seorang anak sangat dipengaruhi oleh andil kedua orang tuanya. Tapi tidak jarang seorang anak menjadi durhaka juga disebabkan karena kelalaian kedua orang tuanya.
Harapan pada kebaikan seorang anak membutuhkan nafas yang panjang, tidak cepat puas dengan kesholehannya dan juga tidak putus asa dengan kedurhakaannya. Kekeliruan dalam pembinanan, serta porsi waktu yang kurang merupakan kegagalan yang mendasar dalam pembentukan kepribadian seorang anak.


Dalam upaya penyempurnaan kepribadian anak, orang tua hendaknya bisa memahami sifat fitrah dari anaknya, olehnya itu kelapangan dada dan kesabaran tinggi sangat dibutuhkan. Diantra sifat fitrah seorang anak yaitu :

1. Tidak senang jika tidak dipercaya

Allah Ta’ala telah menciptakan naluri harga diri pada setiap manusia, sebagaimana dalam firman-Nya : “….dan sungguh Kami telah memuliakan anak-anak adam” . (Qs 17:70). Sejak kecil manusia telah memiliki tuntutan untuk dihargai oleh orang lain. Anak-anak pun demikian adanya keinginan dihargai oleh orang tua. Penghargaan yang diharapkannya dari kedua orang tuanya minimal rasa percaya, terutama bila anak-anak telah dewasa dan telah mampu berbuat sendiri.

Anak merasa kehilangan kemandirian bila orang tuanya selalu mengendalikan atau mengarahkan atau menggurui apa yang akan dikerjakan olehnya. Anak yang telah mampu berpikir mandiri sangat mendambakan orang tuanya melepaskan dirinya untuk mendapatkan pengalaman sendiri dalam kehidupannya, hal ini untuk menyatakan jati dirinya kepada orang lain. Disinilah diperlukan sikap obyektif orang tua menanggapi sikap anaknya. Anak yang berhasil memperoleh kepercayaan orang tuanya maka ia merasa dirinya sangat dihargai.

Allah Ta’ala telah memberikan contoh kepada orang tua akibat ketidak percayaannya kepada anaknya, didalam Al-qur’an Allah berfirman : “ Mereka anak-anak ya’kub berkata : Wahai Ayah kami mengapa engkau tidak mempercayai kami tentang yusuf, padahal kami sungguh-sungguh berlaku jujur kepadanya.” (QS 12 : 11). Contoh yang Allah kemukakan dalam kasus putra-putra Nabi Ya’qub yang ingin membawa Yusuf bermain-main bersama mereka ke tengah padang pasir adalah sesuatu yang sangat fitrah. Walaupun masalahnya sangat sederhana, yaitu mengajak adiknya untuk bermain-main ditempat yang jauh, tetapi karena orang tuanya tidak mau mempercayai apa yang hendak dilakukan terhadap adiknya, maka hal ini membuat mereka bersedih.

Adanya fitrah anak tidak senang kalau tidak dipercayai oleh orang tuanya, hendaknya menjadi petunjuk dalam membina hubungan dengan anak, rasa percaya orang tua kepada anak dapat membantu membina kepribadiannya yang baik. Sebaliknya, sikap orang tua yang tidak percaya kepada anaknya atau kejujurannya dapat mengganggu sikap percaya diri anak.

2. Senang diperlakukan secara dewasa

Pada usia baligh, pada diri seorang anak akan muncul fitrah atau naluri kemampuan mempertimbangkan secara rasional apa yang dilakukan bagi dirinya sendiri. Oleh karena itu, pada saat seperti ini seorang anak menuntut orang lain, baik orang tuanya maupun orang luar untuk memperlakukannya secara dewasa. Bersamaan dengan itu juga anak tidak akan menerima perlakuan otoriter, doktriner, pemaksaan maupun serba membeo kepada orang lain. Segala hal yang mereka lakukan dituntut penjelasan secara masuk akal.

Allah Ta’ala memperlihatkan kembali kepada para orang tua bagaimana sikap Nabi Ibrahim kepada putranya Ismail sebagaimana dalam firman-Nya : “Maka tatkala anak itu sampai (umur) sanggup berusaha bersama-sama ibrahim, ibrahim berkata: “ Wahai anakku tercinta, sungguh aku telah melihat dalam mimpiku bahwa aku benar-benar menyembelihmu. Karena itu, pikirkanlah, bagaimana pendapatmu”? Jawabnya : “Wahai ayahku tercinta, lakukanlah yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan dapati diriku termasuk orang-orang yang bersabar.” (Qs 37;102). Ketika Nabi Ibrahim mengahadapi Ismail yang mulai menginjak dewasa, beliau menyadari adanya tuntutan fitrah terhadap anaknya untuk diperlakukan secara dewasa.

Oleh karena itu, dalam menyampaikan perintah Allah yang menyangkut dirinya dengan putranya, Nabi ibrahim menggunakan cara yang demokratis. Yaitu Ismail diminta pendapatnya terlebih dahulu tentang sesuatu yang akan dilakukan ayahnya terhadap dirinya, Ismail pun menerima hal tersebut secara totalitas karena beliau paham bahwa hal ini merupakan wahyu Ilahi yang akan mengangkat martabat diri dan ayahnya disisi Allah Ta’ala.

Orang tua yang memperlakukan anaknya secara dewasa akan memudahkannya untuk berkomunikasi dengan anaknya, persoalan apapun yang hendak dibebankan orang tua kepada putra-putrinya insya Allah akan berhasil dengan sangat baik

3. Tidak senang dianak-tirikan

Orang tua yang memiliki lebih dari satu anak harus menyadari adanya fitrah pada setiap diri anaknya. Setiap anak tidak senang dianak-tirikan dengan alasan apapun, Allah Ta’ala berfirman : “ (Ingatlah) ketika mereka (putra-putra Ya’qkub) berkata : “Yusuf dan saudara-saudaranya lebih dicintai oleh ayah daripada kita, padahal kita ini banyak. Ayah kita jelas sekali kekeliruannya.” (Qs 12: 8). Fitrah anak untuk menuntut orang tuanya memperlakukan dirinya secara adil diantara saudara-saudaranya telah Allah tanamkan sejak dahulu kala.

Kisah yang Allah ungkapkan dalam kasus Nabi Ya’qub dengan putra-putranya dari istri pertamanya merupakan contoh kongkrit sehingga kisah diatas bukan sekedar riwayat hidup perorangan melainkan pernyataan Allah yang berlaku universal pada fitrah semua anak. Sebagaimana orang tua mempunyai fitrah ingin anak-anaknya memuliakan dirinya dan berbakti kapadanya secara jujur dan ikhlas, maka anak-anak pun menghendaki orang tuanya berlaku jujur dan adil terhadap semua anaknya.

4. Senantiasa mengharapkan Do’a orang tua

Do’a merupakan ibadah yang agung dan mulia, didalam alqur’an Allah Ta’ala telah mengabadikan do’a para Nabi dan Rasul-Nya yang juga sebagai orang tua bagi anak-anaknya, yang menunjukkan akan kemulian ibadah do’a ini. Maka terlebih lagi kepada kedua orang tua harapan dan upaya pada kebaikan seorang anak hendaknya tidak melupakan yang satu ini.

Permintaan anak kepada kedua orang tuanya agar memohonkan ampunan kepada Allah merupakan cerminan jiwa anak, Allah Ta’la berfirman : “ Merka (putra-putra) Ya’qub berkata : “ Wahai Ayah kami yang tercinta, mohonkanlah pengampunan bagi kami dari dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami adalah orang yang berbuat dosa”. (QS 12: 97), ayat ini menjadi bukti bahwa apa yang dilakukan putra-putra Ya’qub ribuan tahun yang lalu, ternyata dilakukan juga oleh anak-anak pada masa kini, kerena itu patutlah bagi orang tua untuk selalu membantu anaknya dengan do’a agar mereka mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan.

Keempat fitrah anak ini, semoga menjadi rujukan kepada orang tua yang telah membina anaknya sekian lama, tetapi tidak juga memberikan hasil yang dapat dirasakannya. Terjadinya perilaku durhaka anak terhadap orang tua haruslah mendorong orang tua untuk melakukan instropeksi diri demi kebahagian diri dan anak-anaknya. Wallahul musta’an




Dikirim pada 18 Juni 2009 di Ayah, Ibu Inilah Aku..
Profile

“ Haji/Hajjah eko agus ini masih belum mau dikenal orang, mungkin masih malu. “ More About me

BlogRoll
Tag
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 146.277 kali


connect with ABATASA